Home / Artikel Pembaca / Menelisik ‘Future of Banking’

Menelisik ‘Future of Banking’

Oleh

Hendra Arbie

KETIKA Ibu Sari tidur, ponsel cerdasnya memberikan notifikasi  tantang pengapalan sudah ready, dan seketika eksportir memberitahu bank Ibu Sari memerlukan Letter of Credit. Pada saat yg bersamaan ponsel cerdas Ibu Sari menyetel alarm pukul 07.00 WIB pagi untuk bangun dan berkemas hendak ke bank. Lalu ponsel cerdas miliknya memberi tahu, kendaraan yang berisi bahan bakar yang penuh.

Ibu Sari sampai di kantor bank tanpa manusia tepat pukul 09.00 WIB, seketika kamera di bank mengenali ketibaan Ibu Sari  dan langsung menuju interaktif kios. Seketika sudah tersedia syarat untuk pembukaan LC, Ibu Sari diarahkan menuju kios lain, dan di kios tersebut LC Ibu Sari langsung disetujui. Eksportir menerima pembayaran, dan pengapalan disetujui. Jam menunjukkan pukul 09.15 WIB.

Seperti itulah gambaran perbankan masa depan. Dalam konteks ini gejala dan tanda-tanda ke arah sana  sudah mulai kelihatan. Di beberapa negara sudah diuji coba beroperasi kantor cabang bank, tanpa pegawai. untuk urusan tarik setor uang tunai, sudah ada beberapa mesin setor tarik.

Bill Gates pernah mengungkapkan, “Banking is necessary; banks are not.”

Menurut prediksi Bill Gates di masa mendatang. Bank tidak diperlukan, tapi perbankan masih diperlukan. Era disrupsi sudah mulai seperti Air BnB men-disrupsi perhotelan, taksi online sudah menggeser taksi bermeter, perusahaan ritel terdisrupsi oleh marketplace online.

Dalam bidang perbankan, fintech mulai menggerus ritel perbankan, mulai dari crowd funding, peer to peer lending, dan berbagai macam jenis fintech, yang mulai ‘menggerogoti’ bisnis perbankan.

Ada fintech peer to peer lending yang baru berdiri dua tahun tapi sudah bisa memutarkan uang Rp1 triliun. Ini berupa ancaman bagi perbankan baik sisi lending dan funding, dari sisi lending lebih mudah tidak berbelit, dari sisi funding amsyarakat akan menanamkan dana di fintech ini karena lebih tinggi return yang di dapat dari deposito.

Saya juga mencoba membuka rekening bank dengan hanya ponsel cerdas, tidak perlu datang ke kantor bank, dan sudah dapat bertransaksi seketika itu juga. Tidak beberapa lama kartu debit dikirim.

Nah bagaimana strategi bank konvensional?

Ke depan, bank konvensional ada yang mempunyai strategi bermacam-macam. Ada yang menerapkan 100% digital banking, ada yang mempertahankan ekosistem yang sudah terbentuk, ada yang menggarap pasar milenial, ada juga yang berubah menjadi bank ritel.

Strategi yang dibuat adalah untuk menjaga agar bank tidak tergerus oleh persaingan yang semakin ketat di antara bank konvensional dan juga serangan dari perusahaan fintech yang terus tumbuh.

Perkembangan teknologi dan semakin membesarnya pengguna ponsel cerdas harus disikapi secara seksama oleh dunia perbankan, asalkan tepat sasaran dalam memilih teknologi yang akan di adopsi untuk kemudahan para nasabahnya. (**)

Penulis adalah Wakil Ketua Kadin Sumut Bidang Perbankan

Check Also

“Start Up Your Career 2019” Diramaikan 27 Perusahaan

Waspada.co.id – Mengusung tema “Start Up Your Career” Job Fair yang resmi dibuka pada hari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: