Home / Artikel Pembaca / MEMBANGUN TAPANULI SELATAN, PERCAYAKAN KEPADA AHLINYA

MEMBANGUN TAPANULI SELATAN, PERCAYAKAN KEPADA AHLINYA

WOL Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara sampai sebelum bergulirnya pemekaran adalah kabupaten terluas (26,26%) dari luas wilayah Sumatera Utara. Sekarang daerah Tapanuli Selatan tinggal hanya seluas 4.444,82 km2 atau 6,07% dari luas Sumatera Utara, karena pada tahun 1998 telah mekar Kabupaten Mandailing Natal, menyusul Kota Padangsidimpuan, kemudian Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara.

Sampai saat ini Tapanuli Selatan yang disingkat Tapsel sering dikonotasikan sebagai Tak Pernah Selesai. Saya selaku putra kelahiran Tapanuli Selatan mengartikan lain dan selalu menegaskan bahwa Tapanusli Selatan (Tapsel) memang harus terus “Tak Pernah Selesai” dalam arti untuk pembangunan dan kemajuan.

Jika kita ingin menganalisa pembangunan di Tapanuli Selatan, meski sifatnya normatif ada beberapa peran faktor dan partisipasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat digambarkan namun sangat dimungkinkan untuk menjadi dan harus diperhatikan, mulai dari Pimpinan Daerah, Masyarakat setempat, dan Teknisi (Tehnokrat = katakanlah yang memiliki keahlian/kemampuan dalam merancang dan mengimplementasikannya kedalam pembangunan sesuai dengan yang direncanakannya dan memenuhi harapan masyarakat daerahnya).

 

Pimpinan Daerah

Pimpinan Daerah yang dimaksudkan disini adalah Bupati. Sejak Tapanuli Selatan resmi sebagai kabupaten yang lebih banyak dipimpin oleh pejabat yang berasal dari militer, mulai tahun 1950 yaitu Muda Siregar Glr Sutan Doli, Raja Junjungan Lubis, Abdul Azis Lubis, Wahid R, Muhammad Nasib Nasution, M. Nurdin Nasution, Ahmad Negara Nasution, Baginda Syarif Hasibuan, Hamzah Lubis, Abdul Rasyid Nasution, Toharuddin Siregar, dan Sualoon Siregar, semuanya berlatar belakang militer. Ada yang satu periode dan ada pula yang menjabat dua periode. Baru setelah diberlakukannya otonomi daerah dipimpin oleh yang berasal dari sipil serta telah mempunyai pasangan sebagai Wakil, mulai masa jabatan M. Saleh Harahap berpasangan dengan Harri Lottung Siregar (tahun 2000 – 2004), Ongku P. Hasibuan berpasangan dengan Aldinz Rapolo Siregar (tahun 2005 – 2010), terakhir Syahrul M. Pasaribu (Bupati) dan Aldinz Rapolo Siregar (Wakil Bupati) untuk masa jabatan tahun 2010 – 2015 yang telah berakhir Agustus 2015.

Bupati masa pejabat yang berasal dari militer, menurut pengamatan, lebih banyak fokus kepada pembangunan seperti jalan, fasilitas penerangan/listrik, dan fasilitas lain yang kala itu semuanya serba terbatas, maka program dan kebijakan lebih tertumpu dalam upaya menerobos ketertinggalan hampir semua sektor, terutama infrastruktur. Ternyata mereka-mereka cukup berhasil

Partisipasi Masyarakat tidak boleh dikesampingkan hingga akhir masa orde baru. Ketika itu peran dan partisipasi masyarakat tampak murni, misalnya sifat kegotongroyongan tetap menonjol dan mendukung pembangunan pemerintah. Bukan hanya dalam kegiatan kemasyarakatan saja, tetapi untuk membangun dan memelihara pembangunan itu sangat baik. Contoh, jika pada suatu titik jalan yang menghubungkan desa tertentu terdapat jalan rusak, berlubang, tanpa diperintah, masyarakat sekitar bersama-sama berinisiatif memperbaikinya. Ini terjadi bahwa masyarakat ketika itu masih melihat pimpinannya juga benar-benar ingin memajukan daerahnya untuk kepentingan rakyat banyak. Setelah itu terjadi perubahan, karena masyarakat menilai bahwa pimpinan daerah bukan lagi mementingkan masyarakat banyak, akan tetapi sudah memperhatikan yang lain-lain, seperti kelompoknya, daerahnya atau yang lainnya.

Sedangkan pejabat yang berasal dari Teknisi (Teknokrat), sebenarnya memang baru pada masa reformasi mulai terlibat dalam pemerintahan sejalan dilaksanakannya system otonomi daerah. Namun dalam praktiknya walaupun seseorang pimpinan, apalagi hanya sebatas wakil benar-benar memiliki keahlian dan kemampuan, kenyataannya sulit untuk menunjukkan dan mewujudkan keahliannya. Hal ini telah terjadi terutama pada dua periode kepemimpinan di Tapanuli Selatan.

 

Aldinz Rapolo-Borkat

Setelah berakhirnya masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Selatan tahun 2010-2015 ini, sejalan dengan digulirkannya pemilihan kepala daerah serentak di Indonesia, sekarang telah terdaftar 3 (tiga) pasangan calon (paslon) Bupati Tapanuli Selatan untuk masa jabatan 2015 – 2020 ( ? ) ataukah 2016 – 2021 ( ? ). Pasangan Nomor 1 M. Yusuf Siregar-Rusydi Nasution, Nomor 2 Syahrul M. Pasaribu-Aswin Siregar, dan Nomor 3 Aldinz Rapolo Siregar-Borkat.

Coba kita tilik satu-persatu secara pandangan kasar bertolak dari visi-misi yang ada. Pasangan Nomor 1 (satu) yang sebelumnya kurang populis bagi masyarakat Tapanuli Selatan dengan Visi-Misi yang kurang lebih menggambarkan semacam target saja. Untuk mencapai visi-misi itu semestinya jelas langkah dan tahapan serta menyesuaikan keadaan daerah. Jika hanya ucapan teoritis saja, masyarakat akan menganggap angan-angan atau janji mengambang. Pasangan calon Nomor 2, dengan Visi-Misi Sehat, Cerdas, Sejahtera. Tidak jelas, apakah itu termasuk yang dimaksud visi-misi, karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengharuskan paslon mencantumkan dan menyebarkan visi-misinya yang jelas. Tetapi pada kenyataannya pasangan calon yang terdiri dari incumbent dengan mantan Sekda Tapsel, cuma begitukah visi-misinya. Tanpa itupun dalam kenyataannya, masyarakat Tapanuli Selatan sekarang sudah sehat-sehat, makanya cukup Cerdas-Cerdas. Tetapi kesejahteraannyalah yang masih kurang jika dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera Utara. Mengapa demikian ?. Karena pembangunan di Tapanuli Selatan akhir-akhir ini belum menyentuh seluruh daerah dan masyarakat secara merata. Banyak hanya sekadar “dakka-dakka dupang-dupang”. Didaerah kecamatan X, paslon ini berkata “akan kita lanjutkan pembangunan jalan ini”. Di daerah kecamatan lain mereka berkata “pembangunan jalan yang diminta masyarakat daerah kecamatan X bukan wewenang kami”. Itu tidak lain “Dakka-dakka dupang-dupang, hata-hata manggarar utang” hanyalah berupa silat lidah belaka.

Memang benar, terpilih atau tidak, lanjut-tidaknya pembangunan infrastruktur, seperti jalan yang bukan kewenangannya, bukan jaminan mereka.

Pasangan calon Nomor 3 dengan Visi “Tapanuli Selatan yang makmur, indah, dan bermartabat bagi masyarakatnya yang modern berlandaskan norma agama dan nilai-nilai luhur adat istiadat yang dinamis dengan ekonomi yang berbasis sumber daya manusia dan sumber daya alam yang lestari”. Visi tersebut dilengkapi dengan Misi berupa Rencana Strategis (Renstra), Program Ekonomi, Pendidikan, Sosial Budaya, dan Administrasi Pemerintahan. Misi itu sudah memenuhi system nasional, dimana daerah setingkat kabupaten masih jarang mengawali kegiatannya berdasarkan Renstra, dan program-programnya menyentuh keadaan dan kebutuhan daerah bersangkutan. Misalnya, Tapanuli Selatan adalah daerah yang religius tetapi juga sangat kental dengan adat-istiadat. Kebiasaan mayoritas daerah juga akan mewarnai pemerintahan, jika ada acara-acara ceremonial, maka kebiasaan daerah setempatlah yang diutamakan. Misalnya dalam acara peresmian atau ulang tahun lembaga atau instansi, sepatutnyalah dibuka dengan “mamalu gondang” atau dengan mencicipi makan khas daerah. Jika di Tapanuli Selatan bukanlah dengan “tumpeng-tumpengan” yang telah banyak mengecewakan tokoh-tokokh adat setempat.

Hanya pasangan calon nomor 3 (tiga) yang memperhatikan adat-budaya Tapanuli Selatan itu dan akan mengutamakan ciri khas daerah untuk berkembang tetapi lestari.

Secara pribadi, Aldinz yang berlatar belakang pendidikan Tehnik (alumnus ITB), siapa tidak kenal beliau, perancang dan pembangun kantor Gubernur Sumatera Utara di Jalan P. Diponegoro Medan dan SMA Plus Sipirok, dan berbagai karyanya yang lain.

Dibanding calon-calon lainnya, selama dua periode menjabat Wakil, dari segi wawasan dan program sebenarnya Aldinz setingkat diatas calon-calon lainnya, mempunyai keahlian. Hanya saja dua periode sebagai Wakil tidak bisa berbuat karena memang nampaknya “sengaja” dikekang dan dikebiri. Bayangkan, untuk menghadiri sebuah acara pengajian atau kegiatan social sajapun beliau tidak pernah ditugaskan mewakili pemerintahan.

Sedangkan Borkat, S.Sos, yang santun, kelahiran Losung Batu adalah salah satu putra Tapanuli Selatan yang telah menunjukkan reputasi dan kualitas yang patut diteladani oleh seluruh lapisan masyarakat di Tapanuli Selatan, seperti pengalaman politik melalui PAN, anggota legislatif, dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya, lebih khusus didaerah Angkola Barat dan Marancar selama ini dan kedepan.

Oleh karena itu, dari visi-misi, program yang sesuai kebutuhan masyarakat/daerah, ke-AHLI-an, dan pengalaman, maka kepercayaan untuk memimpin Tapanuli Selatan adalah Aldinz (menjadi Imam) –Borkat(Wakil Imam) lebih layak dan tepat. Dengan “Rapolo-Borkat” kedepan Tapanuli Selatan yang akan menjadi “ rap olo” dan “borkat” meski tak perlu banyak cakap, yang berarti sama dengan “seia sekata, lebih berkat”, Insya Allah.

 

Medan, 19 Oktober 2015.

P e n u l i s,

 

Drs. H. Syamsul Bahri Ritonga, M.Si

Jl. Tirta Kencana No. 17, Sambirejo Timur

P.S. Tuan – Deli Serdang – Medan 20371

NIK. 1207262612570002

Check Also

AOC Santuni Anak Panti Asuhan Bunga Bakung

MEDAN, Waspada.co.id – Puluhan anak yatim piatu dan dhuafa di Panti Asuhan Bunga Bakung, Desa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: