Breaking News
Home / Artikel Pembaca / Memahami ROA, ROE dan Earning Per Share Bank Sumut (Bagian 4)
Armin Rahmansyah Nasution
Armin Rahmansyah Nasution

Memahami ROA, ROE dan Earning Per Share Bank Sumut (Bagian 4)

Oleh
Armin Rahmansyah Nasution

WOLGubsu HT Erry Nuradi sebelumnya sudah menyatakan agar pemerintah kabupaten dan kota jangan ragu menambah saham di Bank Sumut. Prospeknya bagus, untungnya menjanjikan dan minim risiko. Kira-kira begitulah gambaran yang paling pas mewakili statement tersebut.

Sedikit mengutip tulisan terdahulu. Gubsu menyatakan: “Laba bersih Bank Sumut mencapai yang terbesar sepanjang sejarah, dividen Bank Sumut malah lebih besar dari imbal hasil deposito. Coba lihat return on equity (ROE) nya yang mencapai 24,84 persen. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menambah modal.”

Sebenarnya karena sekarang pemerintah daerah mengelola keuangannya masing-masing, mereka bisa melakukan investasi dari kelolaan keuangannya. Tentu sesuai dengan rambu-rambu yang digariskan. Artinya semakin kreatif kepala daerah mengelola keuangannya, semakin besar pula potensi pendapatan yang bisa diterima sebagai pendapatan asli daerah.

Dalam Pasal 304 UU 23/2014 memuat ketentuan, pertama pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan/atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kedua penyertaan modal daerah dapat ditambah, dikurangi, dijual kepada pihak lain, dan/atau dapat dialihkan kepada BUMN dan/atau BUMD. Ketiga penyertaan modal dilaksanakan sesuai ketentuan perundan-undangan.

Aturan itu seperti mengajak para kepala daerah, cermat berhitung dan belajar investasi. Atau setidaknya bupati/walikota/gubernur memahami teknik dasar berinvestasi. Tokh manusia adalah mahluk investasi yang selalu melihat peluang. Daripada melahirkan peraturan daerah yang menyulitkan masyarakat dan pengusaha, tentu lebih baik melirik instrumen investasi yang bisa menambah pundi-pundi kas daerah.

Jika belum pintar sekali berinvestasi dan membeli obligasi, ada baiknya daerah melirik penempatan sahamnya kembali di Bank Sumut. Sebab perusahaan inilah sebenarnya yang paling mungkin menambah PAD dengan menambah kepemilikan saham.

Begini, jika di lantai bursa ada analisis teknikal dan fundamental sebagai acuan membeli saham maka hipotesis awal tulisan ini adalah  secara fundamental dan teknikal disarankan semua pemerintah kabupaten dan kota termasuk pemegang saham pengendali menambah sahamnya di Bank Sumut.

Bank Sumut sebenarnya sudah memberi penjelasan tentang kebutuhan modal yang diperlukan. Bahkan detil tentang penggunaan saham dan kajian akademisnya pun sudah mereka sampaikan. Artinya alasan penambahan modal logis bagi pertumbuhan bisnis.

Lalu dari sisi mana lagi seharusnya pemerintah daerah melihat alasan penting dibalik penambahan modal? Tentu dari laporan keuangan. Seyogyanya para pemegang saham tidak perlu terlalu kuatir dan terlalu mengernyitkan dahi melihat laporan keuangan yang disajikan Bank Sumut setiap tahun.

Karena angkanya terlalu banyak dan tidak semua kita bisa memahaminya. Lihat saja tiga indikator yang mereka sajikan. Yaitu ROA (return on asset), ROE (return on equity) dan earning per share (EPS) di Bank Sumut.

Sebab itulah yang menunjukkan berapa hasil yang diperoleh daerah kalau mereka mau menambah saham.

Lalu bagaimana dengan CAR (capital adequacy ratio), LDR (loans to deposit ratio), non performing loan (rasio kredit bermasalah), maupun net interest margin? Jika bupati dan walikota benar-benar mau jadi analis saham dan investor ulung memang benar, semua indikator tersebut harus dicermati.

Tapi begini saja. Kalau pun misalnya secara kinerja baik CAR-nya, LDR dan NPL Bank Sumut memburuk tidak usah khawatir. Karena sudah ada OJK  (Otoritas Jasa Keuangan) yang akan langsung memberi teguran bahkan memasukkannya sebagai bank dalam pengawasan khusus.

Misal, rasio kredit bermasalah di Bank Sumut terlalu tinggi, pemegang saham tidak usah khawatir. OJK akan menunjukkan ‘kuku’ nya menegakkan aturan menegur Bank Sumut. Begitupula kalau LDR-nya terlalu rendah, OJK akan turun tangan mengevaluasi.

Bahkan kalau indikator-indikator tadi bermasalah, dewan direksi pasti akan langsung mencari solusi. Sebab sudah bagian dari tugas mereka melakukan perbaikan. Jajaran direksi pasti tidak mau membawa bank ini mengalami keterpurukan akibat kinerja. Sehingga semaksimal mungkin akan mencari solusi.

Tokh Bank Sumut sudah berpengalaman melewati masa-masa kritis. Pasti direksi yang sekarang tak akan membiarkan bank ini masuk ke lubang yang sama.

Andai secara kinerja sudah ada tanda-tanda akan memburuk, OJK akan turun tangan. Begitu simpel sebenarnya memahami kinerja bank. Simpelnya pemegang saham tak perlu lagi khawatir kinerja Bank Sumut. Sudah ada yang memantaunya.

Sekarang yang harus dianalisis adalah apakah menguntungkan menempatkan dana di Bank Sumut sebagai tambahan modal. Maka yang harus diperhatikan adalah yang tiga tadi. Yaitu earning per share, ROE dan ROA.

Earning per share

Mari kita lihat. Dimulai dari earning per share  (EPS) yang ditunjukkan dalam laporan keuangan mereka. Sejak 2012 hingga 2016 mengalami fluktuasi. Naik turun. Di 2012, EPS nya 5.263, 2013 jadi 6.040, lalu 2014 menjadi 4.420 kemudian 2015 dan 2016 masing-masing 4.292 dan 5.219.

Dalam lingkaran keuangan, alat ukur yang paling sering digunakan adalah EPS. Angka ini sering dipublikasikan mengenai perfoma perusahaan yang menawarkan sahamnya. Karena investor berpadangan bahwa EPS mengandung info penting memprediksi besaran dividen per saham di kemudian hari.

Menurut Tandelilin (2001:241), informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan kepada pemegang saham. Pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik pada EPS, karena menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh setiap lembar saham biasa dan menggambarkan prospek perusahaan. Di masa depan calon pemegang saham tertarik dengan earning per share yang besar, karena hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan (Lukman Syamsudin, 1992 : 66).

Secara singkat disimpulkan makin tinggi EPS menyenangkan pemegang saham. Laba per lembar saham juga menunjukkan perusahaan tersebut mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang baik kepada pemegang saham, sedangkan jika EPS nya rendah perusahaan akan gagal memberikan kemanfaatan sebagaimana diharapkan pemegang saham.

Earning per share atau laba per lembar saham menjadi analisis yang penting di dalam laporan keuangan perusahaan karena  memberikan informasi kepada para pihak luar (ekstern) seberapa jauh kemampuan perusahaam menghasilkan laba untuk tiap lembar yang beredar.

Sekarang silakan dicek lagi EPS Bank Sumut yang disajikan di atas. Kecenderungan EPS di bank ini semakin naik. Jangan tanya kenapa misalnya terjadi penurunan di 2014 dan 2015 karena secara fundamental kinerja perbankan secara umum pun mengalami penurunan.

Artinya angka EPS di 2016 sudah melewati angka 5.000 tepatnya 5.219. Melihat kinerja di 2017, maka EPS tahun diperkirakan mengalami peningkatan. Jadi EPS Bank Sumut inilah yang memberi gambaran kepada pemerintah daerah sebagai pemilik saham potensi keuntungan yang bisa diambilnya dari per lembar saham.

Return on asset (ROA)

Indikator selanjutnya bagi para pemilik saham yang perlu diperhatikan adalah ROA (return on asset). Ini adalah bentuk dari rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total aktiva yang ada setelah biaya-biaya modal dikeluarkan dari analisis.

ROA ini rasio keuntungan bersih pajak yang juga berarti suatu ukuran menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari aset yang dimiliki perusahaan. ROA positif tentu saja menunjukkan dari total aktiva yang dipergunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba.

Semakin tinggi rasio ini berarti perusahaan semakin efektif dalam memanfaatkan aktiva dalam menghasilkan laba bersih setelah pajak. Semakin tinggi ROA berarti kinerja perusahaan semakin efekti karena tingkat pengembalian semakin besar.

Ini tentu menjadi daya tarik perusahaan diminati pemegang saham. ROA juga menjadi pengukuran komprehensif melihat keadaan perusahaan pada laporan keuangan yang ada. Mudah dihitung, difahami.

Coba kita cek. Berapa ROA Bank Sumut? Di tahun 2012 ROA tercatat 2,99, setahun berikutnya jadi 3,37, kemudian 2014 menjadi 2,60, setelahnya 2015 di angka 2,31, tahun lalu sudah 2,74. Jangan terlalu fokus pada fluktuasi angka tapi coba lebih berinteraksi dan mengakomodasi progress yang terjadi di Bank Sumut sehingga manajemen sekarang bisa mencapai angka ROA yang lebih tinggi di 2016.

Return on equity

Alat ukur satu lagi yang patut dicermati di Bank Sumut adalah return on equity (ROE). Ini menjadi lebih penting lagi bagi para pemegang saham. Rasio ini banyak diamati para pemegang saham bank serta para investor yang ingin membeli saham. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dan bank yang bersangkutan.

Rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan set bersih. Sekaligus mengukur berapa banyak keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan dibanding dengan modal yang disetor pemegang saham.

ROE diasumsikan sebagai ekspektasi investor atas semua dana yang ditanamkan perusahaan. Semakin besar profitabilitas perusahaan maka investor kian tertarik membeli sahamnya.

ROE di Bank Sumut cukup tinggi. Berdasarkan laporan keuangannya sejak 2012 adalah 31,39, di 2013 angkanya 36,52, setahun berikutnya jadi 28,52, pada periode 2015 Sudah 23,90 dan tahun lalu 24,84.

Dari formula ROE diketahui menunjukkan besarnya pendapatan bersih yang diperoleh perusahaan dari equity yang dimilikinya. Nilai rasio 20 persen misalnya menunjukkan perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang nilainya 20 persen di atas ekuitasnya.

Semakin besar nilai rasionya maka semakin besar pula dana yang dikembalikan dari ekuitas menjadi laba. artinya semakin besar laba bersih yang diperoleh dari modal sendiri. ROE tinggi akan menyebabkan posisi pemilik modal di perusahaan semakin kuat.

Penutup
Dengan melihat kecenderungan tiga indikator tersebut tidak ada alasan bagi para pemegang saham yang terdiri dari pemerintah kabupaten/kota dan provinsi untuk tidak menambah saham di Bank Sumut. Itu jika kita berorientasi profit. Namun kemudian jika ada pertimbangan non teknis tentu masalahnya lain lagi. Artinya secara bisnis, menambah modal di Bank Sumut, pasti menguntungkan daerah sebagai pemegang saham.

Menempatkan dana pemerintah daerah dalam satu instrumen tentu pertimbangannya profit. Sebab nantinya akan menjadi sumber pendapatan. Tentu dengan pertimbangan bisnis pula pemerintah daerah sudah selayaknya menambah modal ke Bank Sumut. Di satu sisi mendorong ekspansi bisnis perusahaan milik daerah itu, dan di sisi lain akan menguntungkan bagi daerah dengan penerimaan pendapatan asli daerah melalui dividen yang dibayarkan.(**/Selesai)

Penulis adalah wartawan senior bidang ekonomi

Check Also

WOL Photo

PWI dan Bank Sumut Sinergi Tingkatkan Wawasan di Bidang Perbankan

MEDAN, WOL – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara bersinergi dengan Bank Sumut menggelar Workshop ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.