Home / Artikel Pembaca / Maukah Perbankan Membiayai Unicorn?

Maukah Perbankan Membiayai Unicorn?

Oleh:

Hendra Arbie

Waspada.co.id – Seperti diketahui, unicorn adalah sebuah perusahaan rintisan yang sudah mencapai valuasi lebih 1 miliar dolar AS. Bagaimana perjalanan sebuah usaha rintisan mencari pendanaan?

Pertama-tama mereka dibiayai oleh pendirinya, ya dari kantong pendiri-nya.

Seiring berkembangnya usaha rintisan tersebut, maka di butuhkan modal kerja tambahan, maka pendiri usaha rintisan mulai kelabakan mencari dana. Karena perbankan tidak akan bisa membiayai usaha rintisan ini sebab penilaian dan syarat-syarat secara administratif perbankan tidak mencukupi untuk membiayai usaha rintisan ini.

Sebagai pendiri usaha rintisan mereka akan mencari ‘angel investor’. Angel investor biasanya pensiunan ,pengusaha atau eksekutif dari perusahaan ternama. Pada dasarnya para angle investor ini punya keyakinan kepada usaha rintisan yang akan didanai. Paling tidak mengenal pendirinya, dan tentu menginginkan tingkat mengembalian yang tinggi.

Angel investor ini adalah jembatan usaha rintisan untuk mendapatkan pembiayaan / dana yang lebih besar lagi dari perusahaan investasi, perusahaan modal ventura. Di indonesia www.angin.id adalah sebuah situs tempat berkumpulnya angel investor yang akan membiayai usaha rintisan yang mempunyai prospek baik.

Secara ‘best practice’ angel investor ini mempunyai profil risiko yang sangat tinggi. Bisa jadi ‘total lost’ atau keberuntungan pengembalian 20 kali-30 kali dari investasi yang ditanamkan dalam waktu 5-7 tahun.

Semakin besar usaha rintisan tersebut, pendiri mulai kelabakan mencari dana yang tentu lebih besar. Para angel investor sudah tidak dapat membiayai dengan dana yang cukup besar yang dibutuhkan usaha rintisan. Mulailah si pendiri usaha rintisan mencari alternatif pembiayaan kepada perusahaan investasi atau modal ventura. Kenapa tidak ke perbankan ? dalam hal ini masalah klasik muncul kembali, usaha rintisan tersebut tidak cukup syarat administrasi untuk dibiayai perbankan.”

Maka pendiri usaha rintian tersebut akan mengeluarkan ‘paper’ yaitu pendanaan series A atau B yang di tujukan kepada perusahaan investasi atau modal ventura.

Softbank sebuah perusahaan investasi dari Jepang sangat agresif dalam hal membiayai usaha-usaha rintisan ini yang mereka yakini akan menjadi sebuah Unicorn nantinya. Dengan total aset 24,6 triliun yen (2017) mereka leluasa memberi dana kepada usaha-usaha rintisan di seluruh dunia. Tokopedia salah satu yang di guyur Softbank Rp16 triliun (detik.com 12/12/2018).

Menurut CbInsight ada 310 perusahaan rintisan di seluruh dunia yang sudah bernilai lebih 1 miliar dolar AS (23-Jan-19) dan tumbuh signifikan 58 persen dari tahun 2017, kategori terbesar adalah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang Software and Service 24 persen, E-Commerce 13 persen dan Fintech 10 persen. Lalu enam persen dari total unicorn sudah menjelma menjadi decacorn yang bernilai diatas 10 miliar dolar AS.

Lalu apakah perbankan akan membiayai unicorn? Itu tadi. Sepanjang bank masih dibelenggu syarat administrasi berbekal 5-C mulai dari character sampai collateral harapan itu tak kesampaian walaupun secara prospek mereka sangat menjanjikan. Jika bank tetap sebagai administrative bankers, tak berubah jadi entrepreneurship bankers, unicorn yang tumbuh dan berkembang di Indonesia akan diabiayai oleh investor (asing dan luar negeri).

Selama perbankan menganut falsafah administrasi, mereka akan frigid atau mati rasa terhadap valuasi bisnis yang ditawarkan unicorn. Perbankan pada akhirnya hanya akan menjadi payung di tengah terik mentari, namun hilang saat hujan semakin deras. (**)

Penulis adalah Wakil Ketua Kadin Sumut Bidang Perbankan

Check Also

“Prabowo Khawatir Unicorn Indonesia Dikuasai Asing”

JAKARTA, Waspada.co.id – Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Uno turut membela capres ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: