Newsticker
WOL / Artikel Pembaca / Kota Sibolga, Inflasi Tertinggi di Indonesia

Kota Sibolga, Inflasi Tertinggi di Indonesia

Oleh: Rohma Santi Saragih, SST

 

Di Indonesia, pada September 2016 dari 82 kota yang diamati Indeks Harga Konsumennya (IHK), 58 kota mengalami inflasi di mana inflasi tertinggi terjadi di Sibolga, Sumatera Utara, yakni sebesar 1,85 persen dengan IHK 129,12. Inflasi terendah terjadi di Purwokerto dan Banyuwangi sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing sebesar 121,81 dan 121,84.

Empat kota IHK di Sumatera Utara mengalami inflasi, yaitu Sibolga sebesar 1,85 persen, Pematangsiantar (0,29 %), Medan (1,32 %), dan Padangsidimpuan (0,83 %). Dengan demikian, Sumatera Utara mengalami inflasi sebesar 1,22 persen pada September 2016. Secara nasional, pada September 2016 terjadi inflasi sebesar 0,22 persen. Hal ini berarti angka inflasi Kota Sibolga jauh lebih tinggi dibanding dengan angka inflasi nasional.

gambar1

gambar-diagram2

Kenaikan harga di Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara pada September 2016 sebesar 1,85 % menjadikan daerah tersebut kota yang mengalami inflasi tertinggi di Indonesia, diikuti oleh Kota Lhokseumawe sebesar 1,44 %.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sibolga M Junafin, bahan makanan/minuman, gas dan bahan bakar, menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Kota Sibolga. Pada September 2016, Kota Sibolga inflasi sebesar 1,85 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 126,78 dari Agustus 2016 menjadi 129,12 pada September 2016.

Komoditas utama penyumbang inflasi selama bulan September 2016 di Kota Sibolga, antara lain cabai merah, rokok kretek filter, ikan dencis, ikan kembung/gembung, pepaya, teter, dan jeruk. Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan yang signifikan terhadap inflasi, yaitu kelompok bahan makanan 1,71 persen, dalam hal ini komoditi cabai merah

memegang andil yang sangat besar dalam memengaruhi tingginya inflasi Kota Sibolga. Tingginya harga komoditas ini diakibatkan kurangnya pasokan dari tingkat distributor hingga tingkat pengecer.

Sementara itu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau memberikan andil/sumbangan terhadap inflasi 0,07 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,01 persen, kelompok sandang -0,02 persen, kelompok kesehatan 0,00 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga 0,04 persen, serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,02 persen.

Secara teori, ketika harga melambung, perlu intervensi Pemerintah. Namun, sebaiknya dilakukan upaya yang berdampak jangka panjang (long run), bukan dengan operasi pasar murah.

Tidak sedikit penelitian yang menyimpulkan bahwa operasi pasar murah sebenarnya tidak baik untuk menjaga stabilitas pasar. Banyak efek negatif dari operasi pasar tersebut. Apalagi ketika barang yang dijual pada operasi pasar murah tersebut berasal dari luar daerah (impor), produsen domestik (termasuk petani atau nelayan) akan menjadi ‘malas’ bekerja. Akibatnya, produktivitas domestik akan turun.

                                                      

Penulis adalah Fungsional Statistisi di Badan Pusat Statistik Kabupaten Batubara

Baca Juga

Foto: Istimewa

AKBP Novri : Densus 88 Sudah Lakukan Penggeledahan

BANDUNG, WOL – Kepala Kepolisian Resor Garut, AKBP Novri Turangga menyatakan, Detasemen Khusus (Densus) 88 ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.