Home / Artikel Pembaca / Kenapa PSMS Jadi Begini?!
WOL Photo/Ega Ibra

Kenapa PSMS Jadi Begini?!

Oleh: Arianda Tanjung

Waspada.co.id – Kenapa PSMS Medan jadi begini? Pertanyaan ini tampaknya mulai wajar mengemuka serta dicari solusi terbaiknya di tengah kondisi Ayam Kinantan terpuruk di dasar klasemen Liga 1 Indonesia hingga pekan ke-21. Total, PSMS baru mengoleksi 19 poin.

Padahal, sekadar mengingatkan jika sebagai tim yang baru promosi, Pengurus PSMS sempat mengusung target masuk di dalam jajaran elit. Tak tanggung-tanggung, peringkat lima besar kompetisi Liga 1 Indonesia musim ini dicanangkan di awal musim.

Memang, namanya target wajar-wajar saja. Ditambah lagi, secara tim, di musim ini skuad asuhan Peter Butler punya modal berharga saat meraih peringkat keempat turnamen pramusim bertajuk Piala Presiden 2018. Di turnamen tersebut, mereka mampu mengalahkan tim-tim besar seperti PSM Makassar, Persib Bandung, dan Persebaya Surabaya.

Sayangnya, semangat akan prestasi PSMS tersebut seakan goyang dengan hasil yang sudah didapat hingga 21 pertandingan. Dari catatan yang Waspada Online himpun, PSMS hanya mampu meraih sekali kemenangan (atas PSM 3-1) dan seri tanpa gol dengan Persija Jakarta plus empat kekalahan terjadi di Stadion Teladan dalam 10 laga terakhir.

Sebagai catatan juga, PSMS sempat berbenah di pertengahan musim dengan melakukan perombakan tim besar-besaran. Di antaranya pelatih Djadjang Nurjaman, dua asisten pelatih, trio asing Sadney Urikhob, Dilshod Sharofetdinov, dan Wilfried Yessoh serta pemain lokal Jajang Sukmara, Amarzukih didepak sebagai dampak keterpurukan PSMS.

Gantinya, PSMS mendatangkan Peter Butler (pelatih), Alexandros Tanidis, Shohei Matsunaga, dan Felipe Martins (pemain asing) serta beberapa pemain lokal. Namun, hasilnya bisa dibilang hampir sama saja, karena sejak resmi menakhodai PSMS saat kontra PSM pada 23 Juli lalu, Legimin Raharjo hanya sekali menang, sekali seri dan tiga kali kalah (dua kekalahan kandang).

Pertanyaan lucu yang ada di benak penulis, kalau sudah pelatih dan pemain diganti, lalu siapa lagi yang kira-kira harus diganti? Nah, cukuplah dijawab dalam hati saja pertanyaan tersebut.

Lantas, pertanyaan lainnya adalah antiklimaks-kah PSMS musim ini?

Tentu rasanya terlalu dini bila langsung memvonis seperti itu, karena Abdul Rohim cs akan melakoni 13 pertandingan lagi, dengan rincian enam di kandang dan tujuh tandang. Maka, lebih tepatnya dalam kondisi mengkhawatirkan.

Kenapa? Karena PSMS tampaknya betah berada di posisi juru kunci ditambah lagi mereka masih menyisakan sejumlah laga berat dengan menghadapi Persib Bandung, PSM Makassar, Persipura Jayapura, Madura United, dan Sriwijaya FC.

“Saya tentu tidak mau duduk di sini dan kritik pemain saya atas hasil yang didapat sejauh ini. Saya pikir pemain kerja keras, namun dalam situasi yang sulit di dalam dan luar lapangan juga tentunya akan ada dampaknya,” tegas Butler, Rabu (12/9) kemarin usai kekalahan dari PSIS Semarang di Teladan.

Bahkan pelatih Inggris ini sempat bercerita persoalan kualitas tim tidak dimulai saat datang ke Kota Medan awal putaran kedua. Melainkan sejak awal tim dibentuk, di mana 75 persen pemain berjuang di Liga 2.

“Saya tidak kritik pemain karena mereka orang jujur, baik, dan selalu kerja keras. Saya pikir Anda harus bantu mereka. Tapi kalau tidak ada motivasi di luar dan dalam lapangan tentu akan sangat sulit, bahkan bukan tidak mungkin degradasi ke Liga 2,” tutup Butler. ***

*Penulis adalah Wartawan Waspada Group dan anggota PWI Sumut

Check Also

Berkat Felipe, PSMS Tinggalkan Zona Degradasi

MEDAN, Waspada.co.id – PSMS Medan sukses mempecundangi tuan rumah Persib Bandung 1-0 pada lanjutan Liga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: