Home / Artikel Pembaca / Haruskah Bank Berkolaborasi Dengan Unicorn?
foto: istimewa

Haruskah Bank Berkolaborasi Dengan Unicorn?

Oleh:
Hendra Arbie

Waspada.co.id – Ditengah pesatnya teknologi sekarang, dan berkembangnya perusahaan start up yang telah berubah menjadi unicorn, e-commerce, marketplace, layanan transportasi dan ke depan akan menyusul payment channel, wallet, peer to peer lending dll, yang semua ini intinya memudahkan pelanggan/nasabah bank melakukan aktifitas sehari-hari.

Yang menjadi tanda tanya adalah apabila transaksi unicorn tersebut telah menjelma menjadi triliunan rupiah per bulan, siapa yang menampung sebagai tempat pembayaran antara pelanggan/nasabah dan penjual? Tentu institusi keuangan yang diakui oleh otoritas sebagai intermediasi yaitu perbankan.

Unicorn yang ada di Indonesia, sekarang sudah menjelma menjadi suatu platform, ‘PALUGADA’ (artinya; apa lu mau gua ada). Tidak hanya sebagai marketplace, e-commerce, transportasi tapi sudah menjadi payment channel, sebagai tempat memperoleh fasilitas pinjaman, dan juga sebagai tempat gadai, dan lainnya.

Industri jasa keuangan harus melihat unicorn atau pun start up ini sebenarnya sebagai tambang emas, baik itu untuk memanfaatkan pembayaran, yang berhubungan dengan kegiatan pengumpulan dana pihak ketiga atau pun menyalurkan pembiayaan, yang pada akhirnya adalah untuk mendapat fee based income.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menyebut, di era digital seperti saat ini, mau tidak mau kolaborasi antara perbankan dengan fintech harus terwujud. Kalau tidak, maka perbankan bisa terlibas oleh fintech.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus mendorong perbankan agar dapat melakukan kolaborasi dengan perusahaan layanan keuangan berbasis teknologi alias financial technology (fintech). Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi yang mengubah perilaku masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mendorong industri perbankan untuk mengembangkan financing technology (fintech). Sebab, fintech sebagai bagian dari perkembangan teknologi tidak dapat ditolak.

“Kita lebih happy kalau fintech itu di-backbone oleh perbankan. Itu lebih secure,” ungkapnya dalam Seminar Nasional Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Revolusi Industri 4.0, di Jakarta, Senin 7 Mei 2018.

Kolaborasi tersebut dapat meningkatkan kualitas inklusi keuangan dan stabilitas perekonomian. Perbankan dan fintech memiliki kelebihan masing-masing.

Posisi perbankan yang memiliki basis data nasabah serta ragam produk keuangan yang luas. Di sisi lain, fintech dapat menjadi kanal/channel yang mempermudah nasabah dalam mengakses produk-produk keuangan.

Sebagai otoritas OJK me -encourage perbankan. Silakan mau dirikan, atur strategi yang pas untuk itu, yang meyakinkan bahwa bank bisa menawarkan produk yang hampir sama dengan teknologi yang cepat murah dan hampir sama dengan fintech. Sekarang bagaimana strategi perbankan bisa bersinergi dengan unicorn/finctech.

Problemnya adalah jika bank mengabaikan potensi unicorn. Atau malah tidak mengerti sama sekali. Bagi bank BUMN apalagi bank daerah tentu harus menjadikan unicorn/fintech sebagai mitra yang harus dirangkul. Terutama di bank daerah. Kalau tidak, siap-siap saja digilas unicorn yang sudah bisa memfasilitasi transaksi layaknya perbankan, bahkan lebih mudah. Prinsip unicorn ini, ya itu tadi: apa lu mau gua ada. (**)

Penulis Adalah Wakil Ketua Kadin Sumut Bidang Perbankan

Check Also

“Rakyat Juga Banyak Tak Paham Unicorn, Tahunya Popcorn”

JAKARTA, Waspada.co.id – Polemik soal startup unicorn ramai di media sosial setelah debat capres semalam. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: