Newsticker
WOL / Artikel Pembaca / Habis Gelap Terbitlah Terang di Tampur Paloh
artikel-ok

Habis Gelap Terbitlah Terang di Tampur Paloh

Benner-Erry

Oleh: Muhammad Hanafiah

 

INI bukan cerita zaman perjuangan RA Kartini yang terkenal dengan kumpulan surat-suratnya berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” pada masa penjajahan Belanda. Namun, ini kisah sangat miris dilakoni masyarakat Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, yang dibalut sendi-sendi potret kelam selama 70 tahun.

Warga Desa Tampur Paloh yang berdomisili di kaki gunung dan hutan belantara pedalaman Aceh Timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tamiang itu jangankan menikmati badan jalan beraspal mulus, jembatan berkontruksi rangka baja maupun beton, tetapi sinyal telepon selular, aliran listrik PLN saja tidak ada selama 70 tahun Indonesia merdeka lepas dari belenggu tangan penjajahan Belanda dan Nippon (Jepang).

Bahkan di desa tersebut baru sekali diadakan upacara detik-detik memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 pada 17 Agustus lalu di halaman SMP Swasta Merdeka. Bukan gambaran itu saja yang berhasil ditangkap bola mata dan hati kita yang berkunjung ke sana, tetapi kondisi fasilitas anak-anak sekolah di desa yang selalu dibalut selendang kabut halimun pagi dan senja itu memang sangat memprihatinkan.

Menurut pengakuan warga kepada Waspada, anak-anak di sana juga ada yang pergi ke sekolah dengan kaki telanjang tanpa sepatu dan seragam menelusuri kaki gunung dan hutan belukar nan gelap. Bahkan, ada anak yang rumahnya sangat jauh dari sekolah hingga terpaksa menginap di sekolah bersama gurunya.

Ketika kita melapaskan pandangan di sana, tampak kondisi gedung sekolah kadang berdebu dan berlumpur karena berlantai tanah serta proses belajar-mengajarnya pun sangat aneh. Maklun, puluhan pelajar kelas 1, II, dan III selalu digabungkan dalam satu ruangan karena keterbatasn buku bacaan dan fasilitas lainnya, termasuk meja dan kursi.

Seperti kata pribahasa lama “Pucuk dicinta ulam pun tiba” dan warga Dsa Tampur Paloh mulai merasakan seberkas harapan dalam dua tahun terakhir karena PT Pertamina EP Field Rantau Kabupaten Aceh Tamiang melirik desa pedalaman Kabupaten Aceh Timur melalui program Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) dan Corporate Social Responsibility (CSR).

Warga yang puluhan tahun hidup dalam kegelapan karena tidak tersentuh pembangunan, kini mulai berubah dari “Habis Gelap Terbitlah Terang”. PT Pertamina EP Field Rantau yang tergabung di bawah bendera PT Pertamina EP Asset I Jambi membawahi Field Rantau, Pangkalansusu, Lirik, Palembang, dan Ramba itu sangat gencar melaksanakan berbagai program pembangunan untuk kepentingan masyarakat di sana.

Field Manager PT Pertamina EP Field Rantau, Richard Muthalib, melalui Legal & Relation Asistant Manager, Eshel Jufri, menjelaskan kegiatan operasi PT Pertamina (Persero) bersinggungan langsung dengan lingkungan. Karena itu, apabila Pertamina  terus ingin keberadaan perusahaan tetap eksis dan berperan serta dalam pembangunan yang bersinergi mendukung ketahanan energi, maka selain perlu ekploitasi dan ekplorasi di bidang minyak dan gas (migas) juga perlu menjaga keberlangsungan lingkungan.

Terkait itu, Pertamina juga bekerja sama dengan beberapa institusi yang memang kompeten dalam bidang pemberdayaan masyarakat. Fokus pengelolaan lingkungan, agar kondisi lingkungan tetap lestari, rapi serta terjaga sesuai komitmen perusahaan dan pemerintah plus keinginan masyarakat seraya terus berupaya mencari inovasi terbaru di sekitar kawasan operasi Pertamina Field Rantau.

Terkait dengan PPMP dan CSR di Desa Tampur Paloh, PT Pertamina EP Field Rantau sejak tahun 2015 merekrut siswa MTsN Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, yang ketika itu masih duduk di kelas II, Naufal Raziq. Teryata, Naufal termotivasi sang ayah, Supriaman, melakukan riset penemuan energi listrik pohon kedondong hutan.

“Program tersebut mulai dilaksanakan ketika Field Manager Agus Amperrianto dan selanjutnya program tersebut tetap terus dilanjutkan oleh Richard Muthalib yang tetap melirik Desa Tampor Paloh untuk hasil riset Naufal dan program CSR lainnya,” tegas Jufri, Jumat (28/10).

Dijelaskan, hasil riset Naufal tentang adanya temuan energi listrik alternatif dari pohon kedondong hutan itu sudah melalui proses ujicoba dengan bahan seperti buah-buahan dan tumbuhan sebelum bisa diambil manfaatnya. Dia juga memaparkan Pertamina melalui lembaga PPMP memboyong Naufal untuk mengembangkan temuannya di Rantau agar dapat diaplikasikan dan diimplementasikan bagi masyarakat yang masih hidup tanpa penerangan.

Hasil riset dan ujicoba Naufal, satu batang pohon kedondong diperoleh tegangan listrik sebesar 0,7 volt. Dari potensi voltase tersebut dibutuhkan beberapa batang pohon yang dapat diseri dan diparalelkan, sehingga diperoleh daya listrik sedikitnya 12 watt. Temuan Naufal ternyata dapat menghidupkan sedikitnya 4 pcs bohlam LED 3 watt untuk satu rumah. Semakin besar daya yang diperoleh dari batang pohon kedondong hutan itu, makin banyak daya listrik yang bisa dimanfaatkan.

Karena itu, PT Pertamina EP Rantau memperkenalkan hasil riset Naufal di Desa Tampur Paloh. Jufri menerangkan sebanyak 25 kru Pertamina EP Field Rantau menuju Desa Tampur Paloh atau tepatnya SMP Merdeka yang terisolir di pedalaman Aceh Timur pada Juni lalu.

“Tujuannya untuk mendistribusikan aliran energi listrik ke sekolah yang belum mendapat suplai listrik dari PLN sekaligus tempat sosialisasi temuan energi listrik pohon kedondong hutan kepada pelajar dan masyarakat Tampur Paloh,” lanjut Jufri.

Menurutnya, energi listrik yang dihasilkan dari 45 batang pohon kedondong hutan berdiameter 9 inci sebesar 20 ampere atau setara 4.400 watt. Selain kebutuhan di SMP Merdeka, listrik itu juga akan dikembangkan untuk penerangan listrik di kampung sekitar Tampor Paloh.

Pertamina Rantau pun akan terus berupaya membantu sarana prasarana sebagai fasilitas pendukung di sekolah tersebut serta mencari potensi pohon kedondong hutan di sekitar Tampur Pa­loh untuk dikembangkan sebagai sumber listrik alternatif teknologi tepat guna (TTG).

PR Manager PT Pertamina EP, M Baron, menyatakan pihaknya bersyukur atas komitmen kuat PT Pertamina EP  yang mendapatkan dua Proper Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk  PT Pertamina EP Field Rantau Rantau dan Subang. Menurut Baron, penghargaan Proper Emas 2015 itu merupakan sejarah pertama di Indonesia, ketika satu perusahaan mendapatkan dua predikat level tertinggi dalam pengelolaan lingkungannya. Padahal perusahaan tersebut notabene bergerak di sektor hulu migas.

Di hadapan wartawan peserta acara media edukasi di  Jambi, medio Oktober lalu, Baron menyebutkan warga Desa Tampur Paloh baru sekali merayakan HUT RI karena kawasan tersebut benar-benar terisolir.

Kepala  Desa Tampor Paluh, Ali, mengatakan tamatan SMP Swasta Merdeka nantinya dapat melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi berkat bantuan CSR PT Pertamina Rantau.

*Penulis adalah wartawan Harian Waspada

Baca Juga

WOL Photo/Ridin

Ini Kata Tengku Erry Tentang Calon Sekdaprovsu

MEDAN, WOL – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Tengku Erry Nuradi, menyebutkan calon pengganti Hasban Ritonga ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.