_
Home / Artikel Pembaca / ‘Gajah Lawan Semut’, Siapa Pemenangnya?
foto: istimewa

‘Gajah Lawan Semut’, Siapa Pemenangnya?

Oleh:
HENDRA ARBIE

Waspada.co.id – Direktur sebuah bank BUMN mengatakan bahwa, bank BUMN ini sudah beroperasi lebih dari 60 tahun, membandingkan dengan sebuah decacorn yang baru berdiri sejak 2010, yang nilai valuasi nya lebih besar dari bank BUMN.

Saat ini valuasi Gojek sudah menjadi ‘decacorn’ kedua di Asia Tenggara dengan estimasi US$10 miliar atau atau setara Rp140 triliun (techinasia.com), sementara valuasi bank BUMN tersebut hanya senilai Rp29 triliun. Dengan 1 juta mitra Gojek berhasil menggandeng sekitar 75 juta costumer. Sementara, bank dengan 4-5 juta costumer memiliki valuasi Rp29 triliun, meskipun jumlah asetnya memang lebih besar, yaitu Rp300 triliun.

“Baru seumur jagung tapi valuasi atau harga perusahaannya sudah Rp140 triliun. Bank kami dengan customer 4-5 juta valuasi ya Rp29 triliun. Kenapa bisa? Itulah keajaiban ekonomi masa kini, yang lebih di kenal dengan sharing economy, mengalahkan sistem owning economy.

Banyak perusahaan jaman now, yang menggunakan sistem sharing economy ini, mungkin kita tidak pernah mendengar nama2 ini 10 tahun yang lalu, seperti AirBNB, Driveezy, Uber, Gojek, Grab, Native dan lain-lain. Apa itu sharing economy ? Kalau di terjemahkan bebas adalah suatu bentuk ekonomi yang disruptif yang melepaskan sumber-sumber suplai baru. Dilain pihak tentu ada yang ter disrupsi karena layanan ini, yaitu taksi konvensional.

Sharing economy bukan hal yang buruk untuk diterapkan di Indonesia, bahkan dapat menjadikan pemerataan kesejaheteraan bisa dicapai dengan model bisnis seperti ini, Gojek yang sudah beroperasi di 200 kota dan kabupaten, semua masyarakat dapat memanfaatkan aplikasi untuk mendapat kan penghasilan baik utama ataupun tambahan. Di Indonesia mungkin baru beberapa, tapi diluar negeri sudah banyak bidang bisnis yang melakukan model sharing economy. Bidang perhotelan, bidang pembiayaan, restoran, dan banyak lainya.

Aplikasi Gojek yang sudah di unduh 125 juta kali yang ada di ponsel cerdas juga sudah beragam fungsinya, sudah menjadi payment (pembayaran), baik utk pembelian pulsa, pembayaran tagihan-tagihan dan lain sebagainya. Mungkin ke depan akan di masukkan untuk pemberian kredit mikro, ultra mikro maupun crowd funding ? (apakah perbankan sudah mempersiapkan diri untuk mengantisipasi) —ini semua didedikasikan untuk kemudahan dan kecepatan pelanggan, yang tak mau repot-repot mengantri dan keluar rumah.

Berdasarkan hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI tahun 2017, Gojek memberikan kontribusi sekitar Rp9,9 triliun setiap tahun ke perekonomian Indonesia. Dalam hal ini Rp8,2 triliun berasal dari penghasilan mitra pengemudi dan Rp1,7 triliun berasal dari penghasilan mitra UMKM.

Yang menarik dari Gojek adalah, GoPay yang memberikan kontribusi 30 persen dari total transaksi uang elektronik se Indonesia. Total jarak yang di tempuh mitra pesan antar makan GoFood telah menembus 610 juta kilometer setara 15 ribu kali keliling bumi. Sejak 2017 mitra tersebut telah mengantar 4,5 juta gelas kopi, 120 juta ayam goreng dan 7,5 juta bungkus martabak.

Bagi pihak yang sudah lama menggunakan model owning economy tidak seharusnya menentang perubahan ini, mereka hanya harus beradaptasi, berjuang lebih keras, dan memberikan pelayanan yang benar benar menguntungkan konsumen. bahkan pandangan dari beberapa ahli yang di hadapi indonesia masa depan akan mengalami deflasi dimana banyak harga harga yang turun dan lebih murah jika model sharing economy ini sudah terpayungi hukum dengan baik. (**)

Penulis Adalah Wakil Ketua Kadin Sumut Bidang Perbankan

Check Also

GrabExpress – BEKRAF Dukung Pertumbuhan Bisnis di Indonesia

Waspada.co.id – GrabExpress, layanan kurir milik Grab, bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) memberikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.