_
Home / Artikel Pembaca / Fintech “Hilangkan” Duit Bank Rp3.920T
Hendra Arbie

Fintech “Hilangkan” Duit Bank Rp3.920T

Oleh:

Hendra Arbie

Waspada.co.id – KEBERADAAN perusahaan financial technology (fintech) menciptakan kondisi baru dalam industri jasa keuangan. Industri perbankan yang sudah lama matang harus rela dengan fakta bahwa kebutuhan jasa keuangan masyarakat mulai bisa dipenuhi oleh pendatang baru yang bernama fintech.

Rico Usthavia Frans, Wakil Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) mengatakan kondisi itu sudah mulai tampak di industri perbankan. Penggunaan mobile banking lebih kencang ketimbang internet banking. Kantor cabang kian sepi, Menurut studi kalau kita tidak melakukan transformasi maka kita bisa turun 18 persen. Kalau bertransformasi kita tumbuh 18 persen. Bank diatur amat ketat, sementara fintech tidak ketat. Bank cenderung lambat sementara fintech tumbuh dengan cepat.

Perlu kita ketahui perbankan tidak seleluasa fintech yang bisa menambah fitur dua minggu sekali. Perbankan masih harus menghadapi tantangan karena setiap kegiatannya harus melalui pelaporan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang dibuat setahun sekali dan hanya bisa diubah enam bulan sekali kepada Otoritas.

Menurut riset terbaru Accenture, bisnis pembayaran global tahun ini akan bernilai US$1,5 triliun dan menjadi US$ 2 triliun pada 2025, namun sebesar US$280 miliar (Rp3.920 triliun) akan diambil oleh fintech pembayaran, karena kehadiran startup pembayaran yang menggarap bisnis remitansi dengan mengandalkan kecepatan dan tanpa biaya.

Fintech asal Sillicon Valley Stripe dan Square serta platform teknologi PayPal dan perusahaan sejenis layaknya TransferWise yang berbasis di London. Perusahaan ini menawarkan jasa pembayaran valuta asing kepada pelanggan ritel dan UKM dengan biaya lebih rendah. Kompetisi yang meningkat dengan penawaran tanpa biaya transfer (gratis) akan menekan margin bank.

“Bank merasakan panasnya persaingan dengan fintech yang menawarkan kecepatan, tak terlihat dan layanan gratis. Bank merasakan kesulitan untuk hadapi gempuran fintech karena sektor ini belum diregulasi dengan ketat seperti bank,” ujar Gareth Wilson, head global payment of Accenture.

Accenture mengatakan telah meneliti tren dalam bagaimana konsumen berubah dalam melakukan pembayaran karena adanya teknologi dan pontensi kehilangan pendapatan bank. Diprediksi 8% pendapatan bank dari pembayaran terancam karena adanya layanan tak berbayar. Booming digital berarti bank harus mengubah cara mereka berpikir secara mendasar tentang komposisi mendapatkan pendapatan.

McKinsey & Company,dalam laporan terbarunya berjudul Digital Banking in Indonesia : Building Loyalty and Generating Growth melaporkan penetrasi penggunaan layanan keuangan (financial services) melalui non perbankan atau melalui financial technology (fintech) di Indonesia masih sebesar 5%. Angka terbilang jauh lebih rendah dibanding negara lainnya. Tapi Indonesia merupakan negara dengan digitalisasi tercepat, dibanding Brazil dan Tiongkok. Cara orang mengkonsumsi sudah berubah dan sudah lebih dalam. Sudah lebih banyak variasi produk yang digunakan.

Hasil survey yang dilakukan bersama Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Malaysia tercatat sudah mencapai level penetrasi 15%, Filipina 23%, Vietnam 16%, Taiwan 41%, Thailand 10% dan Myanmar 6%. Penetrasi Indonesia bahkan sangat jauh dibanding Jepang yang sudah mencapai 39%, Korea Selatan 53%, Taiwan 41%, New Zealand 54% dan Singapura yang mencapai 48%.

Karena masih banyaknya orang Indonesia yang nyaman menggunakan uang tunai (cash) tapi perlahan-lahan suatu saat akan berpindah menggunakan non-tunai, seperti masyarakat di negara tetangga.

Hasan Parinduri seorang eksekutif muda di kota Medan membayar pajak di marketplace ternama, malah di beri ‘cashback’ . Tentu perilaku seperti akan sangat berdampak kepada Fee Based Income perbankan.

Perbankan harus segera memasukkan startup fintech sebagai kompetitornya. Pasalnya kini muncul tren baru di dunia, para regulator menerbitkan lisensi bank digital untuk fintech.

Dengan lisensi ini maka fintech akan bisa bertindak layaknya bank. Fintech bisa mengimpun dana masyarakat dan menyalurkan dana tersebut sebagai pinjaman kepada masyarakat. Kabar terbaru datang dari Australia yang memberikan lisensi bank digital atau online kepada fintech Xinja Bank. Fintech ini akan menantang dominasi 4 bank terbesar di Australia.

Lisensi bank digital atau online merupakan gelombang baru di Asia. Fintech kini akan bersaing langsung dengan bank karena memiliki lisensi mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkan kredit. Singapura memulai proses untuk mengeluarkan hingga lima lisensi bank digital, menurut kabar angin salah satu yang tertarik adalah Grab.

Mungkin suatu saat Perusahaan financial technology (Fintech) meng akuisisi bank umum kegiatan usaha (BUKU) I atau II ? Bagaimana bank memandang kemungkinan munculnya tren tersebut? Apakah Fintech merupakan ancaman atau dapat menjadi mitra? (**)

Penulis adalah Wakil Ketua Kadin Sumut Bidang Perbankan

Check Also

ASEPHI Dituntut Mampu Bangkitkan Usaha Eksportir

MEDAN, Waspada.co.id – Keberadaan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handycraft Indonesia (ASEPHI) diharapkan mampu membangkitkan dunia ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.