Home / Artikel Pembaca / Disrupsi Digital, ‘Badai’ PHK Ancam Perbankan
Hendra Arbie

Disrupsi Digital, ‘Badai’ PHK Ancam Perbankan

Oleh:
Hendra Arbie

Waspada.co.id – Lezatnya bisnis keuangan yang dijalankan perbankan kini dibayangi ancaman. Semua di awali dari revolusi digital. Sektor keuangan termasuk yang diprediksi bakal terguncang teknologi digital yang kini merambah industri jasa keuangan. Kabar cukup mengejutkan datang dari perbankan, ditengah besarnya laba bank, ternyata terdapat ‘korban’ di dalamnya, yaitu karyawan. Karyawan yang dahulunya menjadi ujung tombak meraup laba, tengah diterjang badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Studi Mckinsey Global Institute memproyeksikan ada 800 juta tenaga kerja secara global bakal tereliminasi oleh sistem otomatisasi dan digital. Kini, bukan isapan jempol lagi. Studi yang dirilis akhir tahun 2017 tersebut, perlahan mulai terbukti. Dalam lima tahun ke depan dikatakan oleh Vikram Pandit, bekas bos Citi Group memperediksi kan 30% pekerjaan di bank bisa menghilang. Otoritas juga tidak membantah prediksi itu.

Di dalam negeri, industri yang dalam operasinya bersentuhan dengan teknologi berbondong-bondong mulai memangkas tenaga kerja, menutup kantor cabang, dan beralih menggunakan aplikasi. Hal itu paling kentara terjadi di perbankan. Berdasarkan data yang dimiliki Jarkom SP Perbankan, sudah ada 50.000 karyawan bank yang kena PHK. Arus PHK sudah terjadi sejak 2016.

Digitalisasi produk dan layanan keuangan dikhawatiran menjadi ancaman gelombang PHK massal terjadi di sektor perbankan. Sudah mulai keluar kebijakan-kebijakan yang mengancam pekerjaan para pekerja akibat cepatnya perkembangan teknologi di Bank, perbankan tak lagi harus banyak kantor cabang dan mempekerjakan banyak karyawan, ancaman ini sudah dimulai dengan sentralisasi unit dan fungsi kerja di cabang ke kantor pusat, pengembangan teknologi perbankan, artificial intelligence dan lain sebagainya, ujar salah seorang pengurus SP Bank.

Bankir-bankir terancam dengan digitalisasi tersebut. Terutama, yang bekerja di bagian teller, customer services sampai officer kredit. Contoh, jika dulu peran customer service di bank masih penting, saat ini perlahan sudah mulai muncul teknologi Chatbot / Virtual Assistant atau software untuk percakapan. Kelak, bila Blockchain Revolution menjadi kenyataan, maka bukan hanya mesin ATM yang menjadi besi tua, melainkan juga mesin-mesin EDC. Ini tentu akan merambah panjang daftar pekerjaan-pekerjaan lama yang akan hilang.

Fakta mengejutkan datang dari Bank Mandiri dan Bank BCA. Elektronifikasi dan digitalisasi di kedua bank tersebut sukses menciptakan operational cost efficiency hingga angka 46%. Bank Mandiri mengakui, saat ini transaksi nasabah yang langsung ke kantor cabang tinggal hanya 6%, sebesar 94% bertransaksi di e-channel. Demikian pula pengakuan Direktur BCA, mengatakan bahwa transaksi langsung bahkan hanya tersisa 3% saja.Selebihnya, nasabah mereka beralih ke elektronik dan digital banking.

Ini artinya pekerjaan karyawan bank akan semakin terkikis, diakuisi oleh aplikasi. Elektronifikasi dan digitalisasi tak terbendung lagi. Sebab selain bermanfaat bagi efisiensi industri, juga jadi opsi primer nasabah yang tidak mau ribet menguras waktu dan energi ke kantor-kantor cabang, antre berjam-jam.

Bank ingin mengedepankan efisiensi dengan menekan biaya operasional. Digitalisasi memang bertabur kenyamanan, tapi ada konsekuensi yang harus dibayar untuk itu. Dan kini, giliran para karyawan bank yang siap-siap membayar dampak digitalisasi di sektor perbankan.

Namun di balik semua rentetan disrupsi tersebut, pasti selalu ada peluang baru yang tercipta. Tantangannya adalah bagaimana pelaku usaha membaca perubahan tersebut dan mengubahnya menjadi peluang. Bagi yang mengambil peran sebagai tenaga kerja, saatnya anda menyiapkan kuda-kuda exit strategy jika tempat Anda berkiprah dilibas disrupsi.

Anda bisa mulai menyiapkan diri menjadi bagian pekerja yang berada di balik teknologi otomatisasi, kecerdasan buatan dan aneka aplikasi yang bakal semakin digandrungi.

Karena itu, teknologi juga diprediksi akan mengurangi jumlah tenaga kerja untuk bagian front office dan customer service. Pegawai bank saat ini dituntut untuk memperbanyak skill alias keahlian, terutama keahlian digital.Pegawai harus banyak belajar di luar kompetensinya, karena posisi yang paling riskan diganti mesin adalah front office dan customer service.

Nah bagi anda yang bekerja di dunia perbankan siap-siap untuk menghadapi kejutan kejutan di masa mendatang, dan persiapkan diri dengan ilmu yang sesuai dengan kebutuhan industri 4.0. (**)

Penulis Adalah Wakil Ketua Kadin Sumut Bidang Perbankan

Check Also

Ivan Batubara Dipercayakan Jadi Ketua Tim Kampanye Jokowi-Amin di Sumut

MEDAN, Waspada.co.id – Ivan Batubara menjatuhkan pilihannya pada Pemilihan Presiden 2019 kepada pasangan Joko Widodo ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: