Home / Artikel Pembaca / Dilema Kenaikan Suku Bunga The Fed dan Kaitannya Terhadap Perekonomian Indonesia

Dilema Kenaikan Suku Bunga The Fed dan Kaitannya Terhadap Perekonomian Indonesia

WOL Tahun 2008 adalah masa yang kelam bagi perekonomian Amerika Serikat. Negara adidaya tersebut jatuh ke dalam fase resesi dikarenakan kegagalan program Subprime Mortgage, suatu desain perbankan untuk kredit kepemilikan rumah bagi kalangan kelas menengah bawah. Efek domino pun terjadi dan menyebabkan sektor keuangan Amerika Serikat mengalami kerugian mencapai milyaran dolar.

Pun kondisi bursa saham negara tersebut mencapai titik terendahnya dalam rentang waktu 2 dekade terakhir. Untuk mengatasi keadaan darurat tersebut, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan bail out ( dana talangan) sebesar 700 milyar dollar dan memangkas tingkat suku bunga dari 2% menjadi 1,5% untuk menggerakkan sektor riil.

Hal tersebut berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi melambat di angka 6,1%. Menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 6,3%. Hal ini dikarenakan terjadinya defisit neraca pembayaran. Permintaan barang impor dari Indonesia dari pasar global mengalami penurunan sehingga jumlah ekspor Indonesia pun ikut menurun.

Tujuh tahun telah berlalu. Perlahan sinyal kebangkitan perekonomian negara adidaya tersebut mulai terlihat. Paket kebijakan moneter yang pada awalnya diragukan oleh banyak pengamat ekonomi ternyata berdampak cukup signifikan terhadap perekonomian Amerika Serikat.

Seiring dengan dengan pulihnya kondisi perekonomian AS, maka timbul spekulasi The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada tahun 2015 ini . The Fed sendiri berada dalam kondisi dilema karena pada satu sisi kenaikan tingkat suku bunga dapat meningkatkan investasi yang masuk ke negara tersebut,aliran dana dari investor asing dapat melonjak naik dan peningkatan nilai mata uang dolar. Tetapi di sisi yang lain kebijakan tersebut akan berdampak negatif diantaranya menimbulkan kenaikan inflasi, pengangguran,dan fenomena super dollar, kondisi dimana nilai dolar sangat superior terhadap mata uang asing yang nantinya berdampak pada peningkatan jumlah impor karena harga produk dari luar Amerika Serikat akan lebih murah dibandingkan dengan produk negara tersebut.

Dengan semakin lamanya spekulasi yang berkembang terkait dengan kenaikan tingkat suku bungan acuan yang dikeluarkan The Fed, hal tersebut berimbas terhadap kondisi perekonomian Indonesia di tahun 2015 ini. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8% dirasa terlalu ambisius oleh beberapa pihak. Nilai Gross Domestic Product (GDP) akan mengalami penurunan dari segi investasi yang masuk ke Indonesia karena aliran dana dari investor akan mengalir deras ke Amerika Serikat. Tantangan yang dihadapi Indonesia di masa yang akan datang adalah bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan GDP dengan cara pengaturan suku bunga, pembelanjaan pemerintah dan peningkatan nilai ekspor.(***)

Penulis: Nama : Rini Nurul Aini
Alamat : Jl.Sariasih II No 28,Sarijadi, Bandung 40151
Institusi: Mahasiswa S2 Magister Bisnis Administrasi Institut Teknologi Bandung.
No email :
rininurulaini@gmail.com

Check Also

Hasil Akhir Vaksin MR Tak Mengandung DNA Babi, Kok Bisa?

Waspada.co.id – Masih hangat polemik status vaksin Measles Rubella (MR) yang hingga kini masih menjadi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: