Home / Artikel Pembaca / Cegah Aksi Terorisme dan Faham Radikalisme

Cegah Aksi Terorisme dan Faham Radikalisme

Oleh: Kompol M Purbaya SH SIK MT

WOL – Terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan. Terorisme merupakan kejahatan lintas negara, terorganisasi dan mempunyai jaringan luas sehingga mengancam kedamaian dan keamanan nasional maupun internasional (vide Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme).

Terorisme juga merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang juga disebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity). Terorisme di Indonesia merupakan perbuatan tindak pidana sehingga cara penanggulangannya dengan menggunakan hukum pidana sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Adapun teror ialah usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian atau kekejaman oleh seseorang atau golongan. Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut.

Saat ini terorisme telah menjadi suatu isu yang hangat dalam era globalisasi sekarang ini. Bagaimana tidak pada awalnya terorisme hanya menjadi concern masalah domestik suatu negara saja namun pada masa kontemporer ini terorisme telah menjadi cocern global.

Terorisme telah menjadi ancaman yang paling serius bagi kemanusiaan dan peradaban serta membawa dampak yang sangat besar di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Aksi teroris dalam berbagai bentuk dan tingkatannya telah tercatat dalam sejarah kehidupan bangsa dan antar bangsa di seluruh belahan dunia. Akhir-akhir ini serangan teroris semakin meningkat, modus operandi, senjata dan alat yang digunakan semakin canggih serta mempunyai daya perusak masal yang dahsyat sehingga telah menimbulkan korban manusia secara masal dan kerugian materiil yang besar serta berdampak luas dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara seperti aspek politik, ekonomi, sosial dan keamanan baik di tingkat nasional, regional, dan internasional.

Kejahatan terorisme secara global dalam enam bulan pertama di tahun 2013, National Consortium for the Study of Terrorism and Responses to Terrorism  (START) mendokumentasikan sekitar 5100 serangan teroris yang terjadi di seluruh dunia. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan 8500 serangan teroris pada keseluruhan tahun 2012. Selain itu pada tingkat regional dan naional, perkembangan terorisme di Indonesia mempunyai konektivitas dengan kelompok regional di Asia Tenggara seperti Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM), Moro Islamic Liberation Front (MILF) dan Abu Sayyaf Group (ASG). KMM merupakan bagian dari jaringan Al Qaeda dan memiliki hubungan dengan gerakan radikal milisi Islam di Indonesia ketika terjadi Konflik komunal di Ambon.

Dari keterangan tersebut dapat dilakukan analisa bahwa perkembangan faham terorisme dan radikalisme sudah semakin meluas, dimana perkembangannya tidak hanya pada ruang lingkup global tetapi sudah merambah pada tingkat regional asia dan nasional di negara Indonesia dan bahkan telah menyebar pada tingkat lokal yang ditandai dengan maraknya aksi-aksi terorisme dan radikalisme seperti ancaman dan bahkan pengeboman sehingga menyebabkan kerawanan yang dapat tergangunya stabilitas kamtibmas.

Perkembangan terorisme dan radilakisme di Indonesia telah menjadi permasalahan  serius yang dihadapi bangsa Indonesia, aksi-aksi tidak bertanggung jawab yang dilancarkan oleh segelintir orang dengan maksud dan tujuan yang mengatasnamakan kepentingan suatu golongan telah merusak keberagaman suku, agama dan ras yang ada di Indonesia, masalah teroris telah menjadi permasalahan dunia tidak hanya di Indonesia, modus yang dilakukan terosis adalah dengan menyebar teror atau ancaman kepada masyarakat atau suatu negara yang tujuannya menginginkan orang lain, kelompok, masyarakat atau negara merasa tidak nyaman dan mengalami ketakutan dan dipaksa untuk melakukan apa yang diinginkan para teroris. Terorisme biasanya dilandasi oleh ketidak puasan suatu kelompok yang tidak mampu melakukan perlawanan secara terbuka, modus terorisme di Indonesia adalah menyebar ancaman dan meledakan bom didaerah terbuka atau daerah ramai  dengan sasaran orang-orang asing yang ada di Indonesia berdasarkan pengakuan beberapa teroris tindakan mereka ditujukan kepada orang-orang yang berkewarga negaraan negara-negara yang bersebrangan paham dan negara yang melakukan penindasan terhadap golongannya.

Untuk itu  diperlukan strategi dalam mencegah berkembangnya faham terorisme dan radikalisme tersebut tidak hanya dilaksanakan melalui melalui penegakan hukum (repersif) namun juga harus diimbangi dengan kegiatan penangkalan (preemtive) serta pencegahan (preventive) dimana salah satunya adalah dengan mengoptimalkan adanya dukungan masyarakat terhadap giat kepolisian dalam upaya pemeliharaan keamanan dan ketertiban lingkungan khususnya mencegah berkembangnya faham terorisme dan radikalisme. Adapun beberpa upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
1. Melakukan serangkaian upaya pencegahan melalui kerjasama antara Polri dan masyarakat yang meliputi:
a. Menjalin komunikasi dan interaksi yang baik di tengah-tengah masyarakat, mulai dari keluarga, RT, RW, desa/kelurahan, dan lain-lain untuk mengetahui sejak dini adanya kemungkinan terjadinya aksi terorisme;
b. Meningkatkan rasa nasionalisme dengan memberikan penyuluhan tentang Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c. Memberikan penyuluhan tentang toleransi beragama dan keberagaman sebagai bangsa Indonesia;
d. Mensosialisasikan bahaya terorisme di kalangan mahasiswa, ibu rumah tangga, pemuda/remaja, pembantu rumah tangga, dan lain-lain, tentang dampaknya yang sangat merugikan masyarakat dan menghancurkan kesatuan dan persatuan bangsa;
e. Mewaspadai pendatang baru/asing yang bertamu/mengontrak/ kost dengan cara memperhatikan hal-hal yang janggal, tidak lazim, dan mencurigakan dari pendatang baru/asing tersebut untuk selanjutnya menginformasikan kepada Ketua RT/RW, Kades/Lurah, Bhabinkamtibmas/Babinsa setempat;
f. Aparat Desa/Kelurahan berhati-hati terhadap pendatang baru/asing yang mengajukan permohonan pembuatan KTP dan dokumen lainnya;
g. Apabila ada anggota keluarga yang pergi dengan tujuan tidak jelas dan tidak ada kabar tentang keberadaannya, segera melaporkan kepada Bhabinkamtibmas atau Kantor Polri terdekat;
h. Mewaspadai eks-napi teroris yang kembali ke masyarakat pasca menjalani hukuman, termasuk mewaspadai keluarganya;
i. Keluarga/sekolah agar mewaspadai anak yang menunjukkan sikap yang ekstrim/radikal;
j. Mewaspadai ajakan/bujukan untuk mengikuti kegiatan yang belum jelas tujuannya atau yang bertentangan dengan ajaran agama yang benar seperti ajakan rapat-rapat, pengajian, bedah buku, seminar, kajian agama, dan lain-lain.

2. Melakukan serangkaian upaya penanggulangan melalui kerjasama antara Polri dan masyarakat yang meliputi:
a. Melakukan upaya penindakan Penindakan, diantaranya dengan cara:
1) Apabila mengetahui atau menemukan benda yang mencurigakan, segera melapor kepada Bhabinkamtibmas atau Kantor Polri terdekat;
2) Apabila mengetahui adanya aksi terorisme, agar segera melaporkan kepada Bhabinkamtibmas atau Kantor Polri terdekat;
3) Apabila mengetahui atau menemukan orang yang dicurigai sebagai pelaku aksi terorisme segera melaporkan kepada Bhabinkamtibmas atau Kantor Polri terdekat;
4) Membantu aparat Polri dengan memberikan informasi tentang orang yang diduga sebagai pelaku terorisme (ciri-ciri, pekerjaan, kebiasaan, kegiatan, teman bergaul, dan lain-lain);
5) Tidak melindungi/menyembunyikan orang yang diduga sebagai pelaku terorisme.
b. Melakukan upaya deradikalisasi, diantaranya dengan cara:
1) Menyadarkan pelaku/eks-pelaku bahwa aksi terorisme merupakan pelanggaran hukum dan penyimpangan ajaran agama;
2) Tidak mengucilkan eks-napi teroris yang kembali ke masyarakat setelah menjalani hukuman, melainkan menyadarkan dan melibatkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
3) Mengadakan bimbingan (konseling) dan penyuluhan kepada pelaku/eks-pelaku teroris beserta keluarganya;
4) Membantu mencarikan pekerjaan bagi eks-napi teroris yang kembali ke masyarakat pasca menjalani hukuman.

Menyikapi hal tersebut pencegahan terorisme dan faham radikalisme memang harus mulai dari masyarakat, karena masyarakat memiliki daya tangkal dan daya cegah. Masyarakat merupakan korban sekaligus pelaku. Oleh karena itu salah satu upaya yang dilakukan oleh Polri adalah dengan memberdayakan peran Bhabinkamtibmas dan para pengemban polmas dalam pembinaan yang maksimal dan berkelanjutan guna membatasi ruang gerak para pelaku teroris dalam rangka mewujudkan stabilitas kamtibmas. Pembinaan masyarakat tersebut menekankan pada pendekatan kemanusiaan (humanistic approach), sehingga mampu menjadi representasi dan sekaligus menjadi ujung tombak serta penghubung antara Polri dan masyarakat, mampu melakukan interaksi dengan lebih intensif, proaktif, terprogram, sistematis, berkesinambungan dan kreatif menuju tumbuh suburnya sistem penyelenggaraan kegiatan pengamanan masyarakat secara terkoordinir, terarah dan selaras dalam rangka menanggulangi gangguan kamtibmas.(wol/roy)

Penulis Adalah: Pasis Sespimmen 56

Check Also

Pasar Baru Jalan Seksama Diresmikan

MEDAN, Waspada.co.id – Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin, meresmikan Pasar Baru Seksama, Rabu (19/9), di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: