Breaking News
Home / Artikel Pembaca / Catatan Penting Kepada Rektor USU

Catatan Penting Kepada Rektor USU

WOL – Rektor USU terpilih, Prof. Runtung Sitepu telah resmi dilantik oleh Ketua Majelis Wali Amanat (WNA), Todung Mulia Lubis di Auditorium USU pada tanggal 28 Januari 2016 sebagai Rektor USU defenitif periode 2016 – 2021 (Waspada online, 28/1/2016). Banyak catatan dan/atau masukan telah diberikan kepada Rektor USU baik dari civitas akademika USU maupun orang luar di banyak media massa nasional maupun lokal yang terbit di Sumatera Utara. Penulis sendiri telah memberikan dukungan di salah satu media cetak di Medan dalam opininya berjudul: “Mari Dukung Tekad Rektor USU”, dan mendukung penuh tekad Prof. Runtung Sitepu untuk mensejajarkan USU dengan ke-21 PTN/PTS di Indonesia yang telah mengantongi akreditasi A dimana beliau menyatakan bahwa: “Saya akan mempelajari rekomendasi dari BAN-PT. Kenapa B, kenapa C. Dari situ segera dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan akreditasi prodi yang ada, dan “Saya kira bagi saya tidak ada yang sulit. Dengan kebersamaan, semua bisa diatasi seberat apapun,” ucap Runtung optimis (Analisa, Sabtu, 23/1/2016).

Berbekal pengalaman sebagai dosen senior yang telah mengabdi 30 tahun di Universitas Nusa Cendana (Undana), terhitung sejak 1 Januari 1986, mantan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam (PPLHSA), Undana periode 2003 – 2007, mantan calon Rektor Undana periode 2013 – 2017, dan mantan calon Dekan Fakultas Peternakan – Undana periode 2015 – 2019, sehingga penulis memiliki sebuah catatan penting kepada Rektor USU bahwa peningkatan peringkat atau akreditasi USU semata-mata tergantung pada akreditasi setiap prodi di USU. Kini hanya 16 prodi dari 155 prodi di USU atau 10,32% yang berakreditasi A. Idealnya, sebuah perguruan tinggi dikatakan bermutu, jika lebih dari 60 % dari total prodinya terakreditasi A.

Penulis pernah terlibat langsung dalam pengisian borang akreditasi Program Studi Magister Ilmu Peternakan, Program Pascasarjana, Undana yang telah mengantongi akreditasi B sesuai SK 012/SK/BAN-PT/Ak-X/M/1/2013 dengan waktu daluwarsa sampai 10 Januari 2018, sehingga ia telah memahami betul penilaian instrumen akreditasi setiap prodi yang lebih ditujukan pada tingkat komitmen terhadap kapasitas dan efektivitas prodi yang dijabarkan menjadi 7 standar akreditasi: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaiannya; (2) tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu; (3) mahasiswa dan lulusan; (4) sumber daya manusia; (5) kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik; (6) pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi; dan (7) penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama. Ke-7 standar penilaian instrumen ini dituangkan dalam 3 berkas penilaian, terdiri dari: (1) laporan evaluasi-diri prodi; (2) borang akreditasi; dan (3) borang akreditasi unit pengelola prodi.   Perincian penilaian ketiganya: (1) borang prodi (75%), (2) evaluasi diri prodi (10%); dan (3) portofolio fakultas/sekolah tinggi (15%). Secara umum, masing-masing berkas mencantumkan sejumlah elemen penilaian yang terdiri dari 53 elemen penilaian yang terbagi dalam 155 deskriptor: (1) 100 diisi prodi, (2) 44 diisi unit pengelola dan (3) 11 merupakan evaluasi-diri.

Penulis pun telah memahami dengan baik 8 tahap proses akreditasi dari BAN PT: (1) asesmen kecukupan yang sebelumnya dikenal dengan istilah desk evaluation, berupa: (a) penilaian secara kualitatif dan kuantitatif oleh masing-masing anggota Tim Asesor; (2) asesmen lapangan, yang sebelumnya dikenal dengan istilah visitasi, terdiri dari tiga tahap: (a) penyusunan berita acara antara Tim Asesor dengan Pimpinan Prodi; (b) penyusunan berita acara antara Tim Asesor dengan Pimpinan Fakultas/Sekolah Tinggi; (c) penilaian secara kualitatif dan kuantitatif; (d) penyusunan komentar dan rekomendasi; dan (3) pembobotan nilai, validasi hasil asesmen dengan dengan keputusan akreditasi, meliputi: (a) perhitungan nilai bobot hasil penilaian kualitatif dan kuantatif dan perhitungan nilai sementara akreditasi program studi sarjana atau pascasarjana; (b) validasi hasil asesmen lapangan Tim Asesor; dan (c) keputusan akreditasi.

Setiap standar dan/atau elemen dalam instrumen akreditasi dinilai secara kualitatif maupun kuantatif dengan menggunakan quality grade descriptor: (1) sangat baik (skor 4), jika semua kinerja mutu setiap standar atau elemen yang diukur sangat baik; (2) baik (skor 3), jika semua kinerja mutu setiap standar atau elemen yang diukur baik atau tidak ada kekurangan yang berarti; (3) cukup (skor 2), jika semua kinerja mutu setiap standar atau elemen yang diukur cukup, namun tidak ada yang menonjol; (4) kurang (skor 1), jika semua kinerja mutu setiap standar atau elemen yang diukur kurang; dan (5) sangat kurang (skor 0), jika semua kinerja mutu setiap standar atau elemen yang diukur sangat kurang atau tidak ada.

Pada umumnya, hasil akreditasi institusi perguruan tinggi dinyatakan sebagai Terakreditasi dan Tidak Terakreditasi yang diberi peringkat/akreditasi: (1) A (Sangat Baik): nilai akreditasi: 361 – 400; (2) B (Baik): nilai akreditasi: 301 – 360; (3) C (Cukup): nilai akreditasi: 200 – 300; dan (4) Tidak Terakreditasi: nilai akreditasi < 200. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 28 Tahun 2005 tentang Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, Pasal 10 ayat (1) pelaksanaan akreditasi pada program dan/atau satuan pendidikan tinggi dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali. (2) pelaksanaan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan kurang dari 5 (lima) tahun apabila perguruan tinggi yang bersangkutan mengajukan permohonan untuk diakreditasi ulang.

Semoga beberapa catatan penting yang terbaca dalam tulisan ini dapat bermanfaat bagi Rektor USU, karena khusus penulis memahami betul strategi pembuatan borang dari para asesor sesama kolega guru besar yang pernah menyarankannya agar : (1) perlu dibaca dan dipahami dengan baik pedoman membuat borang yang diisi secara praktis dan jangan dimasukan teori apapun; dan (2) hindari budaya “copy – paste” dari prodi lain. Terpenting dari itu, penulis telah bertekad dari awal untuk mendukung tekad Rektor USU lewat telah tampil sebagai “pembicara diundang” (“invited speaker”) mewakili prodi Peternakan, Fakultas Pertanian USU dimana semua prosiding dan sertifikat yang didapatnya telah diserahkan kepada Ketua Program Studi (Dr.Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si) dan Dekan Fakultas Pertanian USU (Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS), ketika mengikuti: (1) 6th International Seminar on Tropical Animal Production, University of Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia, 20 – 22 October 2015; (2) 5th International Conference Sustainable Agriculture for Developing Countries, October 27 – 30, 2015, Pattaya, Thailand; (3) 5th National Seminar on Indigenous Poultry dan Kongres MIPI, Universitas Diponegoro, Semarang, 18– 19 November 2015; (4) Seminar Nasional Fapet Undana, Hotel IMA – Kupang, 28 November 2015; dan (5) sebagai pembicara dan/atau “penulis kedua” (co-author) bersama Direktur Politeknik Negeri Medan (M. Syahruddin, ST, MT) di Seminar Internasional di Politeknik Negeri Medan pada tanggal 29 Januari 2016 untuk kami makalah berjudul (a): “Development of Higher Education Policies in 10 ASEAN Member Countries in Entering the Era of ASEAN Economic Community Implementation After 2015” dan sebagai “penulis terakhir” bersama Netty, SE, M.Si, Nursiah Fitri, SE, M.Si Alemina, SE, M.Si, dan Dra. Iriance, M.Ed.M dalam makalah kami berjudul (b): “Benefits of Graduates’ Holding Professional Certification in Entering the Era of ASEAN Economic Community After 2015” ***

Oleh: Prof. Yusuf L. Henuk, Ph.D
*Penulis adalah Guru Besar Pindahan dari Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang yang sedang mengurus kelengkapan administrasi kepindahannya ke Fakultas Pertanian USU.

Check Also

WOL Photo

Inilah Kronologis Penangkapan Sabu 133 Kg dan 42.500 Ekstasi

LHOKSEUMAWE,WOL – Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat, meringkus tiga tersangka yang diduga terlibat dalam peredaran ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.