Home / Artikel Pembaca / Binalitas Pertunjukan Dangdut Masa Kini

Binalitas Pertunjukan Dangdut Masa Kini

Oleh: Suharyanto

Para penonton…Bapak-bapak, Ibu-ibu, semuanya
Jangan heran kalau Inul sedang goyang
Rada panas, agak seksi
Ma’afkanlah…

Para penonton…Bapak-bapak, Ibu-ibu, semua yang ada disini
Ada yang bilang:dangdut tak goyang bagai sayur tanpa garam
kurang enak, kurang sedap

WOL – Sepenggal lirik lagu yang dipopulerkan oleh Inul Daratista (dirilis Mei 2003) mengingatkan kembali mengenai Dangdut. Dangdut identik dengan musiknya rakyat  Indonesia. Andrew N Weintraub menyimpulkan bahwa dangdut ialah musik, identitas dan budaya Indonesia.

Mulai dari diperkampungan hingga diperkotaan menikmati musik dangdut sebagai sarana hiburan yang murah meriah. Awalnya, istilah dangdut tidak lepas dengan “orkes Melayu”. Konon kata dangdut berasal dari bunyi alunan gendang/tabla (alat perkusi dari india) yang menghasilkan suara “Dang” serta “Dut”. Menurut catatan William Frederick, istilah dangdut muncul awal 1970-an dengan mempunyai lirik dan syair berisi nasihat, dakwah, dan bernilai positif serta menggunakan kostum yang sangat baik, sopan dan bermartabat.

Semarak zaman dengan ditandai majunya teknologi, peradaban mode fashion yang merajalela membuat konsep dangdut menjadi berubah total. Dangdut pada awalnya hanya sebagai media hiburan untuk masyarakat. Tetapi kini dangdut “tidak mempunyai arti dan arah tujuan”. Hal ini terjadi karena kualitas musik dangdut masa kini “dinomorduakan”.

Penyanyi dangdut masa kini hanya mementingkan komersialisai, kepopuleran dan sensasional. Sensasional bukan dengan karya yang baik tetapi dengan goyangan yang cenderung mengandung negatif yang tinggi. Mudahnya saat ini mencari kepopuleran dimanfaatkan oleh penyanyi dangdut untuk mendongkrak nama besar mereka. Salah satu cara dengan membuat penamaan goyang yang “aneh dan fantastis” sehingga menimbulkan mindset (cara pandang) seksualitas dan kebinalan bagi penonton dan penikmat dangdut itu sendiri.

Binal dipersepsikan sebagai sesuatu yang liar, nakal, serta tidak terkendali. Binalitas identik juga dengan seksualitas. Di dalam tulisan ini, Penulis mengkhusyukkan permasalahan terhadap goyangan pada pertunjukan dangdut masa kini terkhusus di era awal 2000an. Dangdut masa kini identik dengan goyangan dan antifeminim. Ini dibuktikan dengan ramainya penyanyi penyanyi dangdut menamakan goyang dumang (dipulerkan oleh Cita Citata), goyang patah patah (dipulerkan oleh Anisa Bahar), goyang itik (dipulerkan oleh Zaskia Gotik), goyang uget uget (dipulerkan oleh DJ Ay Claudia), goyang pinguin (dipulerkan oleh Duo Walangsangit), goyang bebek (dipulerkan oleh De Mocca), goyang ngecor (dipulerkan oleh Uut Permatasari), goyang gergaji (dipulerkan oleh Dewi Persik), goyang cumi (dipulerkan oleh Manda Cello), goyang manjur (dipulerkan oleh Siti Badriah),goyang ngebor (dipulerkan oleh Inul Daratista), goyang caisar, dan lain sebagainya.

Tidak jelas apa maksud dari sang penyanyi menamakan goyangan mereka dengan penamaan yang “aneh”. Dampaknya sangat dahsyat mulai dari anak anak hingga orang tua sudah “teracuni” dengan konsep pertunjukan yang tidak biasa ini. Meskipun kita mengenal dangdut goyang pantura (goyang pantai utara jawa) yang familiar dan sensasional, dangdut keyboard mak lampir yang populer di desa Perbaungan, Sumatera utara dengan menawarkan waria yang seksi dan ular piton sebagai “plus-plus”nya.

Anehnya, pertunjukan dengan konsep pertunjukan goyangan ini banyak sekali dimanfaatkan sebagai “alat kendaraan” dalam kampanye calon kepala daerah untuk menarik massa dan pendukung.

Ciri ciri penyanyi dangdut yang dikategorikan mempunyai goyangan binal dan sensasional dengan menggunakan celana ekstra ketat (terutama di daerah pinggul kebawah), make up yang ekstra tebal, rambut yang di corak warna warni, penamaan grup yang cenderung “ketidaknormalan” (seperti duo racun, duo serigala, dua singa, dan lain lainnya), perhiasan yang megah menggunakan blink-blink , serta membuat pemberitaan yang cenderung provokatif.

Timbulnya sosok kontroversial dikalangan penyanyi dangdut saat ini membuat para sesepuh dangdut merasa “gerah”. Kita masih ingat konflik antara “sang raja dangdut” Rhoma Irama dengan Inul Daratista pada tahun 2003 yang berawal dari “panas” nya goyangan yang dipertontankan Inul pada saat itu. Hal ini menarik perhatian Penulis, karena saat ini pemikiran masyarakat terhadap dangdut bukan karena kualitas musiknya tetapi goyangannya yang vulgar. Bahkan ada statement dari masyarakat yaitu dangdut itu harus seksi, dangdut itu harus montok, dangdut itu harus binal.

Oleh sebab itu, wajar saja jika saat ini kita berada di zaman kejahilian jilid kedua. Mengingatkan kembali pemikiran kita pada zaman jahiliah, Rasullah SAW pernah murka terhadap kebiadaban orang kafir yang mempertontonkan bahkan membayar perempuan yang sedang menari perut bahkan menari bertelanjang dada dengan eksotis. Akankah hal ini terjadi disaat modern ini, jawabannya mungkin sangat bisa sekali tetapi dengan konsep yang lebih “gila”.

Terakhir, Penulis berkesimpulan bahwa hilangan nilai estetis dari pertunjukan dangdut disebabkan oleh gaya hidup penyanyi, sensional penyanyi, goyangan penyanyi dan komersialisasi. Dangdut kita pandangan sebagai hiburan masyarakat yang berkualitas bukan sensualitas serta binalitas. Mari kita kembalikan dangdut pada khittah  yang sebenarnya.

“DANGDUT is the music of my country, my country oh my country”
(judul lagu Project pop dirilis Oktober 2008 dalam album Top of the Pop)

Penulis: Guru Seni Budaya SMP Harapan 1 Medan, Pengamat Musik, Pemusik

Check Also

Penukaran Kartu GPN Capai 141 Ribu di Sumut

MEDAN, Waspada.co.id – Sejak 22 Oktober sampai 2 November, penukaran kartu ATM/debit berlogo Gerbang Pembayaran ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: