Home / Artikel Pembaca / Apakah Medan Sudah “REDI-BENAR”?

Apakah Medan Sudah “REDI-BENAR”?

WOL – Dua jargon di atas pasti sudah tak asing kita dengar belakangan ini, terminologi yang menjadi simbolisasi konsep dari dua pasang menjadi pemimpin Medan masa depan.

 

Jargon tersebut tersebar ke segala lapisan masyarakat dengan berbagai strategi dan pendekatan, mulai dari verbal hingga non verbal, mulai dari paparan langsung hingga paparan dunia maya, bahkan selalu mengiringi abang becak yang selalu hadir di jalan-jalan kota Medan. Jargon-jargon yang digunakan pun bakal saling bersinggungan bak pujangga yang saling berbalas pantun.

 

Ibarat sebuah perusahaan yang baru mengembangkan produk baru, pastilah ingin produknya laku keras di pasaran.Tentunya diperlukan strategi pemasaran yang jitu untuk menarik keinginan konsumen. Ada yang melibatkan emosional konsumen agar mau membeli, ada yang menawarkan garansi dan manfaat berbeda, ada juga yang menyajikan secara komparatif, dan ada yang menyajikannya dengan diskon-diskon atau bahkan layanan gratis serta ada pula yang menampilkan sosok agar produk tersebut laku di pasaran.Bila dikaitkan dengan terminology di atas, hal ini juga terjadi dan bahkan beririsan menjadi satu tematik baru. Strategi marketing yang terorientasi pada unsur komersil, kini dengan strategi pemasaran tersebut nilai-nilai dari dua jargon di atas pun terkomersilkan.Sehingga dalam istilah yang lebih pakem sering disebut marketing politik.

 

Dimana substansi yang akan dibahas? Unsur pembentuk cerita sebelumnya tidak jauh beda dengan marketing dalam konteks bisnis mulai dari positioning, segmentasi hingga pengembangan strategi melalui pemanfaatan media pun jadi alternatif paling mumpuni. Sehingga tak jarang kini kita lihat di media, menerapkan soft campaign, dan bahkan hampir quasiblack campaign (hanya saja lebih elegan karena berbasiskan pada data dan fakta) untuk menguatkan nilai dari produk yang ditawarkan tersebut.

 

Tidak hanya sampai disitu, penerapan marketing politik ini membangunkan kembali semangat silaturahmi.Silaturahmi yang dalam istilah saya sebut sebagai “silaturahmi katak”.Yakni silaturahmi yang dilakukan kepada tokoh-tokoh besar berpengaruh untuk mendapatkan dukungan pada saat pemilihan (layaknya katak yang melompat karena reaktif, bukan proaktif) yang dibesar-besarkan melalui media khususnya elektronik. Dari sekelumit cerita di atas, bila kita kaji lebih dalam ternyata media elektronik saat ini merupakan instrument terpenting untuk mengkampanyekan nilai-nilai dari terminology di atas Di jaman berbasis teknologi saat ini, ketergantungan orang terhadap media hampir mengalahkan ketergantungan orang sakit terhadap obatnya, sehingga praktis media jadi penyalur khusus nilai dari terminology di atas (harusnya).

 

Media secara positif dapat meningkatkan akses informasi kepada masyarakat sehingga wawasan dan pemahaman masyarakat akan lebih baik tentang suatu hal (idealnya), akan tetapi bila memasuki masa-masa pemilihan tak jarang media bergeser dari eksistensinya. Media yang secara substansi seharunya milik publik kini bergeser menjadi milik owner, sehingga sajian yang disuguhkan tak jarang selalu sejalan dengan kepentingan sang owner (habislah kita). Netralitas dan pemberitaan yang berimbang dengan prinsip triangulasi lekang karena kepentingan.

yang

Alhasil yang terjadi adalah keabu-abuan dalam memahami nilai dari jargon yang ditawarkan, apalagi bila ada kompetisi antara dua kutub yang saling bersebrangan.Inilah mungkin dampak dari penerapan marketing politik ini.Lazim terjadi, sesuatu yang terbangun dengan pondasi yang kokoh harus kalah dengan sesuatu yang bersifat instan dengan polesan-polesan media. Media adalah alat bukan substansi, oleh karena itu alat haruslah digunakan secara bijak agar alat tersebut dapat membantu mencapai tujuan dengan cara yang lebih benar.

 

Reinkarnasi Konsep

Dua Jargon di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa konsep tersebut bukanlah konsep murni, melainkan irisan berbagai konsep yang sudah ada sebelumnya menjadi sebuah konsep baru dengan kemasan dan penggagas yang baru. Mustahil membangun kembali dari nol dan mengesampingkan konsep yang sudah ada sebelumnya, karena pasti butuh sumberdaya yang sangat besar untuk mengimplementasikan konsep tersebut.

 

Disinilah kejelian kita sebagai konsumen harus melihat, mana konsep yang benar-benar berasa ibarat garam, dan mana konsep yang hanya sekedar cantik tapi tak berasa ibarat gincu. Kita dituntut harus mampu melihat konsep mana yang lahir dari pemikiran kritis, analisis strategis, mengakar serta tidak utopia sebagai sebuah visi, jangan sampai kita terjebak melihat konsep yang ternyata hanya rangkaian kata yang muncul dalam waktu satu, dua hari yang terlihat sangat visionablekarena terbalut strategi marketing politik tadi. Mengapa demikian?Perjalanan panjang demokrasi di Indonesia sudah harus mencerdaskan bangsa melihat pada substansi yang ditawarkan serta realisasinya nanti, bukan melihat pada info-info yang saling menegatifkan apalagi berkaitan dengan SARA. Masyarakat kita harus jadi masyarakat yang lebih modern dalam konteks ini, memilih dengan cara melihat substansi dan aksi, tidak lagi jadi masyarakat kuno yang cenderung memilih karena factor subjektivitas.

 

Jika kita mengklaim diri sebagai Negara berdemokrasi yang baik, maka masyarakat harus mampu tercerdaskan untuk berpartisipasi aktif dan positif dalam proses itu. Masyarakat harus terajak tidak lagi menjadi objek, tetapi subjek yang membantu mengawasi perjalanan semua ini, disitulah bukti bahwa masyarakat kita sudah lebih modern dan menjadi indicator Negara kita terbaik dalam berdemokrasi.

 

Tanggung jawab siapa?

Semua itu bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, pemerintah adalah perpanjangan tangan bangsa yang juga bisa salah langkah. Tanggung jawab itu juga bukan hanya milik media, karena meskipun secara substansi media adalah milik public tapi secara administrative media punya owner, sehingga bila ownernya “keblinger” maka informasi yang disampaikanpun jadi tidak intuitif dan informative, ujungnya masyarakat kembali lagi menjadi masyarakat primitive.

 

Tanggung jawab besar itu harusnya ada pada organisasi-organisasi yang bagian dari civil society, salah sarunya adalah partai. Mesin politik partai harusnya bisa bergerak secara proaktif untuk mencerdaskan masyarakat kita.Partai harusnya mampu membangun dan menjalankan pemahaman-pemahaman terhadap konsep tersebut jauh hari sehingga bisa lebih mengakar. Tetapi yang terjadi dalam kehidupan kita sepertinya berkebalikan, konsep tersebut akan maksimal disampaikan hanya menjelang momen-momen pesta demokrasi saja, konsep tersebut diperdebatkan di media-media hanya menjelang pesta demokrasi. Kita sering latah dalam menerapkan hal ini, hilir dari semua ini membuat masyarakat kita hanya menjadi masyarakat yang cenderung “konsumtif pragmatif”, memilih karena ada tawaran yang menggiurkan hanya dalam sesaat, hari, bulan dan tahun berikutnya masyarakat “nyegir”, gigit jari, dan menyesal karena telah memilih, dan akhirnya jadi masyarakat yang cenderung apatis terhadap apa yang terjadi pada Negara ini (seduhnya kita) karena sudah tidak mampu lagi bertindak karena keterbatasan dan pembenaran-pembenaran subjektif.

 

Semua hal ini menggambarkan kepada kita bahwa, apa yang terjadi pada kita hari ini merupakan konsekuensi dari pemahaman, pilihan dan tindakan-tindakan kita bertahun-tahun yang lalu. Jadi jangan pernah kita menyalahkan kondisi saat ini hanya dengan pendekatan cross sectional. Karena ini adalah kesalahan sistemik kita. Maka apakah 5 tahun ke depan kita mau berada dalam kondisi yang sama jawabannya tergantung kita saat ini. Pemerintah, civil society, media sebagai instrument harus bertindak positif saat ini bukan nanti.

 

Medan “Redi-Benar” dengan Revolusi Mindset

Maka jauh sebelum Indonesia ini bangkit kita harus mampu menjadikan Indonesia ini berkesadaran, karena mustahil bisa bangkit kalau kita tidak menyadarkan masyarakat kita, sudah tidak jamannya lagi masyarakat kita di paksa untuk bangkit, tetapi disadarkan untuk bangkit. Caranya haruslah lebih dahulu dilakukan revolusi mindset, karena mental seseoranga akan terbentuk dari mindset atau cara berpikir yang baik dan benar, setelah itu tercerminkan dalam diri dan aktivitas yang tersimbolkan menjadi mental.

 

Kebangkitan Jepang saat ini dari kehancuran kelam di perang dunia II terjadi bukan karena kaisar mengalokasikan sumber daya untuk membangun infrastruktur, tetapi mengajak semua masyarakat untuk sadar berbangkit melalui transformasi yang dilakukan oleh guru-guru sebagai transformatornya.Indonesia merdeka bukan karena teks proklamasi yang disampaikan Soekarno-Hatta, melainkan karena para tokoh-tokoh kita mampu membangun kesadaran masyarakat untuk merdeka (meskipun belum seluruh masyarakat) dari lapisan paling bawah (grass root) hingga lapisan paling atas (kelas elit). Perubahan besar yang terjadi di dunia ini sebagian besar terjadi karena perubahan kesadaran dan cara berpikir, karena dengan merubah kesadaran dan cara berpikir maka peruabahan itu akan mengakar dan hasilnya akan bertahan sampai lama karena menjejak kuat di pondasi, bukan sekedar perubahan besar yang hanya bersifat sementara, dan akan pudar karena goncangan dan godaan.

 

Sudah tidak jamannya lagi masyarakat kita disajikan dengan-hal-hal yang saling menegatifkan, karena itu akan membawa masyarakat kita kembali menjadi masyarkat primitive, tapi mari sama-sama kita informasikan pada masyarakat, kita ajak masyarakat untuk sama-sama berkesadaran untuk bangkit dengan cara berpikir yang benar. Saatnya Medan “Benar-Redi” menghadapi masa depannya.

(Roni Gunawan/Alumni HMI Cabang Medan) CP : 085262821300

Check Also

Trump Banggakan Pencapaian, PBB Tertawa

NEW YORK, Waspada.co.id – Para pemimpin dunia yang menghadiri sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: