Breaking News
Home / Aceh / YARA Kawal Kasus Kerusakan Lahan Negara Diklaim Milik Pengusaha
WOL Photo
WOL Photo

YARA Kawal Kasus Kerusakan Lahan Negara Diklaim Milik Pengusaha

LHOKSUKON, WOL – Tim Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) terus mengawal perkara kerusakan sejumlah tanaman sawit di lahan milik negara yang diklaim milik salah seorang pengusaha asal Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. Perkara itupun berujung ke meja pengadilan.

Pada Rabu (22/11) sore, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon mengetok palunya dalam persidangan putusan perkara tersebut di ruang sidang terbuka pengadilan setempat. Tiga warga asal Gampong Blang, Kecamatan Lhoksukon terduduk diam mendengar vonis putusan itu.

Ketiganya masing-masing divonis satu tahun delapan bulan oleh majelis dikurang masa kurungan yang telah dijalani. Dalam hal ini Kuasa Hukum terdakwa, Indra Kusmiran SH (YARA) akan mengajukan banding tentang putusan dalam sidang tersebut. Untuk Pidana pihaknya juga akan mengajukan gugatan secara Perdata dan butuh proses.

“Kita akan mengajukan banding tentang putusan dalam sidang tersebut. Untuk Pidana kita juga akan mengajukan gugatan secara Perdata dan butuh proses. Mungkin dalam minggu ini, setelah kita ajukan dulu banding. Dan nanti kedepannya kita persiapkan terus tentang gugatan perdatanya,” jelas Indra, yang ditulis Waspada Online hari ini, Jumat (24/11).

Dijelaskan, sidang digelar mengenai penguasaan tanah milik negara oleh pihak individu. Pemerintah daerah juga sudah mencoba untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tapi pada saat ini, menurutnya belum ada titik penyelesaian, artinya masalah tersebut kata Indra karena kurangnya kepedulian Pemerintah Daerah atas Aset daerah.

“Kalau misalnya pemerintah daerah itu mengambil sikap, mereka bisa menentukan bekas sungai mati itu tetap milik negara dan tak boleh dikuasai oleh individu. Bahkan kalau misalnya sungai mati tersebut letaknya di Gampong Blang, sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 04 Tahun 2007 itu tetap kekayaan milik desa yang dikelola oleh desa. Siapa saja rencana yang ingin memilikinya harus melalui prosedur, tidak bisa semena-mena,” jelasnya kembali.

“Harapan kami, supaya pemerintah daerah mengambil sikap. Kalau misalnya ini dibiarkan maka banyak Aset milik negara akan dikuasai oleh pihak individu. Jadi kita menekankan kepada pemerintah daerah harus ambil sikap terhadap khususnya tanah milik negara ini,” tukas Indra berharap.

Akibat perkara itu, tiga warga asal Gampong Blang kini mendekam di sel tahanan LP Cabang Rutan Lhoksukon sejak Mei 2017 atas sangkaan merusak lahan (tanaman sawit dan sungai mati) yang diklaim milik seorang pengusaha yang status kepemilikannya masih dalam sengketa dan berbatasan antara Gampong Blang dengan Beuringen.

Ketiga warga atau terdakwa yaitu Mahdi, Iswandinur dan Baihaqi. Sidang dipimpin oleh Majelis Hakim yang diketuai Abdul Wahab SH, Hakim Anggota Bob Rosman, SH dan Maimunsyah SH, serta Panitera Pengganti Abdul Majid. Hadir juga Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Heriansyah SH, dan Rova Yovirsta SH.

Sementara tiga terdakwa didampingi kuasa hukum Safaruddin SH dkk, dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA). Dalam persidangan, majelis hakim menyatakan bahwa para terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pengrusakan dengan menggunakan alat berat jenis eksavator atau beko.(wol/chai)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

WOL Photo/Ilham

Ratusan Polisi Jaga Ketat Aksi di Konjen AS

MEDAN, WOL – Ratusan polisi dari Satuan Brimob turut dikerahkan mengamankan jalannya unjuk rasa dilakukan ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.