Breaking News
Home / Aceh / Tari Saman Gayo Diakui UNESCO
WOL Photo/Chairul Sya'ban
WOL Photo/Chairul Sya'ban

Tari Saman Gayo Diakui UNESCO

BLANGKEJEREN, WOL – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diwakili oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, menyebutkan tari saman adalah salah satu seni budaya milik orang Indonesia khususnya masyarakat Gayo Lues. Apalagi, tari saman Gayo Lues ini telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai seni yang harus tetap dijaga.

WOL Photo/Chairul Sya'ban
WOL Photo/Chairul Sya’ban

Hal ini disampaikannya dalam sambutan pada acara pagelaran tari saman massal yang diikuti 12.262 peserta yang berlangsung di stadion Seribu Bukit Desa Bustanussalam, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Minggu (13/8).

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Gayo Lues yang sudah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tari Saman adalah salah satu seni budaya milik orang Indonesia khususnya masyarakat Gayo Lues yang telah mendapatkan pengakuan dari Unesco sebagai seni yang harus tetap dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ucapnya.

Sementara itu Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, mengimbau kepada seluruh masyarakat Gayo Lues untuk bangga karena memiliki satu seni tari yang menjadi salah satu warisan budaya tak benda milik dunia.

“Dengan ini menyatakan membuka dan dapat dimulainya Pegelaran Tari Saman Massal yang sebelumnya akan melibatkan 10.001 penari, ternyata mampu diikuti oleh 12.267 Penari,” ujar Irwandi saat membuka pagelaran tari tersebut.

Dalam kesempatan itu, Hilmar Farid turut menyerahkan penghargaan “Inspirator Saman Gayo” kepada 15 orang Tokoh Gayo Lues.  Pagelaran Tari Saman secara massal yang melibatkan sekitar 12.267 Penari Pria dengan dipandu oleh 15 Penari Pria. Durasi tarian ini selama 36 menit yang dibagi ke dalam 3 sesi yaitu Sesi Pertama memiliki durasi 13 menit yang berisikan syair dan gerakan sebagai simbol ucapan terima kasih kepada Allah SWT dan selamat datang kepada para tamu.

Sesi Kedua memiliki durasi 12 menit yang berisikan syair dan gerakan sebagai simbol ajakan untuk tetap menjaga kelestarian dan keberadaan Gunung Lauser yang merupakan sumber mata air dan paru-paru dunia. Sesi Ketiga memiliki durasi 11 menit yang berisikan syair dan gerakan sebagai simbol penyampaian pesan-pesan moral dalam kehidupan, tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Selain dihadiri Gubernur Aceh dan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, tari saman ini turut disaksikan oleh Bupati Gayo Lues, Ketua Komisi X DPR RI Fraksi Demokrat, anggota Komisi X DPR RI fraksi Golkar, anggota Komisi II DPR RI Fraksi PDIP, anggota DPR RI fraksi PKB, Wakil Gubernur Aceh, Asisten Deputi Urusan Warisan Budaya Kementerian Koordinator PMK RI, Kepala Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Kemenko PMK RI.

Kemudian hadir pula Staf Analisis dan Substansi Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK/Perwakilan Penilai Dari Unesco, Kasubid Pemukiman dan Transmigrasi Kemenko PMK RI, Kapolres dan Dandim Gayo Lues, Kepala Staf Korem 011/Lilawangsa. (wol/chai)

Editor: Agus Utama

Check Also

Ilustrasi

Mewakili Ulama Aceh, Tgk Muslim Tolak Modifikasi Hukum Cambuk

LHOKSEUMAWE, WOL – Rencana modifikasi hukuman cambuk di Provinsi Aceh, kian hangat diperbincangkan. Polemik itupun ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.