Home / Aceh / Saatnya Jurnalis Aceh Dukung Program Pelestarian Hutan
WOL Photo/Ist
WOL Photo/Ist

Saatnya Jurnalis Aceh Dukung Program Pelestarian Hutan

BANDA ACEH, WOL – Jurnalis di Provinsi Aceh diharapkan mampu menjalankan fungsinya dalam mendukung program-program pelestarian hutan melalui pemberitaan yang layak untuk disampaikan ke publik.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam konferensi kota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh yang ke-8 sekaligus seminar yang mengusung tema “Merumuskan Peran Jurnalis dalam Mengawal Kawasan Ekosistem Leuser”, yang berlangsung di Grand Nanggroe Banda Aceh, Sabtu (07/04).

“Saatnya para jurnalis Aceh menjalankan fungsinya mendukung program-program pelestarian hutan melalui berita yang layak disampaikan ke publik. Jika ada yang perlu dikritisi, silahkan menyampaikannya secara terbuka. Dengan demikian semua kebijakan terkait pelestarian Kawasan Ekosistem Leuser atau KEL berjalan efektif dan mencapai sasaran sebagaimana diharapkan,” ujarnya.

Di sinilah peran jurnalis sangat dibutuhkan dalam mendukung program-program yang dijalankan Pemerintah Aceh. Undang Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang pers kata dia menegaskan, bahwa fungsi pers antara lain untuk mendidik, menyebarluaskan informasi, dan sebagai sosial kontrol. Dengan peran itu, pers sangat penting sebagai alat untuk mencerahkan masyarakat.

Dalam hal ini ia mengapresiasi permintaan AJI mengingat perhatian dunia terhadap KEL sangat tinggi. KEL merupakan kawasan hutan tropis yang memiliki peran sebagai penyimpan cadangan air, pengendali iklim mikro, dan penyerap karbon. Ia menjelaskan, total luas kawasan hutan itu mencapai 2,6 juta hektar terletak di dua provinsi di Sumatera. Dengan rincian, 385 hektar berada di Sumatera Utara, dan 2,25 juta hektar di Aceh.

“Sedikitnya ada 105 spesies mamalia, 382 spesies burung, dan 95 spesies reptil dan amfibi hidup di kawasan itu. KEL merupakan tempat terakhir di wilayah Asia Tenggara yang memiliki kualitas ideal untuk mempertahankan populasi spesies-spesies langka. Sumber Daya Alam yang ada di dalamnya sangat kaya, sehingga kerap digerogoti oleh orang- orang yang tidak bertanggungjawab,” jelas Nova.

Isu pelestarian KEL selama ini kerap mendapat perhatian dunia internasional terutama dengan mencuatnya isu perubahan iklim belakangan ini. Salah satu yang mendapat perhatian itu adalah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan hutan konservasi yang lokasinya di tengah KEL itu sendiri.

Nova kembali merincikan, bahwa di dalam KEL itu terdapat beberapa kawasan hutan strategis lain, yaitu Lokasi Taman Nasional Gunung Leuser seluas 26,72 persen, Kawasan Taman Buru seluas 1,29 persen, Suaka Marga Satwa 4,54 persen, Hutan Lindung 41,75 persen, Hutan Produksi 11,24 persen dan areal penggunaan lain seluas 14,46 persen.

Sesuai amanat Pasal 150 Undang Undang No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, kewenangan pengelolaan, perlindungan, pengamanan, pelestarian dan pemulihan KEL merupakan tanggung jawab Pemerintah Aceh.

“Namun khusus untuk TNGL yang luasnya berkisar 793 ribu hektar, pengelolaannnya berada di bawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser,” tukasnya.(wol/chai/data1)

 Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

foto: Istimewa

Isu Bantuan Sapi, Ahok Siap Kembalikan Uang Bantuan Warga

BLANGKEJEREN, WOL – Munculnya isu bantuan sapi untuk masyarakat Gayo Lues sebanyak 150 ekor,  yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.