Home / Aceh / Nestapa Janda Paya Demam Dua, Lumpuh dan Dicerai Suami
Anita terbaring kaku di rumahnya Dusun Glugur, Desa Paya Demam Dua, Kecamatan Pantee Bidari, Aceh Timur, Minggu (5/11). (WOL Photo/Ist)

Nestapa Janda Paya Demam Dua, Lumpuh dan Dicerai Suami

WOL – “Terimakasih ya,” ucap Anita (29), saat Waspada Online pamit pulang dari rumahnya, di Dusun Glugur, Desa Paya Demam Dua, Kecamatan Pantee Bidari, Aceh Timur, Minggu (5/11) siang.

Janda satu anak ini sudah lima tahun lebih terbaring sakit. Kedua tangan dan kakinya lumpuh. Anita masih bisa tertawa dan bicara, tapi artikulasi bahasanya sudah kurang jelas.

“Makan – minum disuapi. Kalau mau ke kamar kecil, saya angkat. Bahkan, ganti posisi tidurpun, harus saya yang bantu,” kata Nurhayati (61), ibunda Anita yang juga sudah menjanda sekitar sepuluh tahun.

Nurhayati mengisahkan, Anita awalnya terjatuh di sumur, usai mengambil wudhu untuk Shalat Subuh, tahun 2012 lalu. Beberapa saat setelah kejadian, Anita masih sadar dan sempat berteriak minta tolong. Tapi, tak lama berselang, Anita koma lalu dilarikan ke Rumah Sakit Sakinah, Lhokseumawe.

“Dari Sakinah langsung dirujuk lagi ke  RSU Zainoel Abidin Banda Aceh. Kata dokter, kondisinya parah. Anita baru sadar setelah 12 hari  12 malam dirawat di Banda Aceh. Sekitar sebulan kemudian, kami bawa pulang ke rumah,” kenang Nurhayati.

Saat itu, sambung Nurhayati, Anita dan suaminya belum cerai.  Suami yang tinggal di Rantau Peureulak Aceh Timur, sempat membawa Anita ke banyak tempat pengobatan alternatif, termasuk pada seorang Tabib Gayo di kawasan Lokop. Sayangnya, setelah setahun lebih berusaha, Anita tak kunjung sembuh, lalu dibawa pulang lagi ke Paya Demam Dua.

“Anita dan suami resmi bercerai 2014 lalu. Putra mereka sudah berusia 8 tahun. Kini tinggal bersama ayahnya dan ibu tiri di Rantau Peureulak. Lebaran haji kemarin, anaknya sempat bermalam di sini (Paya Demam Dua, red) sekitar sepekan. Ia diantar teman ayahnya. Sedangkan ayahnya sudah sekitar setahun tidak menjenguk. Mungkin malu,” tutur Nurhayati.

Sejak dibawa pulang lagi ke Paya Demam Dua, sambung Nurhayati, Anita sama sekali tidak menjalani pengobatan medis modern. Nurhayati mengaku was-was membawa lagi Anita ke rumah sakit lantaran tidak punya biaya.

“Biaya berobat ditanggung BPJS. Tapi untuk kebutuhan lain selama di rumah sakit, kan butuh uang juga. Paling-paling, selama ini Anita saya bawa ke tabib lokal. Itu pun hanya sesekali saja, ketika ada uang sedikit dari hasil panen padi di sawah atau ada yang beli jeruk bali,” pungkasnya.

Jhoni Faisal, tetangga Anita menambahkan, keluarga malang ini termasuk keluarga kurang mampu. Nurhayati memang punya sawah sendiri tetapi hanya sekitar dua rantai. Hasil panen hanya cukup untuk kebutuhan beras sehari – hari. Sementara untuk kebutuhan pokok yang lain, Nurhayati mengandalkan hasil panen jeruk bali dan beberapa pohon pinang, yang ditanam di pekarangan rumah.

“Anita anak ke empat dari enam bersaudara. Abang dan satu adiknya kini merantau di Malaysia. Tapi, hidup mereka di rantau juga masih susah. Begitu juga saudara kandung Anita yang lain, yang tinggal di kampung,” sebut Jhoni Faisal.

Amatan Waspada Online, rumah Nurhayati terbilang layak huni. Rumah terbuat dari kayu dengan ukuran sekitar 7×8 meter. Namun, tempat tidur Anita dibuat khusus di ruang dapur, dekat kamar mandi. Tempat tidur itu dirakit dari belahan pohon pinang yang dipasang jarang-jarang, dan di bawahnya ada perapian kecil yang sengaja dinyalakan untuk kebutuhan terapi. “Kayu bakarnya kayu khusus, agar asapnya jadi obat,” jelas Nurhayati.

Meski sudah lima tahun lebih lumpuh, ingatan Anita masih normal dan terlihat ceria. Anita masih ingat persis kapan ia jatuh sakit, masuk ke rumah sakit mana saja dan kapan ia mulai dimadu. “Geumeunikah 6 buleun lheuh long sakeet. Tapi geusom. (Suami saya menikah lagi setelah enam bulan saya sakit. Tapi, diam-diam),” ungkap Anita. (wol/ms/aa)

Editor: Agus Utama

Check Also

Doa dan Zikir Bersama Sambut Milad GAM ke-41

LHOKSUKON, WOL – Masyarakat di Aceh bersama pejabat Pemerintahan Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: