Home / Aceh / Meski Ditolak Hadir, Fachrul Razi Yakin Rakyat Aceh Masih Bersatu
foto: Istimewa

Meski Ditolak Hadir, Fachrul Razi Yakin Rakyat Aceh Masih Bersatu

BANDA ACEH, WOL – Anggota DPD RI asal Aceh, Fachrul Razi, mengatakan meskipun dirinya batal hadir pada pendeklarasian Front Gerakan Persatuan Aceh (G-PA) di Kabupaten Aceh Jaya yang digelar kemarin, Minggu (06/3), acara tetap saja berjalan lancar.

Batalnya kehadiran senator asal Aceh ini karena ada belasan orang yang berupaya menolak dirinya untuk hadir. Akan tetapi Fachrul Razi mengaku bahwa dirinya menghargai hal itu. Pihaknya memutuskan untuk tidak hadir sebagai upaya meredam agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

“Alhamdulilah acara kemarin berlangsung lancar meskipun saya batal hadir. Saya juga berterimakasih kepada panitia dan mahasiswa yang sudah mengundang saya dan juga kepada masyarakat Teunom yang sempat kecewa karena saya dihadang,” sebutnya saat dikonfirmasi Waspada Online, Senin (7/3).

Dirinya juga menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada pihak yang menolaknya untuk hadir ke lokasi acara tersebut.

“Mereka saudara saya juga, sama-sama Aceh dan sama-sama Indonesia. Untuk apa kita perbesar masalah, silahkan saja berbeda pendapat, itu lumrah dalam demokrasi. Yang penting rakyat Aceh harus bersatu, Insya Allah saya yakin rakyat Aceh masih bersatu,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, kemarin Minggu (6/3), Anggota DPD RI asal Aceh ini secara langsung akan mendeklarasikan Gerakan Persatuan Aceh (G-PA) di Kabupaten Aceh Jaya dalam rangka menjaga keutuhan Aceh.

Namun batal karena kehadirannya ditolak, sementara acara terus berlangsung dengan damai.

Menurutnya, G-PA yang merupakan front baru perjuangan rakyat Aceh ini dibentuk untuk menggalang persatuan dan kesatuan rakyat Aceh. Front GPA sendiri juga akan fokus pada perjuangan untuk menegakkan amanat MoU Helsinki dan UU Pemerintah Aceh, memperkuat Percepatan Pembangunan Ekonomi Dan Pemerataan Di Wilayah Barat Selatan, Tengah Dan Tenggara Aceh, dan menjaga keutuhan Aceh.

Semua elemen masyarakat mahasiswa, pemuda, perempuan, petani, nelayan, pedagang, pegawai pemerintah dan ulama serta mantan kombatan harus bersatu untuk menjaga Persatuan Aceh.

Perdamaian tahun 2005 lalu kata Fachrul, memberi banyak pengalaman dan pelajaran pada rakyat tentang sejarah dan keadaan pada saat konflik.

Keterbelakangan pembangunan, ekonomi dan sosial politik tidak mampu mengangkat Aceh dari ketertinggalan dengan provinsi lain di Indonesia.

“Ini disebabkan oleh karena kita tidak mempunyai sandaran yang kuat sebagai persiapan pembangunan. Dan kita tidak memiliki kesadaran yang kuat terhadap keutuhan Aceh,” pungkas Fachrul.(wol/chai/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

KPK Cegah Orang Dekat Gubernur Aceh Ke Luar Negeri

JAKARTA, Waspada.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) melakukan pencegahan berpergian ke luar negeri terhadap ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: