Home / Aceh / Melalui TV Asing, Pengungsi Rohingya Tatap Muka Dengan Kakaknya
Salah satu muslim Rohingya di Aceh Utara, Muhammad Ismail (tengah) sedang berbincang dengan Sispriani A.Md relawan Aksi Cepat Tanggap sebelum tatap muka dengan sang kakak di Malaysia, melalui tv asing

Melalui TV Asing, Pengungsi Rohingya Tatap Muka Dengan Kakaknya

LHOKSEUMAWE, WOL – Muhammad Ismail (13),  salah satu imigran Myanmar etnis muslim Rohingya masih terbaring lemah di RSUD Cut Meutia Buket Rata, Kota Lhokseumawe. Dia dikabarkan menderita penyakit hernia yang sudah lama.

Mengingat kisah pelarian dari Myanmar hingga akhirnya terdampar di perairan Aceh Utara membuat ia semakin lemah, terlebih lagi ia hanya sebatang kara. Ibu dan adiknya sudah meninggal dunia dibunuh Budhis di negaranya.

Sementara sang ayah, sampai kini tidak diketahui dimana. Hanya saja kakak kandungnya yang sudah dideteksi keberadaannya, yaitu menetap di Malaysia bersama sang suami.

Kendati demikian, ia berusaha untuk tetap tegar senyum sumringah dengan sapaan “salam” kepada setiap orang yang menjenguknya, termasuk tim televisi Media CORP Channel NewsAsia (www.channelnewsasia.com). Lantas, siapa televisi asing tersebut? yuk ikuti ceritanya.

Selasa kemarin (30/6), tiga orang crew televisi asal Kuala Lumpur, Malaysia itu tiba di Kabupaten Aceh Utara melalui jalur darat setelah turun di Bandara Blang Bintang Banda Aceh.

Mereka pun mendatangi komplek pembangunan Shelter (barak) untuk pengungsi muslim Rohingya di Desa Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara.
Setelah berbincang lama, tim televisi asing didampingi relawan lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT), Sispriani A.Md bergerak menuju RSUD Buket Rata, tempat dimana Muhammad Ismail dirawat.

Suasana yang mengejutkan itu justeru membangunkan dirinya dari kondisi yang tadinya lemah karena rindu keluarga yang keberadaannya pun entah dimana.

Sementara Sispriani A.Md mencoba untuk berinteraksi sebagai suport agar Muhammad Ismail tetap tegar. Ya, ia pun memeluk relawan tersebut yang mana Sispriani telah dianggap sebagai guru ataupun ibu oleh mereka.

Choiruel, kameraman Channel NewsAsia mengarahkan camcordernya ke arah Siska sapaan akrab Sispriani A.Md dengan Muhammad Ismail yang sedang berbincang layaknya anak dan ibu.

Sutradara, Justin, berupaya menghubungi kakak kandung Muhammad Ismail yang di Malaysia melalui crew yang sama yang sudah standbay di sana. Dan, suasana haru bercampur ceria pun mulai berlangsung.

Bagaikan mimpi, seakan tak percaya, Muhammad Ismail akhirnya berinteraksi tatap muka melalui video call yang difasilitasi oleh tim Channel NewsAsia itu.

Suasana yang demikian juga tidak hengkang dari tontonan sejumlah penghuni rumah sakit. Mereka juga ikut bersedih mendengar kisah si muslim Rohingya tersebut.

Dalam percakapan dengan kakak kandungnya itu, Husein salah satu muslim Rohingya yang pasif berbahasa Melayu menerjemahkan setiap yang dikatakan Muhammad Ismail.

“Dia bilang bahwa dia sekarang ini berada di Aceh, diselamatkan oleh orang Aceh. Kakak tak usah bersedih, saya baik-baik saja disini,” kata Husein menirukan percakapan kakak beradik tersebut.

Lanjut Husein, Muhammad Ismail sudah sangat lama tidak bertemu dengan kakak kandungnya itu. Bahkan sempat mengira bahwa adiknya itu sudah meninggal.

Usai percakapan beberapa menit, Muhammad Ismail memohon kepada siapa saja untuk bisa dipertemukan dirinya dengan kakaknya di Malaysia.

Dari pantauan Waspada Online, meskipun tidak bertemu langsung, namun dihari kemarin dirinya sangat berterimakasih yang telah di fasilitasi meskipun hanya tatap muka melaui video call dengan sang kakak.

Untuk sementara ini, Muhammad Ismail bersama 315 orang Rohingya yang kini ditempatkan di Aceh Utara dikasih sayangi oleh ibu-ibu lembaga kemanusiaan, termasuk salah satunya Sispriani A.Md yang dianggap Ibu oleh para pengungsi Rohingya tersebut.

“Mereka saudara kita, mereka muslim, patut kita bantu. Kita dari ACT sedang membangun 120 unit Shelter (barak) untuk mereka, insyaallah tanggal 23 Juli ini akan diresmikan,” ujar Sispriani.

Sementara ini, para muslim berkulit hitam itu ditempati di gedung BLK Desa Blang Adoe yang jaraknya hanya sekitar beberapa ratus meter saja dengan pembangunan Shelter sembari menunggu peresmian ditempat yang baru.(wol/chai/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Kapal Etnis Rohingya Terombang-Ambing di Bireuen

BIREUEN, Waspada.co.id – Satu unit kapal kayu yang ditumpangi WNA Myanmar etnis muslim Rohingya dikabarkan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: