_
Home / Aceh / Kisah Nalayan Selamatkan 1.807 Imigran Myanmar
WOL Photo/chairul sya’ban

Kisah Nalayan Selamatkan 1.807 Imigran Myanmar

LHOKSEUMAWE, WOL – Para nelayan berbagi kisah pengalaman dalam menyelamatkan 1.807 pengungsi Rohingya dan imigran Bangladesh yang terdampar di laut Aceh dalam rentang waktu antara tanggal 10–20 Mei 2015. Hal ini disampaikan dalam pelatihan “Training Of Trainers” yang digelar oleh Yayasan Geutanyoë di Kuala Langsa, Kota Langsa, Aceh, dan bekerjasama dengan Lembaga Asing MSF (Medecins Sans Frontier) dari Perancis, Kamis (07/4).

Pelatihan ini di adakan di beberapa tempat, terutama di tempat dimana para pengungsi pertama kali di daratkan yaitu di Krueng Geukuh  Aceh Utara, di Julok Aceh Timur, dan di Telaga Tujoh Kota Langsa. Dalam kegiatan pelatihan penyelamatan tersebut dapat membantu para nelayan yang terjadi musibah dilaut dan agar bisa diambil hikmahnya untuk dapat diterapkan di laut.

Para nelayan Aceh diberikan kesempatan untuk menceritakan serta berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam hal penyelamatan di wilayah perairan Aceh dengan para ahli. Medecins Sans Frontieres (sebuah organisasi medis internasional), yang terlibat secara aktif dalam aksi penyelamatan di laut Mediterania juga berbagi pengalaman mereka dengan para nelayan.

Respon cepat yang ditunjukkan oleh para nelayan telah menyelamatkan banyak nyawa dan merupakan satu satunya aksi kemanusiaan yang efektif di wilayah ini, pada puncak krisis kemanusiaan di laut yang berlangsung saat kapal yang membawa ribuan pria, wanita dan anak–anak ditinggalkan begitu saja oleh para penyelundup menyusul ditemukannya puluhan kuburan massal di perbatasan Thailand-Malaysia serta tindakan keras terhadap aksi perdagangan manusia di Thailand dan Malaysia.

Wakil Wali Kota Langsa, Drs. Marzuki Hamid, MM yang turut hadir dalam pelatihan itu mengatakan, bahwa nelayan dalam menjalankan aktifitasnya di laut untuk mencari nafkah banyak menghadapi resiko terkait keselamatan di laut. Oleh karenanya, dirinya berterima kasih dan menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Yayasan Geutanyoë karena telah mengadakan pelatihan keselamatan di laut bagi nelayan. Dan agar semua nelayan juga mentaati prosedur dan berkomitment terhadap peraturan dan menjadi kelestarian alam.

“Dengan adanya kegiatan pelatihan tersebut merupakan suatu penghargaan terhadap para nelayan yang terjadi di laut. Untuk mengantisipasi giat ini dari Pemko Langsa tentang penyelamatan nelayan dilaut dan giat masyarakat yang bekerja dilaut, adanya ilmu penyelamatan para nelayan tentang pelaksanaan teknis kegiatan yang diajarkan oleh Tim SAR,” ucapnya.

Selain menceritakan pengalaman mereka dalam melakukan penyelamatan ditengah laut, para nelayan juga memaparkan tentang bagaimana mereka termotivasi dengan adanya rasa keprihatinan kemanusiaan yang mendalam bagi para pengungsi yang terdampar ditengah lautan dan juga sebagai kewajiban mereka sebagaimana tertera didalam hukum adat laut Aceh (Hukom Adat Laot) yang telah berusia ratusan tahun, yang mengharuskan mereka untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan di tengah lautan, tanpa harus memperhatikan identitas mereka.

Direktur International Yayasan Geutanyoë, Lilianne Fan, dalam kata-kata sambutannya juga menyampaikan, penyelamatan yang dilakukan oleh nelayan Aceh membuktikan bahwa prinsip-prinsip dan tindakan kemanusiaan merupakan suatu unsur utama Adat Aceh yang bisa diaplikasikan secara sangat efektif dalam operasi penyelamatan nyawa. Ini harus dijadikan contoh bagi ASEAN dan dunia internasional.

Selain dihadiri Wakil Walikota Langsa, pelatihan ini turut menghadirkan dua perwakilan lembaga asing, yaitu Weit Vandormel dari Belgia dan Natasya Reyer dari Philipina.(wol/chai/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Polrestabes Bekuk 2 Warga Aceh Bawa Ganja Seberat 39 Kg

MEDAN, Waspada.co.id – Dengan modus mengangkut tumpukan kardus bekas dalam bak muatan mobil jenis pick-up ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.