Home / Aceh / HAkA dan FKL Beberkan Kasus Perburuan Satwa Liar dan Illegal Logging di Aceh
Foto : Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) dan Forum Konservasi Leuser (FKL) Menunjukkan Jeratan Perburuan Liar Yanh Berhasil Disita. (Foto : Yayasan HAkA)

HAkA dan FKL Beberkan Kasus Perburuan Satwa Liar dan Illegal Logging di Aceh

BANDA ACEH, Waspada.co.id – Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) dan Forum Konservasi Leuser (FKL) beberkan data-data kasus perburuan satwa liar yang dilindungi dan pembalakan liar terbesar di sejumlah titik wilayah Provinsi Aceh.

Pada awal tahun 2018 ini, disebutkan terdapat sejumlah 389 kasus perburuan dengan 497 jeratan untuk satwa liar jenis landak, rusa, kijang, beruang, harimau, dan gajah, yang disita atau dimusnahkan.

Pada periode ini sejumlah 61 satwa ditemukan mati akibat perburuan maupun mati alami.

“Paling sedikit seekor gajah dan seekor harimau mati diburu di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Jumlah sebenarnya bisa jadi lebih banyak dari yang ditemukan,” ujar GIS Manager Yayasan HAkA, Agung Dwinurcahya, Rabu (25/07).

Disebutkan, berdasarkan data ground checking oleh 12 tim monitoring lapangan FKL di 13 kabupaten dalam KEL, terdapat total 1.892 kasus aktivitas pembalakan liar, perambahan liar, dan akses jalan. FKL dalam hal ini juga memaparkan data temuan 24 tim patroli satwa liar yang aktif berpatroli di 11 kabupaten dalam KEL.

Berdasarkan hasil temuan tim monitoring FKL, disebutkan bahwa Kabupaten Aceh Tamiang dan kabupaten Aceh Selatan tercatat sebagai kabupaten dengan total kasus perambahan dan pembalakan liar terbanyak pada semester pertama di tahun 2018 yang berjumlah 319 kasus.

“Jumlah aktivitas pembalakan liar terbanyak terjadi di Kabupaten Aceh Timur yaitu mencapai sejumlah 619,8 meter kubik. Sedangkan jumlah aktivitas perambahan terluas terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang yaitu seluas 873 Ha. Untuk pembangunan jalan, terdata sejumlah 105,5 Km pembangunan jalan di dalam KEL,” tambah Agung.

Hal tersebut sebelumnya telah disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung di Banda Aceh pada Senin (23/07). Dalam hal ini pihaknya berharap dengan adanya pemaparan data dari HAkA dan FKL maka bisa mendorong Pemerintah Aceh maupun kabupaten dan seluruh komponen masyarakat untuk lebih menjaga hutannya terutama KEL.

“Karena KEL adalah sumber air bagi rakyat Aceh dan juga berjasa untuk mitigasi bencana. Deforestasi di dalam kawasan hutan Aceh khususnya KEL harus terus ditekan demi masa depan generasi masyarakat Aceh dan dunia ke depan,” tukas Agung.(wol/chai/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

BNNP Sumut Musnahkan 9.900 Butir Ekstasi dan 26,6 Kg Ganja

MEDAN, Waspada.co.id – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara (Sumut) memusnahkan 26,6 Kg ganja ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: