_
Home / Aceh / FKL Catat Aktivitas Ilegal di Kawasan Ekosistem Leuser
WOL Photo/chairul sya'ban

FKL Catat Aktivitas Ilegal di Kawasan Ekosistem Leuser

BANDA ACEH, WOL – Forum Konservasi Leuser (FKL) mencatat bahwa sekitar 2.398 aktivitas ilegal terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Provinsi Aceh. Sementara aktivitas ilegal terbanyak ditemukan di Aceh Tamiang, dengan 557 temuan kasus.

Aktivitas ilegal tersebut dicatat berdasarkan monitoring yang berlangsung Januari hingga Juni 2016. Monitoring berlangsung di KEL tersebar di 12 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh.

Adapun KEL di 12 kabupaten dan kota tersebut yakni Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Gayo Leus, Nagan Raya, dan Kota Subulussalam.

“Sedangkan aktivitas ilegal paling sedikit di Aceh Singkil dengan 10 temuan. Sedangkan di kabupaten/kota lainnya berkisar 40 hingga 325 kegiatan ilegal,” ucap Rudi Putra, aktivis FKL, Kamis (29/9).

Sedangkan kegiatan ilegal yang dipantau yakni illegal logging, perambahan, akses jalan, dan perburuan. Illegal logging tercatat 984 kasus dengan volume 3.641,21 meter kubik.

“Illegal logging terbanyak ditemukan di Aceh Tamiang dengan 279 kasus dan volume 1.782,8 meter kubik. Sedangkan di 11 kabupaten/kota lainnya berkisar antara lima hingga 122 kasus,” tambahnya.

Untuk perambahan, keseluruhannya mencapai 1.006 kasus dengan luas rambahan mencapai 6.205,9 hektare. Perambahan ilegal terbanyak ditemukan di Aceh Tamiang dengan 217 kasus serta volumenya 1.556,8 hektare.

Sedangkan akses jalan ilegal di KEL terbanyak di Aceh Tenggara dengan 27 ruas jalan. Kemudian, di Nagan Raya 23 ruas jalan, dan Aceh Timur sebanyak tiga ruas jalan.

Serta perburuan ilegal ditemukan 279 kasus dengan 250 perangkap serta 46 pelaku. Perburuan ilegal terbanyak ditemukan di Aceh Selatan mencapai 122 kasus dengan 121 perangkan dan 42 pelaku.

Temuan aktivitas ilegal tersebut telah disampaikan secara berkala ke pemangku kawasan maupun kepolisian. Serta disampaikan kepada lembaga lain. Hal ini sebelumnya telah ia sampaikan saat menjadi pemateri dalam konferensi Pers di Lampineung, Banda Aceh, kemarin.

“Tindakan lainnya, membentuk 15 tim patroli dan dua komunitas patroli serta merestorasi 1.500 hektare kawasan hutan yang rusak akibat aktivitas ilegal tersebut,” urainya.(wol/chai/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Pemprovsu Bangga Kontribusi Pers Sumut

MEDAN, Waspada.co.id – Dalam rangka memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) 2019, Pemprovsu bekerja sama dengan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.