_
Home / Aceh / 4,5 KM Konservasi Laut Aceh Barat Rusak

4,5 KM Konservasi Laut Aceh Barat Rusak

MEULABOH, WOL – Kawasan Konservasi Laut (KKL) di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, kembali rusak dan terbengkalai karena tidak ada dukungan finansial dalam pengawasan dan pemeliharaan berkelanjutan.

Ketua Kawasan Peujroh (perbaikan) Laot (KPL) Kabupaten Aceh Barat Muzakir Putra di Meulaboh, Kamis (23/4) mengatakan pemerintah sudah memetakan dan menetapkan kawasan konservasi laut sepanjang 4,5 kilimeter di pesisir Kecamatan Meurebo dengan kejauhan 2,5 kilometer ke tengah laut.

“Sekarang kondisinya terbengkalai, terumbu karang sudah rusak, ikan-ikan kecil juga habis semua dikawasan KKL ini disapu alat tangkap tidak ramah lingkungan. Harusnya pemerintah pusat melanjutkan program pemeliharaan,” katanya.

Muzakir menjelaskan, setelah lembaga adat laut Aceh itu mengklaim sepanjang pesisir kecamatan Meureubo sebagai kawasan konservasi, selanjutnya mendapat respon positif dari pemerintah daerah untuk program pemeliharaan dan menjaga kelestarian laut di kawasan itu.

Semua kebijakan terhadap larangan menguras biota laut dan menjaga kelestarian terumbu karang di sepanjang KKL diterakan dalam hukum adat sehingga nelayan akan mendapat sanksi tegas secara adat apabila melangar.

Muzakir yang juga “panglima lhok” Meureubo itu menjelaskan, pembentukan KKL itu inisiatif awalnya karena wilayah penangkapan ikan nelayan sudah begitu jauh, ikan-ikan bernilai ekonomis sudah tidak lagi ditemukan pada jarak 1,2 mil dari pantai dan malahan tidak ditemukan lagi ikan bertelur kepingir pantai.

“Upaya kita lakukan untuk menjaga kelestarian laut itu,  WWF-Indonesia mendampingi nelayan, begitu mereka sudah tidak ada semuanya terbengkalai, kalau pemerintah peduli terhadap laut Aceh kami  harap dibantu untuk melanjutkan yang sudah ada,”katanya.

Lebih lanjut dikatakan, pada prinsipnya nelayan Aceh Barat sangat mendukung apapun upaya pemerintah menjaga kelestarian dan keanekaragaman sumber daya laut Indonesia, lembaga adat laut Acehpun ikut membentuk regulasi sehingga sejalan dengan harapan pemerintah pusat.

Muzakir menjelaskan, selain menjaga keberlangsungan ekosistem laut apapun kebijakan pemerintah terhadap pelestarian lingkungan juga berdampak pada perekonomian masyarakat nelayan yang selama ini dikonotasikan rakyat miskin.

Pada prinsipnya kata dia, nelayan kawasan setempat mengunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan sampai merusak terumbu karang itu semua karena desakan ekonomi, nelayan tidak memiliki modal besar untuk berlayar jauh menangkap ikan bernilai jual tinggi.

“Karena sudah terbengkalai, ya nelayan-nelayan pesisir akhirnya menjaring lagi ikan-ikan kecil berada disitu, harusnya secara adat wilayah KKL ini satu tahun baru boleh diambil dengan memancing karena ikannya sudah berkembang tumbuh dewasa,” katanya menambahkan. (ant/data2)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Bupati Bener Meriah Bantah Beri Suap ke Gubernur

JAKARTA, Waspada.co.id – Bupati Bener Meriah Ahmadi mengakui dirinya bertemu Gubernur Aceh Irwandi Yusuf melalui ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.