Tak Bisa Bayar Utang Rp550 Juta, Hasan Divonis 1,2 Tahun Penjara

WOL Photo/Ryan

MEDAN, Waspada.co.id – Pensiun BUMN, Muhammad Hasan (59) dijatuhi hukuman 1 tahun 2 bulan penjara karena terbukti melakukan penipuan peminjaman uang senilai Rp550 juta.

Menurut majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 378 KUHP.

“Dengan ini menjatuhi hukuman 1 tahun 2 bulan penjara kepada terdakwa,” tegas hakim kepada terdakwa di Ruang Cakra V, Senin (24/2).

Hakim berpendapat, hal yang memberatkan terdakwa, karena perbuatannya telah menimbulkan kerugian kepada korban.

“Sedangkan yang meringankan, terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak mengulanginya kembali,” ujar hakim.

Dalam dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sri Delyanti, menuturkan awal mula kasus berawal pada tanggal 12 Juli 2017 sekira pukul 09.00 WIB. Terdakwa HM Hasan datang ke rumah saksi korban Taufik dan menceritakan ada proyek pembangunan rumah pengungsi korban letusan Gunung Sinabung sebanyak 1.000 unit lokasi di Desa Siosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

“lalu terdakwa mengatakan “Sayang nggak diambil pak, karena saya tidak punya modal saya minjam uang bapak Rp600 juta akan saya kembalikan dalam waktu 20 hari.” Lalu saksi korban Taufik jawab “Saya tidak punya uang sebanyak itu.” Lalu dijawab terdakwa, “ini hanya 20 hari Pak Taufik, sayang kalau tidak diambi, ini ada keuntungan nanti saya kasihlah Bapak.” Lalu saksi korban Taufik jawab, “Saya tidak bicara keuntungan, ingin dalam waktu 20 hari sesuai janji bapak uang saya dikembalikan keseluruhannya. ”Lalu terdakwa jawab, insya Allah Pak,” jelas JPU.

Maka terdakwa percaya dan memberikan uang sebagai modal pinjaman kepada terdakwa sebesar Rp550 juta dengan mengatakan, “Tapi Bapak harus janji mengembalikan dalam waktu 20 hari karena itu dana pensiun saya. Lalu terdakwa jawab, iya Pak Taufik sebelum 20 hari saya kembalikan uang Bapak.”

“Setelah saksi korban Taufik mentransfer seluruh uang tersebut kepada terdakwa, lalu terdakwa memberi harapan kepada saksi korban Taufik dengan mengatakan, “Pak Taufik mudah-mudahan ini berhasil,” tuturnya.

Lalu pada Agustus 2017 terdakwa menemui saksi korban Taufik di rumah saksi korban dengan mengatakan, “Pak Taufik proyeknya masih berjalan belum selesai, sabar dulu ya Pak, inilah saya kasi dulu ke Pak Taufik.” Kemudian terdakwa memberikan cek tunai senilai Rp12 juta kepada saksi korban Taufik , lalu saksi korban Taufik jawab, “Jangan gitu Pak, janji 20 hari bapak janji bayar keseluruhannya.”

“Selanjutnya pada bulan Oktober 2017 saksi korban Taufik kembali menagih pengembalian uang pinjaman sebesar Rp550 juta kepada terdakwa dan pada saat itulah terdakwa mengatakan, “bahwa tidak pernah mendapatkan Proyek Pembangunan Perumahan Pengungsi di Siosar dan uang pinjaman uang tersebut telah terdakwa gunakan ke proyek lain tetapi proyek dan belum bisa dikembalikan karena dananya belum cair,” tuturnya.

Lebih lanjut, maka saksi korban Taufik jawab “Saya minta pernyataan tertulis” dan terdakwa menyanggupinya, lalu dibuatlah Surat Pernyataan Pinjaman tanggal 14 April 2018 yang ditandatangani para pihak dan saksi yaitu Bambang Susanto, Anda H. Tambunan dan Fitryana, terdakwa selaku pihak II telah melakukan pinjaman kepada pihak I uang sebesar Rp550 juta.

“Pada tanggal 12 Juli 2017, yang mana sampai dengan saat ini pihak ke II belum dapat menyelesaikan kewajiban dan berjanji akan menyelesaikan pinjaman pada tanggal 20 Mei 2018. Dan apabila perjanjian tidak ditepati pihak ke II, bersedia dilaporkan ke pihak berwajib atau dibawa ke jalur hukum,” jelas JPU.

Namun, terdakwa tidak juga mengembalikan uang pinjaman tersebut, maka pihak korban Taufik merasa keberatan dan mengalami kerugian sebesar Rp500 juta. Maka saksi Taufik melaporkannya ke pihak kepolisian. (wol/ryan/data3)

Editor: SASTROY BANGUN