Soal Usulan Ekspor Ganja, IPHI Sumut Nilai Prematur dan Kurang Mendasar

Ketua DPD IPHI Sumut M. Sa'i Rangkuti SH MH

MEDAN, Waspada.co.id – Argumentasi dan statemen yang disampaikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dinilai cukup prematur dan kurang mendasar, demikian kata Ketua DPD Ikatan Penasehat Hukum Indonesia Sumatera Utara (IPHI Sumut) M. Sa’i Rangkuti SH MH, Senin (3/2) menanggapi statement Kepala Biro Humas dan Protokol BNN Sulistyo Pudjo Hartono yang menolak dengan tegas dan keras usulan Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rafli, terkait legalisasi tanaman ganja untuk komoditi ekspor.

“Kita melakukan kesalahan apabila, kita melegalkan daun ganja itu untuk dikonsumsi secara umum (terbuka) dan disalah gunakan peruntukannya misalnya dihisap,” ucapnya.

Selaku pengacara, dia yang cinta kepada NKRI selama daun ganja itu dapat memberikan kontribusi kepada Negara dan dunia internasional membutuhkannya terutama untuk pengobatan dan atau juga untuk kecantikan (kosmetik) harus mendukung.

“Ketika pemerintah melegalkan ekspor ganja untuk kepentingan kesehatan, kecantikan dan berguna untuk bumbu masakan tradisional tidak lah salah untuk di ekspor, karena dapat mendongkrak atau membantu perekonomian bangsa dan Negara selama regulasi internasional membenarkannya, “ tambah Sa’i yang alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara.

Namun, dia sangat mengapresiasi usulan tersebut, apalagi dalam Konvensi Tunggal PBB tentang Narkotika 1961 atau United National Single Convention in Drug 1961 disebut bahwa ganja termasuk dalam narkotika golongan I, jadi memang tidak ada salahnya disana.

Maka dalam hal ini berikan wewenang kepada pemerintah (Negara) untuk mempelajarinya dengan memanggil para ahli, pakar, karena tanaman ganja tersebut salah satu anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa yang bersumber dari alam yang tumbuh subur (ganja) itu khususnya di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikenal sebagai kota Serambi Mekkah.

“Gemah Ripah Loh Jinawi (tenteram dan makmur serta subur tanahnya), itulah anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk Indonesia tercinta. Dan pada hakikatnya semua ciptaan Tuhan itu baik dan bermanfaat, tinggal bagaimana kita merawat, mengolah dan menjaga kelestarian dan budidayanya. Selain memberdayakan para ilmuwan untuk lebih dalam mempelajari tetap sisi positif daun ganja tersebut,” tegas Sa’i yang didampingi rekannya Rahmad Makmur Rambe SH MA, Rizky Fatimantara SH MA dan Sonang Basri Hasibuan SH MA yang telah banyak menangani berbagai perkara di Sumut dan daerah lainnya.

Disebutkannya, selama daun ganja untuk kepentingan farmasi, kecantikan bahkan bermanfaat untuk bumbu masakan, tentu tidak ada masalah dan kita dukung karena selain dapat mendongkrak ekonomi dan tidak disalah gunakan pemakaiannya.

Dikatakan lagi, apalagi jika orang yang menanam telah memperoleh sertifikasi dari yang berwenang (Negara), baik untuk perorangan, maupun badan hukum dengan tetap dibawah pengawasan pemerintah. Sehingga kita terhindar dari UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Menurutnya, ganja tidak sama dengan jenis yang dianggap narkotika, karena daun ganja merupakan jenis tanaman. Apa yang diciptakanTuhan dimuka bumi semua mempunyai manfaat bagi manusia. Tapi banyak manusia yang sering merusaknya. Jika demikian ulah manusia maka tunggulah kehancuran akan datang. Karena sudah banyak kita lihat dan rasakan seperti terjadi bencana.

“Kita jangan hanya melihat daun ganja tersebut dari sisi negatifnya saja, tapi lihatlah kemanfaatan lainnya bagi kehidupan manusia,” tegas Sa’i yang juga Direktur Advokasi Hukum JAMIN (Jokowi-Ma’ruf Amin) Sumatera Utara. (wol/rls)

Editor: Agus Utama