Pernyataan Kontroversi Sitti Hikmawatty, Ahli Gizi yang Jadi Komisioner KPAI

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indoensia (KPAI) bidang Kesehatan, Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA), Sitti Hikmawatty (Ist)

JAKARTA, Waspada.co.id – Nama anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty menjadi pembicaraan publik sejak pekan lalu.

Ia menjadi kontroversi sebab pernyataannya yang dikutip media massa terkait risiko perempuan hamil saat berenang di kolam renang yang tercampur dengan pria.

Pernyataan itu mendapat banyak reaksi negatif dari publik karena disebut tidak masuk akal. Terlebih, banyak pihak yang membandingkan jabatan Sitti sebagai komisioner KPAI dengan pernyataannya tersebut.

Belakangan Sitti sudah melontarkan permintaan maaf atas pernyataannya tersebut.

“Saya meminta maaf kepada publik karena memberikan statement yang tidak tepat. Statement tersebut adalah statement pribadi saya dan bukan dari KPAI,” ujar Sitti dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (23/2).

Dikutip dari kpai.go.id/komisioner, Hikma adalah komisioner yang membawahi bidang Kesehatan, Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA).

Pada laman profil komisioner, Hikma diketahui sebagai seorang ahli gizi. Ia adalah Alumni Akademi Gizi Bandung Depkes RI yang melanjutkan kekhususan bidang Gizi klinik di Universitas Indonesia.

Perempuan kelahiran Cimahi, Oktober 1970 ini juga mengambil program magisternya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan program studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Di bidang kesehatan, Hikma pernah berkarier di RS Al Islam Bandung. Ia juga pernah bertugas di RS Medika Permata Hijau Jakarta mengikuti suaminya. Selain itu, Hikma juga praktik di sebuah klinik Gastro Enterolog di Jakarta.

Di samping kegiatan sebagai tenaga medis, Hikma pernah berkesempatan mempersiapkan kontingen Indonesia di Sea Games XIII di Chiang Mai, Thailand pada 1985 silam.

Saat itu, Hikma direkrut bergabung menangani gizi atlit di beberapa cabang olah raga oleh KONI Pusat. Selain sisi medis, Akademiknya cemerlang, Hikma juga tercatat berprestasi sebagai penerima beasiswa dari University of Philippines Diliman, Quezon City, Philippnes.

Terkait keilmuannya, Sitti juga sempat mengajar di UHAMKA hingga menjadi penulis lepas dan pernah menjadi editor di MIMS Asia untuk bidang kesehatan anak. Fokus yang Hikma geluti saat itu ialah terkait pendidikan anak di usia dini.

Sejalan dengan fokus karier terkait anak usia dini, Hikma juga pernah dipercaya sebagai Tenaga Ahli di MPR RI dan Pembina Yayasan Neurosenso yang bergerak dalam penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Dalam fokus ini, Hikma diketahui rajin bersuara mengenai penyediaan sarana/prasarana medis untuk anak yang belum merata karena mahalnya biaya.

Kemudian Hikma pun mengikuti pemilihan KPAI untuk periode 2017-2022. Ia terpilih dan dilantik bersama enam komisioner terpilih KPAI lain pada Agustus 2017 silam.

Adapun ungkapan yang dilontarkan Hikma ke media ialah tentang potensi perempuan hamil jika melakukan berenang di kolam renang. Ia menuturkan sperma bisa saja membuahi perempuan yang sedang dalam masa subur.

“Pertemuan yang tidak langsung misanya, ada sebuah mediasi di kolam renang. Ada jenis sperma tertentu yang sangat kuat walaupun tidak terjadi penetrasi, tapi ada pria yang terangsang dan mengeluarkan sperma dapat berindikasi hamil. Kalau perempuannya sedang fase subut itu (hamil) bisa saja terjadi,” kata Hikma dalam video yang beredar di media sosial.

Pernyataannya ini menjadi viral dan banyak diperbincangkan publik. Hikma juga diketahui sudah meminta maaf atas pernyataan tersebut dan menyatakan bahwa pernyataan itu merupakan pernyataan pribadi, bukan atas nama lembaga KPAI.

Di samping itu, Hikma juga sempat menjadi corong KPAI saat mempersoalkan masuknya nama Djarum dalam seleksi beasiswa bulutangkis yang digelar Djarum Foundation. Alasannya, adalah Djarum sebagai merek rokok sementara seleksi itu untuk bakal atlet yang merupakan anak-anak di bawah umur.

Belakangan, tak ada titik temu soal nama proses seleksi sehingga Djarum Foundation memutuskan seleksi yang digelar sejak 2006 itu dihentikan pada 2020. (merdeka/ags/data3)