Pemerintah Mulai Jajaki Evakuasi WNI di Kapal Pesiar Diamond Princess

foto: ilustrasi. (Getty Images/Carl Court)

JAKARTA, Waspada.co.id – Pemerintah menjajaki kemungkinan menjemput 78 warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kapal pesiar Diamond Princess. Kapal ini tengah sandar di Pelabuhan Yokohama, Jepang. Untuk itu Indonesia melakukan komunikasi dengan Pemerintah Jepang.

Penjajakan pemulangan WNI tersebut disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah terhadap warganya. Sejauh ini pemerintah masih menunggu laporan dari Kementerian Kesehatan Jepang.

Diamond Princess yang telah dikarantina sejak 3 Februari merupakan kluster terbesar penyebaran virus korona di luar China. Hingga kemarin dari 3.700 orang berada di dalam kapal, 454 orang di antaranya positif virus korona.

Adapun WNI yang berada di tempat yang sama belum ada yang dilaporkan terpapar. Sebagian besar WNI merupakan awak kapal. “Kita tunggu hasil PCR-nya (polymerase chain reaction).

Kalau itu negatif, saya juga akan ke sana, mengecek dan menjemputnya. Tapi saya berkoordinasi dulu diperkenankan atau tidak secara protokoler kenegaraan,” ujar Terawan di Kantor Staf Presiden (KSP) kemarin.

Advertisement

Perkembangan wabah virus korona ini memang masih memprihatinkan. Laporan terbaru, jumlah kasus virus korona meningkat menjadi 73.243 kasus.

Evakuasi penumpang Diamond Princess sudah mulai dilakukan. Amerika Serikat (AS) telah mengevakuasi 300 warganya kembali ke negaranya dari total 400 warganya yang turut terjebak di kapal pesiar itu.

Negara lain yang bersiap untuk mengevakuasi warganya dari Diamond Princess adalah Israel, Hong Kong, dan Kanada. Australia kemarin mengumumkan akan mengevakuasi 200 warganya. Inggris juga sedang mempertimbangkan penerbangan evakuasi.

Di antara warga AS yang dievakuasi, 40 orang positif terinfeksi dan dirawat di Jepang. “Alasan karantina adalah tingkat menular virus di dalam kapal pesiar yang menjadi titik pusat,” kata Anthony Fauci, Direktur Institute Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi, kepada CBS.

Sebelumnya kapal pesiar Diamond Princess harus dikarantina di Pelabuhan Yokohama, Jepang, setelah seorang pria yang turun di Hong Kong ditemukan terinfeksi virus. Pada Senin lalu pejabat Jepang menyatakan terdapat 99 kasus baru infeksi di kapal pesiar Diamond Princess. Dengan demikian jumlah total yang terinfeksi mencapai 454 kasus. Itu menjadikan kapal pesiar tersebut sebagai kluster kasus virus corona terbesar di luar China.

Reuters melaporkan, seorang perempuan di kapal pesiar itu terinfeksi virus corona. Dia warga Rusia pertama yang terkena virus. Sebelumnya dua kasus yang ada di Rusia adalah warga China. Perempuan tersebut dibawa ke sebuah rumah sakit untuk menjalani perawatan.

Untuk melaksanakan proses pengobatan dan perawatan, Pemerintah Jepang memberikan 2.000 iPhone kepada penumpang di kapal tersebut. Dengan ponsel tersebut, penumpang bisa menggunakan aplikasi yang diciptakan kementerian kesehatan Jepang untuk berhubungan dengan dokter, apoteker, dan ahli kesehatan mental.

Antisipasi Masih Diintensifikan
Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto menegaskan pemerintah tidak akan kehilangan kewaspadaan. Bahkan pintu-pintu masuk akan semakin diperketat. “Supaya kita tidak kehilangan kewaspadaan kita. Terutama di pintu-pintu penjagaan mewaspadai 135 pintu masuk,” ungkapnya.

Dia lantas menuturkan, langkah Indonesia dalam mengantisipasi virus korona terus dipantau oleh WHO, termasuk dalam hal pengecekan sampel terduga korona.

“Pengecekan lab dipantau WHO dan sangat memenuhi syarat. Semua antisipasi sudah dilakukan dan ini membuat kita akan menjadi bangsa yang selalu bersyukur,” jelas dia.

Sementara itu Direktur Izin Tinggal Ditjen Imigrasi Bambang Widodo membeberkan, pemerintah telah menolak 109 orang masuk ke Indonesia sejak akhir Januari hingga saat ini. Selain itu terdapat 36 usulan visa yang ditolak usulannya.

Sebelumnya pemerintah memutuskan tidak memperbolehkan pendatang yang sudah 14 hari di Cina masuk dan transit ke Indonesia. “Karena berdasarkan asesmen paspor, mereka pernah tinggal 14 hari di mainland (daratan China),” ujar Bambang Widodo di KSP kemarin. (cnn/data2)