Netizen Bertanya Fungsi Health Alert Card COVID-19, Kemenkes: Bukan Kartu Sakti!

Health alert card. (Foto: Twitter/Angkasa Pura II)
agregasi

Waspada.co.idSeorang netizen bertanya fungsi Health Alert Card (HAC), kartu yang diberikan kepada penumpang pesawat yang baru datang dari negara suspect Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Apa ya tanggapan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes)?

Dalam unggahan Twitter @ulinyusron misalnya, ia mempertanyakan apakah HAC yang harus diisi itu akan efektif mendapatkan data penderita COVID-19? Unggahannya itu mendapat perhatian banyak pihak.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto menjelaskan, HAC yang diberikan itu bukanlah kartu sakti. “HAC itu bukan kartu sakti. HAC ini hanya early warning system,” terangnya saat ditemui Okezone di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (17/2/2020).

Yuri melanjutkan, mereka yang tidak diperiksa itu bukan berarti saat mereka sampai di bandara, lalu langsung dicek tekanan darahnya dengan tensimeter. Namun tim medis tetap akan pantau suhu tubuhnya. Pemeriksaan ini juga sudah tidak hanya menggunakan termal scanner, melainkan langsung pakai termal gun.

“Setelah turun, dibikin antrean, dicek suhunya satu-satu. Baru setelah itu, mereka diberikan HAC,” ungkapnya.
Yuri menegaskan, kerap kali penumpang tidak membaca kembali apa isi dari HAC tersebut. Pada beberapa kasus, banyak juga penumpang yang saat dijelaskan tentang HAC, namun mereka tidak menyimaknya dengan teliti.

HAC ini, sambungnya, ada bukan hanya karena hebohnya COVID-19. Namun, Kemenkes sudah memiliki HAC jauh sebelum itu. Salah satunya digunakan pada seseorang yang hendak melakukan ibadah haji dan umrah ke Tanah Suci.

“HAC bukan hanya dibuat untuk COVID-19. Namun, kartu tersebut sudah ada sejak lama, untuk kewaspadaan penyakit lain. Salah satunya MERS-Cov atau flu unta,” tambahnya.
Semua jamaah haji dan umrah, sambungnya, pun dilakukan treatment yang sama. Mereka diatur suhunya satu-satu dan diberikan HAC dengan catatan 14 hari pertama, mana kala muncul keluhan yang mengarah ke virus korona (baik MERS atau COVID-19), maka Kemenkes meminta untuk orang tersebut menuju fasilitas kesehatan manapun, dengan menunjukan HAC.

“Dengan melakukan ini, petugas kesehatan yang menerima HAC akan memeriksa apakah keluhan ini mengarah atau keluhan awal COVID-19, karena kita yakini tidak ada penyebab peradangann yang tegas dari keluhannya,” pungkasnya.

Lantas, bagaimana jika orang yang memegang HAC lalu dia menunjukan gejala, tapi tidak mendatangi fasilitas kesehatan (faskes) terdekat?

“Orang tersebut tidak mematuhi apa yang sudah kami sampaikan. Dari awal kami sudah jelaskan, kalau muncul keluhan batuk, panas tinggi, dan susah bernapas, datanglah ke faskes,” tambah Yuri.