Nadiem Rombak Kurikulum, Cari Model Dari Berbagai Negara

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. ANTARA FOTO

JAKARTA, Waspada.co.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim disebut telah meminta para anak buahnya mengkaji kurikulum pendidikan sekolah dasar dan menengah yang saat ini tengah berjalan.

Alasannya, kurikulum pendidikan dasar dan menengah saat ini tidak selaras dengan kurikulum pada pendidikan tinggi.

“Kita lagi diminta melakukan kajian, mempelajari bagaimana model-model kurikulum di berbagai negara,” ujar Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Awaluddin Tjalla di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (18/2).

Awaluddin mengatakan, Mendikbud Nadiem Makarim meminta agar kurikulum di sekolah diperbaiki dan diselaraskan dengan pelajaran di perguruan tinggi.

Awaluddin mengatakan kajian sejauh ini dilakukan oleh pihak internal Kemendikbud. Selain menyelaraskan kurikulum dengan pendidikan tinggi, pihaknya juga diminta mendekatkan lembaga pendidikan dengan dunia kerja.

Namun dia tidak menjelaskan lebih rinci mengenai implementasi perubahan pada kurikulum nantinya. Ia juga belum mau menyebut bahwa kurikulum 2013 bakal diubah. Awaluddin hanya mengatakan pada dasarnya kurikulum 2013 dibentuk dari empat komponen, yakni critical thinking, colaboration, creative thinking dan communication.

Kemudian Nadiem, kata Awaluddin, berpendapat kurikulum 2013 kekurangan dua komponen lain yang tak kalah penting, yakni computational logic dan compassion.

Computational logic dalam hal ini mengacu pada kemampuan guru dan siswa dalam penerapan keterampilan digital. Sedangkan compassion artinya minat dan bakat siswa di jenjang masa depan.

Berkaitan dengan dua komponen itu, Awaluddin mengakui ada persoalan bahwa setidaknya 30 persen guru di satuan pendidikan, mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

“Banyak guru yang selama ini mengajarkan [mata pelajaran] TIK itu background-nya bukan dari informatika. Informatika itu kan misalnya sarjana teknik komputer dan sebagainya,” ujarnya.

Persoalan ini, kata dia, berpengaruh pada implementasi mata pelajaran Informatika di sekolah dasar dan menengah. Diketahui mata pelajaran informatika baru diluncurkan kembali oleh Kemendikbud pada September 2019, menggantikan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK).

Implementasinya pun baru berlaku untuk siswa kelas 7 SMP dan 10 SMA. Tahun ini, kata Awaluddin, pihaknya bakal memberlakukan pelajaran tersebut kepada siswa kelas 8 SMP dan 11 SMA. Hal tersebut selain disebabkan keterbatasan kualitas dan kemampuan guru, juga karena keterbatasan fasilitas yang ada di sekolah.

Sebelumnya Kemendikbud sudah mengaggarkan biaya sebesar Rp697 miliar untuk pembagian laptop dan LCD untuk sekolah-sekolah. Dari anggaran tersebut Nadiem bakal memberikan laptop dan LCD untuk 3.876 sekolah di Indonesia pada tahun ini.

Pembagian laptop ini, katanya, juga karena penyelenggaran asesmen kompetensi minimum dan kompetensi karakter bakal menggunakan komputer.

Nadiem Makarim sebelumnya menyatakan masih butuh waktu untuk menggodok perkara kurikulum dan kualitas pendidik di satuan pendidikan. Ia mengaku sebenarnya sudah memikirkan keduanya sejak hari pertama menjabat Mendikbud.

Diketahui kurikulum jadi salah satu titipan Presiden RI Joko Widodo kepada Nadiem agar diperbaiki dan diselaraskan dengan visi mendorong sumber daya manusia unggul. Namun menurut Nadiem kedua hal tersebut butuh waktu untuk dibenahi. Sehingga kurun waktu 100 hari belum cukup untuk pihaknya membuat perubahan berarti. (cnnindonesia/ags/data3)