Indonesia Disebut Paling Aman dari Dampak Ekonomi Akibat Corona

foto: ilustrasi. (Chinatopix via AP) 

Waspada.co.id – Wabah corona menjadi topik utama di banyak negara belakangan ini. Apalagi sampai saat ini penyebaran wabah yang ditemukan di Wuhan, China pada Desember lalu ini belum bisa dikendalikan.

Hingga Rabu (26/2), wabah ini sudah menyebar ke-39 negara di seluruh dunia, dengan korban terinfeksi mencapai 80.994 orang. Sementara korban tewas naik lagi menjadi 2.760 orang secara global.

Parahnya, wabah ini bukan hanya membuat korban berjatuhan, tapi juga ‘menjangkiti’ ekonomi banyak negara, utamanya China. Bahkan, menurut hasil jajak pendapat Reuters, efek dari wabah coronavirus di China sendiri kemungkinan akan merembet ke luar negara dan ‘menginfeksi’ ekonomi negara lain di kawasan Asia.

Jajak pendapat itu memproyeksikan sebagian besar ekonomi utama di wilayah Asia akan melambat secara signifikan, tidak tumbuh sama sekali atau bahkan menurun langsung pada kuartal saat ini.

Ini mungkin terjadi apalagi saat ini ekonomi kawasan sedang dalam pemulihan dan masih rentan akibat terdampak perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China yang telah berlangsung dua tahun terakhir.

Sebagaimana diketahui, China telah menutup (locked down) beberapa kotanya demi menghindari penyebaran wabah virus corona. Akibatnya, banyak bisnis tidak bisa beroperasi secara normal dan China yang adalah salah satu pemasok utama, tidak bisa memenuhi kebutuhan pelanggan dari negara lain. Ini pada akhirnya akan mengganggu rantai pasokan global.

“Kasus dasar dengan cepat berubah dari ‘Buruk (Bad)’, yang berarti hanya China yang terkena dampak, ke ‘Jelek (Ugly)’, di mana baik negara-negara berkembang di Asia dan negara-negara maju mencatatkan kenaikan dalam tingkat infeksi dan kematian,” kata Michael Every, kepala penelitian pasar keuangan untuk Asia- Pasifik di Rabobank di Hong Kong sebagaimana dilansir Reuters.

“Dampak (ekonomi)-nya cenderung menyerupai krisis keuangan global 2008-2009, lebih dari wabah SARS pada tahun 2003.”

Menurut para ekonom yang disurvei pada 19-25 Februari lalu, negara-negara yang bakal terdampak ekonominya adalah Australia, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Thailand. Kesemua negara itu diproyeksikan akan mencatatkan kinerja terburuk mereka selama bertahun-tahun pada kuartal pertama.

“Hanya Indonesia yang diperkirakan akan tetap relatif tidak terdampak,” tulis Reuters.

Dalam jajak pendapat sebelumnya, yang diterbitkan semingguan yang lalu, ekonomi China diproyeksikan akan tumbuh pada laju paling lambat pada kuartal saat ini sejak krisis keuangan. Di mana skenario kasus terburuk menunjukkan ekonomi melambat menjadi 3,5%, turun tajam dari pertumbuhan 6% yang dilaporkan pada kuartal keempat tahun 2019.

Di luar China, ekonomi Korea Selatan diperkirakan bakal jadi yang paling terdampak meski dampak wabah terhadap ekonomi sejauh ini tampaknya sederhana. Para ekonom memproyeksikan ekonomi Negeri Ginseng akan tumbuh di 2,1% pada kuartal pertama, turun 0,4 poin persentase dari jajak pendapat Reuters pada Januari.

Sementara Singapura, kota pelabuhan dan mitra dagang utama China ini diperkirakan akan mengalami kontraksi 0,6% pada kuartal ini. Ini akan menjadi penurunan pertama sejak resesi akibat krisis keuangan global terjadi pada 2009.

“Dampak dari coronavirus terhadap ekonomi di Asia berpotensi besar, karena pariwisata di kawasan ini terpukul. Dari hotel sepi hingga bandara yang kosong, dampak potongan kecil protein dan lipid (virus) ini terhadap ekonomi di kawasan ini berpotensi sangat besar,” kata Robert Carnell, kepala ekonom dan kepala penelitian untuk Asia-Pasifik di ING di Singapura.

“Jika ini tidak terdengar cukup menakutkan, ingatlah bahwa pariwisata hanyalah salah satu saluran melalui mana coronavirus dapat melemahkan pertumbuhan PDB negara-negara Asia yang bergulat dengan epidemi ini.”

Di sisi lain, ekonomi Thailand dan Taiwan diperkirakan akan tumbuh di angka 0,2% dan 1,3% di kuartal saat ini, yang mana merupakan pertumbuhan terendah dalam hampir setengah dekade.

Berbeda dengan negara-negara di atas, ekonomi Australia malah diproyeksikan akan stagnan pada kuartal saat ini, menghentikan laju pertumbuhan yang telah dibuat negara ini sejak 1991.

“Ini (wabah virus) dapat merusak pertumbuhan di beberapa negara selain dampak negatif dari China. Peningkatan tajam dalam infeksi yang dilaporkan oleh beberapa negara menimbulkan kekhawatiran akan pukulan yang lebih parah ke negara-negara ini dan juga pertumbuhan global,” kata Johanna Chua, ekonom pasar berkembang Asia di Citi di Hong Kong.

Bahkan, para ekonom berpendapat bahwa apabila wabah terus memburuk dan dan semakin membebani prospek, pertumbuhan diperkirakan akan turun lebih lanjut sebesar 0,5 poin persentase menjadi satu poin persentase penuh di semua negara yang disurvei.

“Dampak paling kecil adalah pada Indonesia, yang diperkirakan akan tumbuh 4,7% tahun ini,” jelas Reuters lagi. (okz/data2)