Diadili Tagih Hutang Rp80 Juta, Terdakwa: Ada Bukti Transfer ke Suami Pelapor

Terdakwa Febi Nur Amelia yang terjerat dalam kasus UU ITE. (WOL Photo/Ryan)

MEDAN, Waspada.co.id – Pekan lalu melalui kuasa hukum terdakwa Amelia mengajukan eksepsi kepada majelis hakim. Namun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randy Tambunan, menegaskan keberatan dengan nota eksepsi terdakwa Febi Nur Amelia yang terjerat dalam kasus UU ITE.

Randy juga meminta majelis hakim memeriksa dan mengadili perkara tindak pidana Febi Nur Amelia, karena dengan sengaja tanpa hak mendistribusikan, mentranfusikan informasi elektronik, dokumen elektonik yang memuat penghinaan atau pencemaran nama baik.

“Menyatakan surat dakwaan JPU telah memenuhi Pasal 143 ayat 3 huruf b KUHAP. Kemudian, menetapkan bahwa keberatan oleh penasehat hukum terdakwa ditolak karena tidak sesuai dengan Pasal 150 ayat 1 KUHAP, tidak berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku,” ujar Randy di hadapan Mejelis Hakim diketuai Sri Mulyani, di Ruang Cakra V, Selasa (4/2).

Lebih lanjut, di luar persidangan, terdakwa Febi berharap majelis hakim agar bisa menegakkan hukum dengan seadil-adilnya.

“Insyaallah (dibebaskan, red). Dan semoga hakim bisa kasih keputusan yang seadil-adilnya. Saya berharap seadil-adilnya keputusan untuk saya,” ujar Febi kepada wartawan usai persidangan.

Perasaan percaya diri itu juga senada dengan Penasehat Hukum terdakwa, Indra Gunawan Purba.

“Kita menghormati proses hukum dan saya meyakini pengadilan merupakan rumah keadilan bisa memberi keadilan pada kami,” ucapnya.

Namun, saat disinggung awak media terkait bukti peminjaman uang, PH terdakwa meyakinkan kalau Febi Amelia mempunyai bukti yang akurat terhadap peminjaman uang.

“Buktinya transfer E- banking kemudian sudah kita sampaikan pada proses penyelidakan polisi, ada bukti tranfer ke suami pelapor karena memang awalnya meminjam uang itu, untuk kebutuhan suami,” ungkapnya.

Indra juga berpendapat, kalau hukum yang sedang di jalani terdakwa Febi tidak mempunyai rasa keadilan.

“Jadi kalau kemudian orang memperjuangan haknya menagih utang kemudian dipidana, menurut kita itu menciderai rasa keadilan, menurut kita,” ujar Indra.

Diketahui, terdakwa Febi didakwa telah melanggar UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE) yang diatur dan diancam dengan Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UURI Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas UURI Nomor 11 Tahun 2008.

Pasalnya, melalui Instagramnya feby25052, membuat postingan yang berisi kalimat menagih uutang.

“SEKETIKA TERINGAT SAMA IBU KOMBES YG BELUM BAYAR HUTANG 70 JUTA TOLONG BGT DONK IBU DIBAYAR HUTANGNYA YG SUDAH BERTAHUN-TAHUN @FITRI_BAKHTIAR . AKU SIH Y ORANGNYA GK RIBET KLO LAH MMNG PUNYA HUTANG INI ORANG SUSAH BGT PASTINYA AKU IKHLASKAN TAPI BERHUBUNG BELIAU INI KAYA RAYA JADI HARUS DIMINTA DONK BERDOSA JUGA KLO HUTANG GK DIBAYAR KAN @FITRI_BAKHTIAR. Nah ini Yg punya Hutang 70 Juta Ini foto diambil sewaktu Dibandarjakarta Horor klo ingat yg beginian Mati nanti bakal ditanya lho soal hutang piutang,”tulis Febi di akun instagramnya.

Postingan itu kemudian dianggap Fitriani mencemarkan nama baiknya, dia lantas melaporkan peristiwa ini ke kantor polisi.(wol/ryan/data3)

Editor: SASTROY BANGUN