Bunuh Paman Kandung Karena Entok, Pria Ini Lemas Dituntut 5 Tahun Penjara

WOL Photo

MEDAN, Waspada.co.id – Terdakwa Zulfadly (27) warga Jalan Karang Sari, Komplek Purna Bakti, Kecamatan Medan Polonia ini, duduk terpaku lemas setelah dituntut 5 tahun penjara karena nekat bunuh paman kandungnya sendiri.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rocky Sirait, menjelaskan sebagaimana di atur dan di ancam pidana dalam Pasal 338 KUHPidana.

“Maka dengan ini meminta kepada ketua majelis hakim untuk menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara kepada terdakwa,” pinta jaksa di hadapan majelis hakim yang diketuai Syafril Batubara, di Ruang Cakra V, Rabu (19/2).

Dalam dakwaan sebelumnya, jaksa menjelaskan bahwa terdakwa Zulfadly tidak terima dimarahi oleh korban (pamannya) karena telah membawa hewan curian berupa ayam dan entok ke rumah.

“Terdakwa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain yaitu korban Nizam,” tegas jaksa.

Dikatakan, kasus bermula pada bulan Juli 2019 lalu, dimana terdakwa bersama dengan saksi Agus Trianda dan saksi Ferdi alias Uci datang ke rumah korban Nizam di Jalan Teratai Gang Bunga No. 121 Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Medan Polonia, dengan membawa ayam dan entok.

“Saat tiba di rumah korban, terdakwa bertemu dengan korban kemudian menegur terdakwa dengan mengatakan “kenapa kau bawa-bawa hewan curian ke rumah ini. “ Dijawab terdakwa, “ini rumah ayahku juga, ada hak ku di sini,” tutur terdakwa.

Selanjutnya antara terdakwa dan korban terjadi pertengkaran mulut. Kata jaksa, kemudian tiba-tiba korban langsung menyerang terdakwa dengan cara mencakar lehernya dengan membabi buta. Sambil menundukkan badannya, melihat korban melakukan perbuatan tersebut kepadanya.

“Kemudian terdakwa melakukan perlawanan dengan cara meninju kepala belakang korban secara berulang-ulang. Saat terjadi pertengkaran antara terdakwa dan korban, kemudian saksi Agus Trianda dan saksi Ferdi alias Uci serta saksi Rizky Atrasyah yang saat itu berada di tempat langsung melerai pertengkaran itu,” ujar jaksa.

Masih membaca dakwaan, jaksa melanjutkan, setelah itu korban pergi meninggalkan terdakwa dalam keadaan sempoyongan masuk ke dalam kamarnya. Oleh karena saat itu terdakwa masih emosi terhadap korban, sehingga terdakwa mengambil serta melemparkan sebuah kursi plastik serta dua buah batu bata ke arah kaca rumah korban. Sehingga kaca rumah menjadi pecah.

Kemudian terdakwa pergi menemui korban ke kamarnya namun pintu kamar dikunci dari dalam. Sehingga terdakwa mengedor-ngedor pintu kamar korban, namun tidak keluar dari dalam kamar, oleh karena korban tidak keluar dari dalam kamarnya terdakwa pergi meninggalkan korban.

Setelah terdakwa pergi, tidak berapa lama korban keluar dari dalam kamar dengan keadaan sempoyongan dan akhirnya terjatuh dan tergeletak di lantai depan kamar. Selanjutnya warga memberi pertolongan membawa korban ke rumah sakit. Namun setelah tiba di rumah sakit dan diberi pertolongan akhirnya meninggal dunia.

“Sesuai dengan visum yang menyimpulkan dari hasil pemeriksaan luar dan dalam penyebab kematian korban adalah akibat ruda paksa tumpul pada puncak kepala dan kepala bagian belakang kiri, menyebabkan pendarahan pada pangkal batang otak dan otak kecil. Dan odema selebri diserta ruda paksa tumpul pada leher dan dada sebelah kiri yang menyebabkan patahnya tulang dada sebelah kiri,” tutup jaksa.(wol/ryan/data3)

Editor: SASTROY BANGUN