“Sampai Malam Natal Kami Kerja Keras Ungkap Pembunuhan Hakim PN Medan”

Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Maringan Simanjuntak. (WOL Photo)

MEDAN, Waspada.co.id – Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Maringan Simanjuntak, mengungkapkan tersangka Zuraida Hanum mengakui seluruh perbuatannya setelah ditanyai sejumlah 8 orang penyidik.

”Setelah dicecar oleh 8 penyidik, akhirnya ibu Zuraida menyerah. Itupun setelah saya siapkan waktu untuk bicara dari hati ke hati dengan tersangka. Saya bilang, sudah lepaskan saja semua uneg-uneg ibu, biar plong. Sambil saya perlihatkan foto yang akhirnya menyentuh nuraninya sebagai istri sekaligus ibu,” katanya, Selasa (28/1).

Namun, mantan Kabagsumda Polrestabes Medan itu enggan merinci foto apa yang diperlihatkannya kepada Zuraida.

”Adalah,” ujarnya sambil melempar senyum.

Maringan mengakui, tersangka akhirnya menaruh kepercayaan setelah diajak bicara. ”Saya sentuh sisi psikisnya (kejiwaan). Sambil menangis dia akhirnya buka mulut. Namun awalnya masih separuh-separuh, seperti menutupi keterlibatan Reza, salah satu eksekutor, tapi akhirnya terbuka juga semuanya,” akunya.

Untuk sampai pada tahap penetapan tersangka dalang dan hubungan dengan para eksekutor, Maringan menyebutkan sungguh menguras tenaga, waktu dan pikiran. Sampai-sampai di malam Natal pun, tim masih berpikir bagaimana memecahkan kasus ini.

”itu sudah menjadi resiko dan tanggung jawab kami sebagai penyidik. Tidak pulang sebelum kasus yang sedang ditangani terungkap. Siapa sih yang tidak bahagia bila malam Natal kumpul dengan keluarga. Namun kami berpikir masih ada tugas yang harus dituntaskan,” sebutnya.

Tak dibantahnya, support dari Kapoldasu Irjend Pol Martuani Sormin Siregar, Wakil Kepala Polisi Daerah Sumatera Utara, Brigjend Pol Mardiaz Kusin Dwihananto, dan Direktur Reserse dan Kriminal Umum Poldasu Kombes Pol Andi Rian, menjadi pemicu tim bekerja secara total. Hingga akhirnya, awal Januari lalu, kasus ini diekspose ke publik oleh Kapoldasu.

Tersangka Zuraida Hanum, Jefry dan Reza, dipamerkan sebagai dalang dan eksekutor mati Hakim PN Medan, Jamaluddin. Dihabisi di rumahnya sendiri di kawasan Medan Johor, jasad Jamaluddin selanjutnya dibuang bersama mobilnya Land Cruiser ke kawasan perkebunan sawit di Kutalimbaru. Skenarionya, Jamaluddin mengalami kecelakaan. Kejanggalan di dapat, karena jenazah ditemukan tak bernyawa di kursi tengah mobil.

Polisi kini sudah menggelar rekonstruksi ke tiga kali. Rekonstruksi ini dilakukan di tiga tempat, di Jembatan Desa Namo Rih Pancur Batu, tempat para tersangka membuang handphone yang khusus digunakan untuk komunikasi mulai dari perencanaan hingga eksekusi pembunuhan.

Lokasi selanjutnya di Simpang Tuntungan untuk membeli sandal, dan di rumah tersangka Reza Fahlevi di Selayang.

Dari rekontruksi ini diketahui, tersangka lain, Jefri Pratama membuang handphone dari atas jembatan di Desa Namorih, Pancur Batu. Sedangkan Reza menunggu di atas sepeda motor, Jumat (29/11) lalu.

Handphone itu sekaligus dipakai keduanya berhubungan dengan Zuraida Hanum, istri Jamaluddin. Alat komunikasi itu dibuang ke sungai sedalam lebih kurang 20 meter dari jembatan.

Kedua tersangka kemudian membuang barang bukti sarung tangan di area perkebunan sawit di Desa Suka Damai, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang.

Usai melakukan adegan tersebut, selanjutnya kedua tersangka pergi ke warung yang berada di daerah Tuntungan. Di sana, mereka membeli sandal jepit.

“Rekonstruksi ini dilakukan untuk mengetahui mereka telah membuang barang bukti usai membuang jasad Jamaluddin,” pungkas Maringan.(wol/lvz/data2)

Editor: SASTROY BANGUN