Dituntut Hukuman Mati, Terdakwa: Saya Punya Tiga Anak

WOL Photo/Ryan

MEDAN, Waspada.co.id – Terdakwa Iskandar alias Bin Hamid, melalui kuasa hukumnya Kuna Silen, menegaskan tuntutan pidana mati yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sangat tidak mengedepankan keadilan dan keadaan dari terdakwa.

“Sesungguhnya narkotika jenis sabu tersebut bukanlah milik terdakwa, melainkan milik Atok (DPO), sehingga pidana mati yang dijatuhkan kepada terdakwa sangat tidak sesui peran yang dimiliki terdakwa, yang hanya merupakan perantara,” tutur PH Terdakwa di hadapan majelis hakim.

Kuna juga menuturkan kalau terdakwa merupakan tulang punggung keluarga dan mempunyai tiga orang anak.

“Tuntutan mati itu sangat mengejutkan dan menjatuhkan tangisan mendalam bagi keluarga terdakwa khususnya istri dan anaknya,” ucapnya.

Dalam dakwaan sebelumnya, JPU Nur Ainun, bahwa berdasarkan barang bukti yang ditemukan petugas dari para terdakwa yakni 50 bungkus di dalam 2 buah tas yang masing-masing berisi 25 bungkus warna hijau dengan berat 50 kg sabu, 1 buah plastik kresek warna hitam yang di dalamnya berisikan sabu seberat 1 kg dan 4 bungkus plastik yang berisikan 5,2 kg.

Dari 50 bungkus sabu yang ditemukan petugas Direktorat Narkoba Bareskrim Polri, merupakan sisa dari 90 bungkus yang diambil oleh terdakwa Iskandar dan terdakwa Boiman (Berkas Terpisah).

Sedangkan 40 bungkus sudah berhasil diserahkan kepada pembelinya oleh terdakwa Marsimin (Berkas terpisah) dan terdakwa Sunarto (Berkas Terpisah).

“Jika berhasil terdakwa akan diberi upah Rp300 juta oleh Atok (DPO),” tutup JPU.
(wol/ryan/data3)

Editor: SASTROY BANGUN