Dimarahi Bawa Ayam Curian, Zul Tega Pukuli Pamannya Hingga Tewas

Terdakwa Zulfadly alias Zul, warga Jalan Karang Sari, Komplek Purna Bakti, Kecamatan Medan Polonia. (WOL Photo/Ryan)

MEDAN, Waspada.co.id – Terdakwa Zulfadly alias Zul (27) warga Jalan Karang Sari, Komplek Purna Bakti, Kecamatan Medan Polonia, harus duduk di bangku persidangan Pengadilan Negeri Medan setelah membunuh paman kandungnya sendiri.

Pasalnya, terdakwa Zul tidak terima dimarahi pamannya karena telah membawa ayam dan entok curian ke dalam rumah.

“Terdakwa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain yaitu korban Nizam,” tegas Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rocky Sirait di hadapan Majelis yang diketuai Syafril Batubara, di Ruang Cakra V, Jumat (31/1).

Jaksa melanjutkan, kasus bermula pada Juli 2019 lalu, dimana terdakwa bersama dengan saksi Agus Trianda dan saksi Ferdi alias Uci datang ke rumah korban di Jalan Teratai Gang Bunga No. 121, Kelurahan Sarirejo Kecamatan Medan Polonia.

“Saat tiba di rumah, terdakwa bertemu dengan korban kemudian korban menegur terdakwa dengan mengatakan “Kenapa kau bawa-bawa ayam curian itu ke rumah ini. Dijawab terdakwa “ ini rumah ayahku juga, ada hakku di sini,” tutur jaksa menceritakan.

Selanjutnya antara terdakwa dan korban terjadi pertengkaran mulut, kemudian tiba-tiba korban langsung menyerang terdakwa dengan cara mencakar leher terdakwa dengan membabi buta.

“Kemudian terdakwa melakukan perlawanan dengan cara memukul, meninju korban ke arah bagian kepala belakang secara berulang-ulang. Saat terjadi pertengkaran, antara terdakwa dan korban, disaksikan Agus Trianda, Ferdi alias Uci, serta Rizky Atrasyah, langsung melerai pertengkaran terdakwa dan korban,” ujar jaksa.

Masih membaca dakwaan, jaksa melanjutkan, setelah itu korban pergi meninggalkan terdakwa dalam keadaan sempoyongan masuk ke kamarnya. Oleh karena saat itu terdakwa masih emosi terhadap korban, sehingga terdakwa mengambil serta melemparkan sebuah kursi plastik serta dua buah batu bata ke arah kaca rumah korban.

Sehingga kaca rumah menjadi pecah, kemudian terdakwa pergi menemui korban ke kamarnya namun pintu dikunci dari dalam. Terdakwa sempat menggedor-gedor pintu kamar korban namun tidak keluar. Karena korban tidak keluar dari kamarnya, terdakwa pergi.

Setelah terdakwa pergi, tidak berapa lama korban keluar dari dalam kamar dengan keadaan sempoyongan dan akhirnya terjatuh dan tergeletak dilantai depan kamar. Selanjutnya warga memberi pertolongan kepada korban dengan membawanya ke rumah sakit, namun setelah tiba di rumah sakit dan diberi pertolongan akhirnya korban meninggal dunia.

“Sesuai dengan visum yang menyimpulkan, dari hasil pemeriksaan luar dan dalam penyebab kematian korban adalah akibat ruda paksa tumpul pada puncak kepala dan kepala bagian belakang kiri yang menyebabkan pendarahan pada pangkal batang otak dan otak kecil. Dan odema selebri diserta ruda paksa tumpul pada leher dan dada sebelah kiri yang menyebabkan patahnya tulang dada sebelah kiri,” tutup jaksa.

Dalam kasus ini, terdakwa di ancam pidana Pasal 338 KUHPidana.(wol/ryan/data3)

Editor: SASTROY BANGUN