Banda Aceh-Sawahlunto Bahas Kerja Sama Heritage

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman menyambut kunjungan kerja Wakil Wali Kota Sawahlunto Zohirin Sayuti di balai kota, Jumat (24/1). (Ist)
Iklan

BANDA ACEH, Waspada.co.id – Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman menyambut kunjungan kerja Wakil Wali Kota Sawahlunto Zohirin Sayuti di balai kota, Jumat (24/1).

Wawalko Zohirin datang bersama tiga anggota Komisi II DPRK Sawahlunto, sementara Aminullah turut didampingi oleh Wakil Wali Kota Zainal Arifin, para Asisten, dan sejumlah Kepala SKPK.

Kepada tuan rumah, Zohirin mengatakan kehadiran pihaknya untuk mempelajari kebangkitan Banda Aceh pasca tsunami, wabil khusus soal pengelolaan kawasan heritage.

“Apalagi pada Juli tahun lalu kota telah dinobatkan sebagai warisan dunia oleh Unesco, karena sejarah pertambangan batu bara yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi Sumatera Barat,” ungkapnya.

Menurutnya, seiring dengan berakhirnya era keemasan industri tambang, Sawahlunto hampir menjdi kota mati. “Pernah terjadi eksodus penduduk besar-besaran dan pertumbuhan ekonomi sempt menyentuh level minus enam,” ungkapnya lagi.

iklan

Namun kondisi mulai membaik tatkala 2001 Sawahlunto mencanangkan visi kota wisata tambang pada 2020, “dan alhamdulilah pengakuan dari Unesco mampu kita raih tahun lalu. Untuk itu kami ingin belajar banyak dari Banda Aceh yang terkenal akan wisata heritage-nya,” kata Zohirin.

Hal lainnya, mantan Sekda Sawahlunto itu juga menyatakan tertarik untuk mempelajari lembaga keuangan mikro -Mahirah Muamalah Syariah (MMS)- yang digagas oleh Wali Kota Aminullah.

“Kami juga sedang menggagas bank infaq untuk memberikan pinjaman kepada pelaku usaha tanpa bunga. Apalagi tengkulak juga masih merajalela di kota kami. Jadi kami berharap dapat mengadopsi teknis penyaluran modal oleh MMS di Banda Aceh,” harapnya.

Kepada tamunya, Aminullah memaparkan panjang lebar soal profil kota, prestasi, sektor-sektor andalan, hingga kemudahan investasi. “Destinasi atau objek destinasi heritage mulai dari zaman kerajaan, Hindia Belanda, hingga pasca tsunami, merupakan salah satu nilai jual Banda Aceh yang tak dimiliki daerah lain.”

“Pasca bencana maha dahsyat 2004 silam, donasi dari seluruh negara di dunia sangat besar untuk Banda Aceh. Dan pembenahan serta pengelolaan kawasan heritage menjadi concern kita, yang sekarang turut kita kuatkan qanun kawasan heritage,” jelas Aminullah.

Mengenai MMS, didirikan untuk memenuji kebutuhan modal para pelaku UMKM dan pengusaha kecil, sekaligus membasmi rentenir. “Konsep dan prosedur kerjanya sama dengan bank dan kita jalankan secara profesional.”

“Dan alhamdulilah progresnya sangat menggembirakan. Dari aset Rp 5 miliar kini meningkat menjadi Rp 26 miliar, sementara pembiayaan sudah mencapai Rp 10 miliar lebih. Selain itu, presentase pengusaha kecil yang berurusan dengan rentenir juga menurun drastis dari 80 ke 30 persen,” katanya.

“Kami siap menjalin kerja sama dan saling berbagi best practice dengan Sawahlunto demi kemajuan kedua kota pada masa mendatang,” pungkas Aminullah seraya mempersilahkan tamunya untuk menikmati beragam destinasi wisata favorit Banda Aceh sebelum kembali ke kota asal. (bandaacehkota/ags/data3)

Iklan