Sebut Ekonomi Korut Gawat, Kim Jong Un Tetap Bahas “Kado Natal” untuk AS

Iklan

PYONGYANG, Waspada.co.id – Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un menyatakan bahwa saat ini ekonomi mereka berada dalam kondisi gawat.

Karena itu, dia menyerukan para petinggi partai berkuasa pemerintah untuk segera mengambil langkah perbaikan.

Kantor berita Korut, KCNA, pada Senin (30/12) melaporkan hal itu disampaikan Kim pada hari kedua pertemuan dengan para petinggi partai di Pyongyang.

“Sudah tiba saatnya untuk membuat perubahan yang menentukan dalam pembangunan ekonomi Korea Utara,” kata Kim saat memimpin pertemuan dikutip dari AFP.

Pertemuan tersebut diadakan jelang tenggat perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat berakhir pada 31 Desember.

iklan

Rapat itu juga membahas kebijakan penting terkait kesiapan uji rudal balistik antarbenua, sebagai ‘kado Natal’ untuk Amerika Serikat.

Dalam kesempatan itu, Kim menugaskan para pejabat untuk segera memperbaiki situasi, terutama di sektor industri yang menjadi penunjang ekonomi nasional.

Akan tetapi, Korea Utara tidak merilis angka statistik perekonomian mereka sehingga bagaimana kinerja keuangan tidak dapat diketahui.

Pada Juli lalu, bank sentral Korea Selatan memperkirakan ekonomi Korea Utara menyusut sebesar 4,1 persen pada 2018.

Pembicaraan denuklirisasi di semenanjung Korea antara Kim dan Presiden AS Donald Trump mengalami kebuntuan setelah pertemuan di Vietnam pada Februari berakhir tanpa hasil.

Korut sebenarnya sudah sepakat akan menghentikan program senjata nuklir dengan imbalan proses keamanan, pencabutan sanksi ekonomi dan jaminan ketahanan energi. Akan tetapi, Korut menolak usulan AS untuk melakukan verifikasi terlebih dulu yang mengakibatkan proses terhenti.

China dan Rusia sebagai mitra ekonomi utama Korut meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencabut sanksi ekspor batu bara, besi, biji besi dan tekstil dari Pyongyang. Rancangan resolusi pencabutan sanksi itu sudah dikirim sejak pertengahan Desember kemarin kepada seluruh negara anggota DK PBB.

“Keputusan Pyongyang untuk mengadakan pertemuan selama beberapa hari itu menggambarkan betapa seriusnya mereka memandang situasi internal dan eksternal,” kata Cheong Seong-chang, seorang peneliti senior di Sejong Institute. (cnn/data2)

Iklan