OSO Jawab Posisi Wiranto dan Tak Mengundang Jokowi

Oesman Sapta Odang. (Ist)

JAKARTA, Waspada.co.id – Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Oedang (OSO) menegaskan Partai Hanura sudah tidak memiliki jabatan Dewan Pembina dalam struktur organisasi. Hal itu Ia ungkapkan menanggapi ketidakhadiran Wiranto dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) ke-3 partai tersebut di Hotel Sultan, Jakarta (17/12).

“Sekarang kita sudah tidak ada dewan pembina dalam struktur organisasi,” kata OSO kepada wartawan usai membuka Munas.

OSO merujuk pada Surat Keputusan (SK) Menkumham yang tertanggal 25 November 2019. SK tersebut telah mengesahkan struktur partai tersebut yang hanya memiliki dewan pakar dan penasihat saja.

“jadi kita berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) saja,” tambah OSO.

Dalam kesempatan tersebut, OSO juga menjelaskan ihwal tak mengundang Presiden Joko Widodo ataupun petinggi partai lain dalam pembukaan musyawarah nasional (munas) ke-3.

“Kami membuat (Munas) ini khusus dalam keluarga besar Partai Hanura,” kata politis yang akrab dipanggil OSO kepada wartawan usai membuka munas di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (17/12).

Kendati demikian, OSO tak ingin disebut bahwa partainya tidak mengundang pihak-pihak di luar partai. Menurutnya, Ia masih membuka peluang untuk mengundang tokoh-tokoh tersebut. Hanya saja OSO tidak lugas menjabarkan mengenai waktu undangan tersebut akan ditujukan.

“Bukan tidak mengundang, nanti akan kami undang,” tegas OSO.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden 2019-2024 Wiranto merasa tak perlu mengundurkan diri dari posisi Ketua Dewan Pembina Partai Hanura meski telah menjabat sebagai Wantimpres.

“Yang dilarang dalam undang-undang itu jika menjabat sebagai ketua umum atau sebutan lain, atau menjadi anggota badan pengurus harian. Selain itu diijinkan,” kata Wiranto.

Terkait jalannya Munas, pantauan CNNIndonesia.com, sepanjang pembukaan Munas di Jakarta itu, hanya OSO yang memberikan orasi dari atas podium. Tak terlihat kedatangan pejabat pemerintahan ataupun petinggi dari partai lain dalam ruangan tersebut.

Dalam orasinya, OSO menyinggung konflik internal yang pernah menimpa Partai Hanura pada awal tahun 2018 silam.

OSO menyebut para mantan kader Partai Hanura yang menyebabkan konflik itu sebagai penghianat karena ingin merusak Hanura. Tak jelas siapa sosok penghianat yang dimaksud OSO itu. Ia hanya bersyukur para kader Hanura itu kini sudah berpindah partai politik karena kalah dalam gugatan hukum.

Selain itu, OSO juga bercerita mengenai dirinya yang sempat ditawarkan oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) beberapa waktu lalu.

Meski demikian, OSO mengaku menolak tawaran tersebut dengan alasan karena masih ingin fokus menjadi Ketua Umum di Hanura. Meski tak mendapatkan jabatan publik, OSO mengaku tetap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma’ruf selama lima tahun ke depan. (cnnindonesia/ags/data3)