_
Home / Warta / Politik / Ketua DPP Hanura: Wiranto Tak Diundang Karena Minta OSO Mundur
Inas Nasrullah Zubir. (Ist)

Ketua DPP Hanura: Wiranto Tak Diundang Karena Minta OSO Mundur

JAKARTA, Waspada.co.id – Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir mengatakan Wiranto tidak diundang ke Munas ke-3 Hanura karena meminta Ketua Umum Oesman Sapta Odang (OSO) mundur.

“Karena kelakuannya tersebut gitu loh, jadi kita tidak undang,” tuturnya di Hotel Sultan, Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (18/12).

Kelakukan yang dimaksud Inas adalah surat resmi yang dikeluarkan Wiranto untuk mendesak OSO mundur sebagai ketum.

“Karena Pak Wiranto membuat kesalahan kepada partai, ketika menjelang munas dia mengirimkan surat yang disebarluaskan oleh Pak Subagyo HS meminta Pak OSO mundur,” jelasnya.

Menurut Inas hal tersebut tak elok dilakukan. Harusnya Wiranto berhadapan langsung dengan OSO jika merasa ada permasalahan yang harus diselesaikan. “Kalau dia merasa ketua dewan pembina, bukan lewat surat. Berhadapan langsung dengan ketua umum terus dia bicara. Itu yang harus dia lakukan,” tutur Inas.

Wiranto di tempat terpisah mengingatkan soal pakta integritas yang telah ditandatangani oleh OSO dan juga beberapa saksi lainnya.

“Beliau hanya mejabat sebagai ketum janjinya waktu itu hanya sampe 2019, Subgayo (Subagyo HS) ada (jadi saksi),” kata Wiranto saat menggelar jumpa pers di Jakarta, Rabu (18/12).

Dewan Pembina Hanura diketahui telah mengirimkan surat kepada OSO untuk meminta sikap kewarganeraraan dari OSO agar mundur dari jabatan Ketum karena tidak dapat memenuhi syarat-syarat dari pakta integritas yang telah dibuat Desember 2016 lalu.

Ia mengingatkan bahwa pengunduran diri itu multak harus dilakukan sebagai bentuk sanksi apabila OSO tidak memenuhi poin-poin tersebut. “Kalau sampai itu tidak ditaati, maka saudara OSO sebagai ketum akan secara tulus dan ikhlas tanpa paksaan mengundurkan diri sebagai ketum Hanura,” tutur Wiranto.

Dalam pakta integritas tersebut, telah disepakati OSO dapat menjadi ketua umum menggantikan Wiranto hingga 2020. Bukan hanya itu, OSO juga diminta untuk menjamin kemenangan dari Partai Hanura dalam Pemilu 2019.

Selain itu, disebutkan juga bahwa OSO harus dapat menjamin penambahan kursi Partai Hanura di DPR-RI dari jumlah yang sebelumnya di dapat.

Dalam pelaksanaannya, Dewan Pembina menikai OSO tidak berhasil membawa Hanura untuk mendaparkan kursi di DPR-RI pada perideo 2019 ini. Disebutkan juga, Dewan Pembina telah mengadakan rapat pada 7 Desember 2019 dan menyepakati pengunduran diri terhadap OSO.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Hanura Muhammad Ongen Sangaji menuding Wiranto yang harusnya disalahkan soal Hanura tidak lolos ke Senayan.

“Menurut saya bukan Pak OSO tidak sanggup membawa partai ini lolos PT. Tapi ada upaya-upaya yang kemudian dilakukan secara langsung maupun tidak langsung menjatuhkan Pak OSO waktu itu,” tuturnya.

Ongen mengatakan sesungguhnya perpecahan internal yang membuat Hanura tidak lolos ambang batas parlemen.

Wiranto dianggap jadi dalang dari perpecahan ini, mengacu pada pertemuan Ambhara yang dianggap ilegal oleh pihak OSO.

“Dengan kegiatan yang menurut saya ilegal, yang orang-orangnya sekarang pindah ke partai lain. Nah itu lah [kenapa] partai ini menjadi pincang. Bukan partai ini nggak bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Ongen mengatakan ia jadi saksi atas kejadian yang ia klaim tersebut. “Saya saksinya. Ada karena sebagian ketua DPD dibawa ke sana. Sebagian ketua DPC dibawa kesana. Masih syukur saya bisa menggiring mereka untuk kembali sadar, untuk membangun partai ini,” tambahnya.

Hanura diterpa konflik pada 2017, saat Wiranto menyerahkan jabatan ketua umum kepada OSO. Transisi kekuasaan itu memicu keluarnya mosi tak percaya dari 27 pengurus Dewan Perwakilan Daerah (DPD) I Hanura pada akhir 2017.

Peristiwa itu berbuntut panjang. Hanura terbelah dua. Kubu yang dipegang oleh OSO (kubu Manhattan), dan kubu yang dipegang oleh mantan Sekretaris Jendral Hanura, Syarifuddin Sudding (kubu Ambhara).

Kedua kubu saling menggelar pertemuan dan saling memecat ketua umum dan sekjen. Saat ini, banyak eks kader Hanura dari kubu Sudding sudah berpindah ke partai politik lain. Sudding sendiri pindah ke PAN. Sementara loyalis Sudding lainnya seperti Dadang Rusdiana pindah ke NasDem.

Pada Munas ke-III yang digelar 17 sampai 19 Desember 2019 ini, Wiranto tidak diundang dengan dalih Hanura hanya mengundang orang internal.

Wiranto dianggap bukan lagi pengurus Hanura oleh kubu OSO semenjak tidak lagi menjabat ketum. “Sekarang kita sudah tidak ada dewan pembina dalam struktur organisasi,” kata OSO kepada wartawan usai membuka Munas kemarin.

OSO merujuk pada Surat Keputusan (SK) Menkumham yang tertanggal 25 November 2019. SK tersebut telah mengesahkan struktur partai tersebut yang hanya memiliki dewan pakar dan penasihat saja. (cnnindonesia/ags/data3)

Check Also

PBNU Sepakat WNI Eks ISIS Tidak Perlu Dipulangkan

JAKARTA, Waspada.co.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengapresiasi langkah pemerintah untuk tidak memulangkan Warga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.