_
Home / Fokus Redaksi / Kaleidoskop Internasional 2019, Dari Perang Dagang China-AS Hingga Pemakzulan Trump
Ilustrasi Waspada.co.id

Kaleidoskop Internasional 2019, Dari Perang Dagang China-AS Hingga Pemakzulan Trump

Waspada.co.id – Isu Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China masih mewarnai dinamika politik dan perekonomian global sepanjang 2019.

Upaya perundingan penyelesaian sengketa yang menempuh jalan panjang untuk mencapai titik temu, membuat prospek politik dan perekonomian dunia tahun ini masih penuh dengan ketidakpastian.

Ketegangan hubungan kedua negara semakin memanas manakala perseteruan merembet ke konflik Hong Kong dan isu Uighur.

Di tengah isu perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia tersebut, isu pemakzulan Presiden AS Donald Trump oleh Kongres AS juga menarik sorotan dunia.

Isu lain yang juga mewarnai perjalanan dunia dalam setahun ini, seperti masalah Brexit yang tak kunjung usai, demonstrasi Hong Kong yang tak berkesudahan, dan masih banyak lagi.

Berikut kaleidoskop rangkaian peristiwa yang menarik perhatian dunia sepanjang 2019:

Januari, Putaran Baru Perundingan Dagang AS-China

Foto: Ilustrasi perang dagang antara Amerika Serikat melawan China (theeventchronicle)

Mengawali tahun 2019, China dan Amerika Serikat melakukan pembicaraan perdagangan pertama sejak berlakunya gencatan perang dagang 90 hari yang disepakati pada akhir tahun lalu. Perundingan dagang digelar dua kali, yakni pada 7-9 Januari di Beijing, China, dan pada 30-31 Januari di Washington DC, AS.

Kedua belah pihak berupaya keras mencari solusi terbaik yang dapat menyudahi konflik perdagangan antara kedua negara sebelum batas waktu periode terhentinya pengenaan tarif berakhir pada 1 Maret 2019.

Pemerintah AS dan China menyatakan telah membuat kemajuan dalam perundingan dagang tersebut. Namun Presiden Trump mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan kedua negara tidak akan tercapai sampai ia dan Xi Jinping bertemu dalam waktu dekat.

Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih menegaskan kembali ancamannya untuk menaikkan tarif pada 1 Maret, apabila tidak tercapai kesepakatan perdagangan yang memuaskan. Pemerintahan Trump telah menyatakan untuk menaikkan tarif terhadap impor barang-barang senilai US$200 miliar asal China.

Februari, Pertemuan Trump dan Kim Jong-un

(bbc)

Pertemuan kedua antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Vietnam, setelah pertemuan bersejarah di Singapura tahun lalu, rupanya tak sesuai harapan. Pada pertemuan tingkat tinggi yang digelar pada 28 Februari itu, keduanya gagal mencapai kesepakatan apapun mengenai denuklirisasi semenanjung Korea.

Padahal sebelumnya, baik Trump dan Kim telah menyatakan harapan untuk kemajuan dalam meningkatkan hubungan dan pada isu denuklirisasi.

Meski tak menghasilkan kesepakatan dan agenda pertemuan berakhir lebih cepat, Trump mengklaim pertemuan tersebut berjalan dengan produktif.

“Ini terkait sanksi [terhadap Korea Utara]. Pada dasarnya mereka ingin sanksi diangkat secara keseluruhan, tapi kami tidak dapat melakukan hal tersebut,” ujar Trump (28/2).

Pada kesempatan yang sama Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo mengatakan AS menyebutkan tuntutan tambahan namun Korea Utara tidak siap untuk mengabulkannya.

Baik Trump maupun Pompeo menolak untuk mengatakan secara spesifik tuntutan apa yang ditolak oleh Kim, namun presiden mengindikasikan bahwa pemimpin Korea Utara tersebut tidak setuju untuk melanjutkan program denuklirisasi sebagai imbalan penghapusan sanksi.

Dalam konferensi pers tersebut Trump mengatakan bahwa Kim menawarkan untuk membongkar fasilitas nuklir di Yongbyon, Korea Utara, namun menurut Trump itu saja tidak cukup.

Pompeo menambahkan bahwa tanpa Yongbyon, negara tersebut tetap masih akan memiliki rudal, hulu ledak, dan unsur-unsur lain dari program nuklir yang tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat.

Maret, Teror di Christchurch

foto: Sejumlah karangan bunga dan boneka untuk menghormati korban teror masjid di Selandia Baru. (Reuters)

Serangan teror supremasis kulit putih di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, Selandia Baru pada Jumat (15/3/2019) lalu, menjadi salah satu peristiwa teror yang mengundang duka mendalam dan keprihatinan dunia tahun ini.

Penembakan massal di dua masjid di kota Christchurch tersebut setidaknya menewaskan lebih dari 50 orang dan menyebabkan 20 orang lainnya luka-luka. Dua warga negara Indonesia (WNI) juga dilaporkan turut menjadi korban penembakan.

Tersangka yang diketahui bernama Brenton Tarrant bahkan merekam dan menyiarkannya aksi penyerangannya di Masjid Al Noor dengan aplikasi telepon selular bernama LIVE4 yang terhubung langsung ke Facebook selama 17 menit.

Dalam siaran langsung itu, Tarrant mengabadikan aksi membabi butanya saat menembak warga yang berkumpul di masjid Al Noor untuk ibadah salat Jumat. Video yang beredar memperlihatkan Tarrant yang berjalan ke arah masjid dan mulai menembaki setiap sudut ruangan. Para jemaah tampak tergeletak tak bergerak dan berlari untuk menyelamatkan diri.

Insiden ini pun mendapat simpati dan kecaman keras dari para tokoh dunia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad hingga Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menilai bahwa serangan tersebut terjadi karena iklim Islamofobia yang meningkat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan kembali urgensi untuk bekerjasama dengan baik secara global guna melawan Islamofobia dan menghilangkan intoleransi dan kekerasan ekstremisme dalam segala bentuknya.

Buntut dari serangan paling mematikan di Selandia Baru itu, Selandia Baru kemudian melarang kepemilikan semua jenis senjata api semi-otomatis bergaya militer dan senapan serbu (rifle).

April, Theresa May Ajukan Penundaan Brexit

foto: Perdana Menteri Inggris, Theresa May (Reuters)

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengajukan penundaan Brexit hingga 30 Juni kepada Uni Eropa. Perpanjangan ini diajukan sebagai upaya May untuk menghindari pemilihan Eropa pada bulan selanjutnya yang dapat berdampak buruk bagi politik dalam negeri Inggris.

Namun, Uni Eropa berpendapat bahwa penundaan Brexit, jika memang terjadi setidaknya akan memakan waktu lebih lama. Apalagi dengan kebuntuan yang terjadi di parlemen Inggris.

Akhirnya para pemimpin Uni Eropa setuju untuk memperpanjang tanggal keluarnya Inggris dari blok tersebut hingga akhir Oktober 2019.

Perpanjangan Brexit dilakukan demi menghindari perpisahan tanpa kesepakatan yang dapat berakibat semrawut. Namun di sisi lain, perpanjangan batas waktu ini juga berisiko menimbulkan ketidakpastian politik selama enam bulan lebih lama atas hubungan Inggris dengan Uni Eropa.

Inggris sedianya dijadwalkan keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret tetapi May telah berulang kali gagal untuk membawa kesepakatan Brexit yang ia negosiasikan dengan UE disetujui oleh Parlemen Inggris.

Check Also

Update: Belum Sebulan Korban Meninggal Virus Corona Capai 2.345 Jiwa

HUBEI, Waspada.co.id – Total korban jiwa akibat wabah virus corona (Covid-19) mencapai 2.345 orang pada ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.