_
Home / Artikel Pembaca / Juliette Binoche, Lily James, dan Dian Sastro: Srikandi Film Dunia di IFFAM 2019
Foto: IFFAM 2019

Juliette Binoche, Lily James, dan Dian Sastro: Srikandi Film Dunia di IFFAM 2019

Oleh: Daniel Irawan

MASIH tergolong festival film internasional di Asia yang berusia sangat muda, IFFAM (International Film Festival & Awards Macau), di edisi keempat yang dihelat dari 5-10 Desember lalu terus melaju dengan ambisinya.

Tidak hanya dengan deretan film-film bergengsi di segmen Gala sebagai pendamping kategori kompetisinya, festival yang memperkenalkan talenta-talenta baru sinema Asia ke mata internasional ini tetap mempertahankan kehadiran bintang-bintang internasional ternama.

Namun tahun ini ada yang lebih spesial. Bersama sejumlah gerakan pemberdayaan perempuan yang tengah marak di sinema dunia, ada tiga srikandi film dunia yang hadir. Di deretan penerima penghargaan khusus Asian Stars Up Next Awards yang digagas di atas kerja sama dengan media film terkemuka Variety, IFFAM 2019 didominasi oleh wanita.

Sebut saja Bea Alonzo (Filipina), Bhumi Pednekar (India), Jennis Opraset dan Praewa Suthampon (grup musik BNK48 Thailand) serta Lim Yoona (Korsel) dan Asmara Abigail (Indonesia).

Tiga nama besar tersebut adalah aktris Prancis veteran Juliette Binoche (peraih Oscar 1996 lewat The English Patient), aktris Hollywood Lily James yang mendunia lewat perannya sebagai Cinderella serta Dian Sastrowardoyo yang menjadi salah satu juri internasional setelah tahun lalu hadir membawa film Aruna dan Lidahnya.

Foto: IFFAM 2019

Binoche mengisi sesi perbincangan khusus sambil mewakili film terbarunya, The Truth karya sineas Jepang Hirokazu Kore-eda di segmen Special Screening, James di sesi masterclass kerja sama dengan BAFTA (British Academy of Film and Television Arts).

Dalam sesinya yang dipandu oleh artistic director IFFAM Mike Goodridge, Binoche mengatakan selalu merasa tertarik dengan budaya Asia, khususnya Tiongkok, termasuk dalam sinema yang dianggapnya punya perbedaan dalam banyak hal dengan film Amerika dan Eropa.

Mengaku juga menggemari terapi akupunktur yang berasal dari Tiongkok, ia juga membahas pengalaman berbeda saat bekerja dengan sutradara-sutradara terkemuka seperti Jean-Luc Godard lewat Hail Mary (1985), Krzysztof Kieslowski yang menyutradarai Three Colors: Blue (1993) sebagai salah satu filmnya yang paling dikenal, juga Leos Carax dalam The Lovers on the Bridge (1991).

Menceritakan awal keikutsertaannya dalam The Truth, Binoche mengatakan sudah lama mengagumi Kore-eda sejak bertemu 12 tahun lalu di Cannes, hingga kembali jumpa di Kyoto beberapa tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, Binoche dipasangkan bersama aktris legendaris Prancis Catherine Deneuve yang digemarinya sejak kecil.

Foto: IFFAM 2019

Lily James berbagi cerita soal perjalanan karirnya. Aktris cantik asal Inggris ini mengatakan bahwa bukanlah suatu hal mudah meraih kesuksesan di Hollywood dan karirnya juga tak didapat secara instan. Setelah lulus dari Guildhall, sekolah musik dan drama di London, Lily mulai mendapat sejumlah peran termasuk di sebuah serial televisi Downton Abbey yang belakangan sangat dikenal.

Baginya, peran Cinderella dalam film Disney adalah kesempatan besar. Bagaikan mimpi seorang gadis yang memakai gaun indah, James benar-benar berusaha menjiwai karakter yang sudah dikenalnya sejak kecil. Begitupun, tak ada bedanya berakting dalam film layar lebar, televisi bahkan panggung karena seni peran mesti bisa masuk ke mana saja, termasuk dalam menjajal kemampuan bernyanyi lewat perannya dalam sekuel film musikal Mammamia 2: Here We Go Again.

Apalagi, di sana ia harus berbagi peran dengan aktris-aktris legendaris seperti Meryl Streep dan Cher. Baginya, kesuksesan yang telah diraih merupakan anugerah yang terus mendorongnya untuk mengembangkan karier, dan di medium manapun setiap aktor harus terbuka terhadap segala penilaian yang datang setelahnya.

Bertugas sebagai juri internasional bersama sejumlah talenta sinema internasional lain; Peter Chan, sutradara Hong Kong ternama, produser veteran Ellen Eliasoph, aktor Downton Abbey Tom Cullen serta sineas kelahiran Myanmar Midi Z, menurut Dian Sastro memberinya sebuah pengalaman baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Foto: IFFAM 2019

Selain muncul di sesi konferensi pers juri internasional, Dian yang juga menyempatkan berbincang dengan sejumlah media dari Indonesia di IFFAM mengatakan bahwa proses penjurian ini baginya seperti sebuah perkuliahan dengan transfer ilmu yang dirasanya sangat berharga.

Menonton beberapa film sekaligus dari 10 film kompetisi utama termasuk Mudik karya Adriyanto Dewo dari Indonesia, kemudian langsung mendiskusikannya untuk memberi penilaian, menurut Dian merupakan pengalaman yang sangat membuka mata atas kekuatan sinema, di mana Peter Chan dirasakannya seperti seorang dosen, sementara berada di samping para pembuat dan pelaku film dari berbagai negara, industri dengan latar belakang berbeda membuatnya merasa sangat terhormat dan bersyukur.

Dian juga banyak membagi pengalamannya berperan sebagai produser dalam film terbarunya yang akan hadir tahun depan, Guru-Guru Gokil. Di tengah banyaknya pelaku industri film yang berusaha membangun konten kreatif, tak semua yang peduli dengan sisi edukasi dan ingin membahas soal pendidikan. Menurut Dian, pilihannya mengetengahkan soal pendidikan ke dalam film terbaru yang juga ikut diperaninya itu adalah sesuatu yang sangat diperlukan selain juga menjadi kesempatan yang sudah lama ditunggu olehnya.

Dengan perhelatan karpet merah di hari keenam festivalnya sebelum seremoni penghargaan yang dimenangkan oleh film produksi AS Give Me Liberty bersama sejumlah pemenang di kategori lainnya, juga penayangan film penutup I’m Livin’ It karya sutradara Wong Hing-fan yang dibintangi Aaron Kwok dan Miriam Yeung, IFFAM 2019 diakhiri dengan sebuah catatan penting tentang pertukaran budaya dan pengenalan sinema Asia, Tiongkok, dan lokal Macau sendiri sebagai sebuah bentuk keberagaman yang tetap akan dipertahankan di tahun-tahun berikutnya. (*)

Check Also

Ajari Aku Islam, Asli Film Karya Anak Medan

MEDAN, Waspada.co.id – Satu lagi film religi bakal menghiasi perfilman Tanah Air. Dengan mengangkat tema ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.