Blusukan Lagi, Gibran Curhat soal Dinasti Politik di Hadapan Warga

agregasi

SOLO, Waspada.co.id – Bakal Calon Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka mencurahkan perasaan hatinya (Curhat) di hadapan warga saat blusukan di kelurahan Danusuman, Serangan, Solo, Jumat (27/12/2019).

Menurut Gibran, banyak pertanyaan yang ditujukan terhadap dirinya. Mulai dari keseriusannya maju di Pilwalkot ini hingga Dinasti politik.

“Masih banyak warga solo yang bertanya-tanya, Gibran kui asline Sido maju opo ora (Gibran itu aslinya maju apa tidak)..Gibran kui serius opo ora (Gibran itu serius apa tidak), jawabannya maju dan serius,”jelas Gibran yang disambut yel-yel Solo Satu dari warga, Jumat (27/12/2019).

Tak terhenti disitu saja. Gibran pun mengatakan ada yang bertanya pada dirinya kalau PDIP Solo sudah memiliki calon Walikota dan Wakil Walikota.

Menurut Gibran, antara dirinya dengan Purnomo dan Teguh itu saat ini posisinya adalah sama. Yaitu, sama-sama menunggu turunnya surat rekomendasi dari Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Saya jelaskan lagi, pak Purnomo dan pak Teguh, sama posisinya dengan saya. Sama-sama menunggu rekomendasi. Rekomendasinya dari mana,dari pusat. Keputusannya dari Bu Megawati,” terangnya.

Menurut Gibran, keseriusannya maju di Pilwalkot ini tidak perlu diragukan. Semua mekanisme partai sudah dilaluinya. Termasuk fit proper test pun sudah dilaluinya.

“Semua mekanisme partai sudah saya lalui. Tidak ada yang saya lompati. Tidak ada persyaratan yang saya tidak ada lalui, semua sudah sesuai mekanisme,” terangnya.
Yang paling menjengkelkan, ungkap Gibran adalah Dinasti politik. Gibran justru balik bertanya, di bagian mana dinasti politiknya.

Sebab, tidak ada keharusan atau paksaan warga harus memilih dirinya. Dan Gibran pun menyadari, bila dirinya bisa saja kalah dalam pemilihan. Sebab di pesta Demokrasi semuannya bisa saja terjadi.

Dan meskipun ayahnya adalah seorang Presiden, ayahnya tidak pernah mengeluarkan kebijakan bila untuk Walikota Solo adalah dirinya.

“Saya jelaskan lagi, dinastinya sebelah mana. Saya ini bisa dipilih bisa tidak. Bisa dicoblos bisa tidak, tidak ada yang mengharuskan untuk mencoblos saya. Tidak ada yang mengharuskan memilih saya. Saya itu masih bisa kalah bisa menang. Saya itu tidak dipilih, saya itu ikut konstestasi,” jelasnya.

“Meskipun bapak saya itu Presiden, tidak pernah bapak saya menunjuk ini saja yang jadi Walikota Solo, tidak seperti itu nanti ada proses pemilihannya. Bisa di coblos, bisa tidak tidak,” imbuhnya.