Batubara Punya Warisan Sejarah Perang Dunia II

WOL Photo

LIMAPULUH, Waspada.co.id – Tidak semua kabupaten di Indonesia memiliki arti penting dan strategis pada Perang Dunia II seperti halnya Batubara. Pantai Perupuk Batubara pada Maret 1942 menjadi tempat pendaratan pertama pasukan Jepang di Sumatera Utara.

Hal tersebut dikatakan Bupati Batubara, Ir H Zahir MAP, dalam sambutannya pada peresmian Kampung Jepang di Pantai Sejarah Kerupuk, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Kabupaten Batubara, Senin (9/12).

“Tempat pendaratan itu oleh masyarakat dinamakan sebagai Pantai Sejarah dan sampai saat ini ditemukan tujuh bunker pasukan Jepang. Satu di antaranya masih dalam kondisi utuh,” ujar Zahir.

Menurut Dr Ichwan Azhari selaku Dosen Sejarawan Universitas Negeri Medan, ditetapkannya Desa Perupuk sebagai lokasi pendaratan pasukan Jepang memperlihatkan strategisnya kawasan ini sebagai pusat ekspansi militer pada Perang Dunia II.

Ichwan mengatakan data intelijen Jepang memperlihatkan Pantai Tanjungtiram cukup dalam untuk bersandarnya kapal perang menurunkan pasukan ke pesisir pantai. Selain itu, kawasan ini memiliki pantai pasir putih yang baik untuk pendaratan pasukan marinir Jepang.

Advertisement

“Bahkan kedalaman laut Tanjungtiram ini kemudian digunakan Jepang menyandarkan kapal besar hasil pampasan perang milik Belanda. Kapal dimaksud adalah Van Waewirjk buatan tahun 1910 berbobot 3000 ton. Kapal berbendera Belanda itu diganti dengan bendera Jepang dan diberi nama Jepang Harukiku Maru,” beber Ichwan.

Kapal Harukiku Maru ini membawa karet dan hasil bumi Batubara untuk diekspor bagi dana Jepang dalam Perang Dunia II di Sumatera. Kapal malang ini ditorpedo sekutu Belanda, yakni kapal selam Inggris bernama HMS Truculent pada 22 Juni 1944. Bangkai kapalnya masih ada di perairan Tanjungtiram dan pernah diteliti oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara.

Plt Kadisdik Kabupaten Batubara, Ilyas Sitorus, mengatakan bahwa Bupati Zahir ingin mencari inspirasi dari warisan sejarah Perang Dunia II ini bagi pembangunan Batubara dalam arti luas. Maka diinstruksikan pembuatan replika kapal dipamerkan di Museum Batubara melalui Dinas Pendidikan.

“Tujuan pembuatan replika ini sebagai ingatan atau memori sejarah adanya situs Perang Dunia di sini dan bahan pembelajaran sejarah nantinya. Replika kapal ini juga bukti Batubara pernah menjadi basis ekonomi Perang Dunia II yang memperlihatkan bahwa Batubara merupakan daerah yang memiliki hasil bumi yang kaya,” ucap Ncekli, sapaan akrab Ilyas.

Selanjutnya, Bupati Batubara berinisiatif meresmikan Kampung Jepang di Pantai Sejarah Perupuk pada Senin (9/12). Ilyas menyebutkan ini merupakan ide cerdas menghubungkan wisata milineal dengan warisan sejarah Batubara. (wol/aa/data3)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL