PDIP Tolak Wacana ASN Kerja di Rumah

twitter

JAKARTA, Waspada.co.id – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menolak wacana Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diperbolehkan bekerja dari rumah. Partai berlogo banteng itu berpendapat pelayanan terhadap publik tidak akan berjalan efektif jika ASN bekerja dari rumah.

“Karena tugasnya melayani rakyat, kalau dia kerja di rumah bagaimana rakyat harus dilayani?” kata Sekretaris Jendral (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto, di Jakarta, baru-baru ini.

Hasto mengungkapkan tidak tepat bagi ASN untuk bekerja dari rumah. ASN, lanjutnya, memerlukan sebuah tempat kerja yang sudah ditentukan oleh negara. Disebutkan, ASN memiliki ruang lingkup pekerjaan yang berbeda dengan pegawai swasta.

“Ya (tidak tepat) karena ASN. Kalau itu swasta dimungkinkan (bekerja dari rumah),” kata mantan Sekretaris Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin tersebut.

Meski demikian, Hasto mengatakan bahwa ASN bisa bekerja dari rumah itu baru sebatas wacana publik. Dikatakan, pemerintah masih harus mengkaji dan untuk melihat workspace itu mengalami perubahan.

“Karena apapun sebagai aparatur sipil negara itu harus ada kejelasan terhadap domisili kerja,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Manoarfa mengatakan pihaknya sedang menyusun skema kerja PNS tidak perlu “ngantor”. Artinya, pekerjaan ASN akan lebih fleksibel dilakukan tanpa ke kantor asal bisa menyelesaikan pekerjaannya.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB), Tjahjo Kumolo, mendukung ide pelaksanaan ASN dapat bekerja dari rumah. Kendati, Tjahjo mengaku belum akan berkomentar lebih jauh target pekerjaan yang dilakukan dari rumah tersebut.

Namun, Tjahjo mengatakan aturan bekerja di rumah harus disusun secara hati-hati karena terkait mental dan kebiasaan orang. Bappenas, menurutnya, juga tidak harus komunikasi dengan Kemenpan RB karena masing-masing instansi punya kebijakan masing-masing.(wol/aa/republika/data2)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL