_
Home / Warta / Mancanegara / Kalah dari Filipina di Mahkamah Abitrase, China Hadiri KTT ASEAN Demi Ajak Damai Soal Laut China Selatan
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang (AP PHoto)

Kalah dari Filipina di Mahkamah Abitrase, China Hadiri KTT ASEAN Demi Ajak Damai Soal Laut China Selatan

BANGKOK, Waspada.co.id – China mengaku siap bekerja dengan negara-negara Asia Tenggara untuk menjaga perdamaian dan stabilitas jangka panjang di Laut China Selatan, kata Perdana Menteri China Li Keqiang pada hari Minggu (3/11).

Hal tersebut diungkapkan setelah ia bertemu dengan para pemimpin dari Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Klaim laut China yang menyapu di Laut Cina Selatan ditolak oleh beberapa anggota ASEAN.

Pada KTT di Bangkok, Li mengutip kemajuan pada kode etik (code of conduct) di Laut China Selatan yang telah lama ditunggu. Kode etik ini diharapkan akan selesai dalam waktu tiga tahun.

“Kami bersedia bekerja sama dengan ASEAN, di bawah konsensus yang telah dicapai, untuk mempertahankan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di Laut China Selatan, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan selama tiga tahun,” kata Li dalam sebuah pernyataan.

Kode etik yang mengikat secara hukum telah lama menjadi tujuan bagi anggota ASEAN. Mereka melihat China mengabaikan hak berdaulat dan menghambat eksplorasi energi dan penangkapan ikan.

China memang mengklaim hampir 90 persen wilayah di Laut China Selatan yang tumpang tindih dengan daerah kekuasaan negara lain, termasuk Filipina.

Filipina di bawah komando pendahulu Duterte, Benigno Aquino, lantas mengajukan tuntutan ke PCA atas klaim China di LCS tersebut.

PCA akhirnya memenangkan Filipina dalam kasus ini melalui keputusan yang diumumkan pada 2016, tak lama setelah Duterte dilantik. China menolak keputusan tersebut, bahkan tidak menganggap keberadaan PCA.

Dan agustus lalu, Presiden Xi Jinping sempat menekankan penolakan China atas keputusan Mahkamah Arbitrase Antarabangsa (PCA) yang memenangkan Filipina dalam kasus sengketa kedua negara di LCS.

Sementara, di awal masa pemerintahannya, Duterte mengubah haluan negaranya menjauh dari Amerika Serikat dan mendekatkan diri ke China. Pada 2016, Duterte pun tak terlalu mempermasalahkan penolakan China.

Namun belakangan, Duterte mulai menunjukkan gelagat menjauh dari China dengan menantang berbagai keputusan Beijing di LCS. (voa)

Check Also

Update: Belum Sebulan Korban Meninggal Virus Corona Capai 2.345 Jiwa

HUBEI, Waspada.co.id – Total korban jiwa akibat wabah virus corona (Covid-19) mencapai 2.345 orang pada ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.