_
Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Gus Irawan: Selamatkan Sawit Indonesia
foto: istimewa

Gus Irawan: Selamatkan Sawit Indonesia

JAKARTA, Waspada.co.id – Produk kelapa sawit Indonesia kembali mendapat ganjalan di Eropa. Setidaknya ada sembilan alasan yang disampaikan negara-negara Eropa ke Indonesia sehingga mereka menaikkan bea masuk antara 8 hingga 18 persen.

“Setelah kita analisis, apa pun alasan itu ternyata tidak masuk akal,” kata Gus Irawan Pasaribu kepada wartawan di Jakarta, baru-baru ini.

“Pekan lalu, saya memang menjadi narasumber pada salah satu stasiun televisi swasta tentang industri sawit ke depan. Sebagai gambaran awal, kita harus pahami bahwa produksi kelapa sawit Indonesia adalah sumber devisa terbesar dibanding produk tanaman lain,” katanya.

“Dari data yang saya kutip, hasil riset Perkumpulan Prakarsa menyebutkan, minyak sawit menjadi komoditas penyumbang ekspor terbesar di Indonesia kurun 1989-2017, dengan rata-rata pertumbuhan nilai ekspor minyak sawit per tahun mencapai 2.728 persen,” jelasnya.

Produktivitas kelapa sawit lebih tinggi dibanding jenis tanaman lain dalam menghasilkan minyak nabati. Tingkat produksi minyak sawit mencapai 3,6 ton per hektar per tahun untuk periode 1970-2017.

Saat ini, produksi CPO Indonesia sebesar 44 juta ton sampai dengan 46 juta ton per tahun, dengan luas lahan sebesar 14 juta hektare. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperkirakan produksi sawit akan mencapai 51,7 juta ton pada 2025.

Sementara saat ini produksi itu dihambat Uni Eropa dengan berbagai macam alasan termasuk isu lingkungan. Sebetulnya, bagi saya apa yang dilakukan Eropa hanya mencari-cari alasan disamping memang diplomasi pemerintah yang lemah.

Semua alasan Eropa mengada-ada. Tapi apa pun itu, faktanya mereka sudah mengenakan bea masuk sampai 18 persen terhadap sawit Indonesia. Kebijakan ini sama saja dengan membunuh produk dan petani sawit kita.

Dengan bea masuk sebesar itu, produk sawit Indonesia tak bisa bersaing di dunia luar. “Yang ingin saya katakan adalah dengan kondisi kita sekarang harus ada terobosan tidak perlu lagi bergantung pada dunia luar terlalu kuat. Dunia ini besar, jika Uni Eropa membuat aturan begitu kita harus cari jalan keluar.”

“Sebab jika kebijakan mereka berlanjut dan pasar produk sawit kita dihambat, yang akan terjadi adalahover supply. Kita harus mengambil hikmah dari kejadian ini. Ada beberapa hal yang patut jadi perhatian. Pertama mari kita lihat soal negara ini yang masih net impotir bahan bakar minyak (bbm). Setengahnya kita produksi dalam negeri, setengah lagi diimpor,” katanya.(wol/min/data2)

Editor: Agus Utama

Check Also

Wakil Ketua Komisi VII: BKPM Tak Boleh Patok Harga Nikel

JAKARTA, Waspada.co.id – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai penentuan harga bijih mentah (ore) nikel yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.