_
Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Gus Irawan Prihatin Harga Sawit Rakyat Rendah
Ilustrasi (ist)

Gus Irawan Prihatin Harga Sawit Rakyat Rendah

JAKARTA, Waspada.co.id – Anggota DPR RI asal Sumut Gus Irawan Pasaribu yang masuk periode kedua di senawan mengungkapkan hadangan kebijakan terhadap sawit Indonesia akan berdampak ke Sumatera Utara.

“Yang membuat saya miris adalah imbas itu sampai ke Sumatera Utara. Ketika masa reses saya selalu datang ke daerah-daerah pemilihan,” kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI yang membidangi energi dan lingkungan hidup itu kepada wartawan di Jakarta, belum lama ini.

“Berkunjung dan berinteraksi dengan masyarakat. Tiba masanya saya berjumpa dengan para petani penghasil kelapa sawit di wilayah Labuhan Batu, keluhan mereka cukup kompleks. Yang paling sering saya dengar beberapa waktu belakangan adalah harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani yang terus merosot,” jelasnya.

Mereka hampir kehilangan gairah. Belum lagi kita berhadapan dengan hadangan internasional terutama dari Eropa. Di sisi lain, saya mengakui bahwa lahan pertanian sawit rakyat yang sekarang dengan proporsi 43 persen akan hilang. Lama-lama mereka beranggapan bahwa menanam sawit sudah bukan lagi sumber penghasilan utama.

“Dalam melihat problem sawit Indonesia kita harus tunjukkan perbedaan antara pengelolaan korporasi dengan milik rakyat biasa. Korporasi pasti sudah punya rencana jangka panjang, jangka pendek hingga ke peremajaan dan perluasan. Bagi petani sawit rakyat, mereka harus bertahan sendiri,” kata Gus Irawan Pasaribu

“Sebab selama ini sawitlah yang menjadi sumber utama penghasilan keluarga, termasuk untuk menyekolahkan anak-anak. Dari situlah semua menjadi sumber penghidupan. Ketika ada penurunan harga dan kampanye negatif, tentu sangat memukul mereka,” tegasnya.

Lalu di sisi lain sebenarnya ada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang selalu melakukan pungutan tehadap hasil perkebunan tersebut. Tujuan mereka setahu saya adalah untuk stabilisasi harga dan peremajaan sawit. Kehadiran badan ini sebenarnya menjadi begitu penting terutama untuk petani sawit skala kecil.

Sebab, umumnya petani kecil pasti tak akan mampu menyisihkan penghasilan mereka setelah usia kebun mencapai 25 tahun. Bagaimana mereka akan melakukan peremajaan, sementara selama ini mereka menggantungkan hidup dari sawit untuk kebutuhan sehari-hari, jelasnya..

Kondisi inilah yang harusnya menjadi dorongan bagi badan ini untuk turut membantu petani sawit. “Tapi sejujurnya saya di Komisi VII DPR-RI tak begitu jelas peran badan ini dalam mendorong dan membantu petani sawit. Selama ini mereka sudah melakukan pungutan ekspor atas hasil sawit,” ungkapnya. (wol/min/data2)

Editor: Agus Utama

Check Also

Gus Irawan Tetap Duduk di Komisi VII DPR RI

JAKARTA, Waspada.co.id – Anggota DPR-RI Gus Irawan Pasaribu asal daerah pemilihan Sumut tetap duduk di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.